Friday, 1 May 2015

Pelanggaran Peraturan: Sebuah Tinjauan

Saya ingin membicarakan mengenai kesadaran. conscience. standar moral memang tidak pernah benar-benar diajarkan secara formal di negara kita. kita belajar PPKn untuk mengetahui ha yang baik dan tidak baik dalam berwarga negara. setidaknya, saya tahu kita dididik (secara formal melalui teks dan ruangan kelas) untuk berbuat apa, walaupun dunia nyata sering tak konsisten tentang hal itu.

lalu untuk apa kita diajarkan? ketika lingkungan sebagai tempat aplikasi keilmuan malah menunjukkan standar moral yang jauh lebih rendah. buat apa buku PPKn mengajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya lalu kita melihat ibu-ibu buang sampah seenaknya di jalanan? terlebih lagi, setelah ada kejadian itu, menurut buku PPKn, kita harus 'menegurnya'. Namun, apakah kita menegurnya?

begitu pula mengenai fenomena-fenomena tak waras ini:
sepeda motor yang melawan arah
sepeda motor yang naik trotoar
orang yang merokok di fasilitas umum
orang yang menyelak antrian
mobil pribadi yang masuk jalur trans jakarta

apakah kita bersuara untuk melawan para pelanggar tersebut? rasanya otak 'ketimuran kita sudah ter-set untuk tidak menegur, melawan, atau bahkan melaporkan pelanggar hukum tersebut. rasanya raa segan terhadap mayoritas menciutkan keinginan kita untuk meluruskan sesuatu yang salah. di komunitas yang menganggap hal salah sebagai 'kebenaran' datau 'kewajaran', mental 'ramah' kita akan mengalami kesulitan untuk melawan. Itu juga terjadi pada saya dalam beberapa kasus.

Saya bukan ahli sosiologi, antropologi, maupun psikologi. namun saya ingin mencari penjelasan rasional kenapa mental takut untuk memperjuangkan kebenaran ini terjadi.

Historis: penciutan moral sejak penjajahan dan raja-raja feodal.

Sebagai pseudo-akademisi (saya menyebut diri saya seperti itu), saya skeptis untuk berpikir bahwa segala hal 'exogenous' atau 'given' atau ditakdirkan, apalagi dengan hal yang berhubungan dengan perilaku sosial. karena perilaku masyarakat adalah eksistensi dari suatu nilai, dan nilai tersebut telah mengalami 'seleksi alam' sedemikian lamanya, maka saya percaya bahwa sejarah membentuknya.

awal peradaban sejarah di Indonesia adalah kerajaan Hindu-Budha, lalu kerajaan Islam, dan masuknya kolonialisme. Dalam kerajaan Hindu-Budha, tentu feodalisme terjadi (bahkan di belahan dunia manapun saat itu). dalam Hindu, bahkan orang bisa terlahir dengan status sosial yang rendah (dalam kasta), saya kurang tahu dengan Budha. feodalisme menciptakan mentalitas bahwa orang dengan status sosial yang tinggi akan memiliki privilege yang lebih besar dibanding yang lainnya.

Masuknya kerajaan Islam juga bukannya benar-benar menghilangkan hal itu. Menurut saya, bentuk peerintahan speerti kerajaan akan terus menghidupkan startifikasi sosial. pun nilai Islam yang dibawa Nabi Muhammad seperti kesetaraan hak (demokrasi), tidak benar-benar bisa diterapkan setelah nabi meninggal. Apalagi satu millenium setelahnya. Kerajaan tetap lah kerajaan. Raja dipuja sebagai 'orang istimewa' dengan gelar-gelar yang luar biasa. Sebutan seperti 'Hamengku Buwono' sedikit banyak memperlihatkan bahwa raja adalah 'pemangku bumi'. Selama dalam sistem ini, saya yakin 90% manusia di kerajaan adalah 'rakyat' dan memiliki privilege lebih sedikit daripada royal maupun pejabat publik. Mereka yang di bawah ini harus menunduk ketika berpapasan dengan mereka yang mulia.

masuknya bangsa Eropa tak memperbaiki ini (tentu saja). Acemoglu dan Robinson dalam Why Nations Fail (2012) menyebutkan masuknya kolonialisme (dominasi Belanda) telah melenyapkan harapan bagi Indonesia untuk berkembang dalam proses alamiah mencari institusi terbaik. Kedatangan Belanda dalam menerapkan institusi ekstraktif hanya menyedot kekayaan komoditas dari Indonesia untuk dijual di luar dan rendahnya transfer pendidikan membuat kita tidak punya kesempatan untuk mempertajam institusi. Selama dalam penajajahan, rakyat jelata menjadi masyarakat kelas tiga, setelah orang Belanda dan priyayi, Indo (keturunan) dan Tionghoa. Mental kita adalah tunduk kepada yang lebih tinggi, tanpa syarat. sampai kemerdekaan, rakyat pribumi tidak punya hak yang setara dengan orang Belanda di tanah airnya sendiri.

Kemerdekaan hingga reformasi: Pasang surut mentalitas

Kemerdekaan yang dipimpin Sukarno sejujurnya adalah breakthrough bagi mentalitas bangsa. Sukarno adalah seorang Jawa Timur yang tegas dan memilki visi untuk membangun karakter (character building) bangsa. Ini terlihat ketika ia ingin kesetaraan bangsa terhadap bangsa lain. Menggunakan pakaian mewah untuk menunjukkan wibawa di depan bangsa lain (sementara mungkin 50% rakyatnya saat itu bertelanjang dada), membangun monumen-monumen megah di Jakarta, menyelenggarakan proyek-proyek mercusuar seperti Asian Games dan GANEFO (walaupun dengan perhitungan fiskal yang fatal), bahkan menunjukkan 'keangkuhan' ketika keluar dari PBB ketika konfrontasi dengan Malaysia.

Era demokrasi juga dirasakan ketika politik dijalankan di Era Sukarno. Pemilu demokratis dilakukan. Semua ideologi diakomodasi. Setiap orang berhak bersuara, berhimpun, untuk memperjuangkan apa yang mereka anggap benar. Tingkat partisipasi pemilu saat sangat lah tinggi (90% lebih), bayangkan, itu dengan keterbatasan teknologi informasi, transportasi, dan infrastrutur, tidak seperti sekarang.

Masa Sukarno tentu tidak bersih putih bagai kertas yang kosong. korupsi di segenap elit juga terjadi, bahkan Sukarno sudah mendaulat dirinya sebagai presiden seumur hidup. Tapi tentu sejarah telah mencatat apa yang telah dilakukannya untuk 'mengangkuhkan' diri kita. pidato-pidatonya menyadarkan bahwa tidak ada satu pun yang mampu merendahkan kita. walaupun begitu, saya pun tidak bisa bicara apa-apa mengenai bagaimana hukum sipil dan partisipasi sipil dijalankan dalam bernegara. Misalkan, bisakah saat itu orang biasa yang (misalnya) ditabrak mobil petinggi PNI mendapat keadilan yang sebenar-benarnya? Walaupun melihat dalam film Soe Hok Gie, pembungkaman dan intervensi pemerintah dalam mimbar akademik memang sudah dilakukan.

Orde Baru: Pembungkaman total

Bangsa Indonesia mengalami pembungkaman besar-besaran dalam Orde Baru, sebuah kekuasaan yang dimulai dari militer anti-komunis yang menjalankan politik dengan otoriter. Di sini, mental masyarakat kembali dimundurkan setengah abad. Dominasi militer membuat rakyat sipil adalah masyarakat kelas dua, sementara militer dan kroni Suharto adalah kelas satu (mirip dengan di Korea Utara saat ini). Golkar selalu menang dan wakil rakyat hanya bisa menyanyikan kata setuju. Pemerintah memiliki menteri penerangan yang pada kenyataannya 'menggelapkan'. Tidak semua orang bisa bicara, media disensor dan dibredel, dengan alasan stabilitas politik. Ini juga sejalan dengan tindakan-tindakan stabilitas lainnya seperti penembak misterius (petrus), penculikan tahanan politik.

Di era ini, rakyat hanya diajari menjadi penonton yang baik. mereka hanya melihat bahwa presiden mereka selalu baik, pemerintah mengayomi, segalanya baik-baik saja. Yang saya rasakan saat itu, ketika menonton Seputar Indonesia atau Dunia Dalam Berita, saya cuma melihat berita adalah kecelakaan. No politics substance.

Reformasi: ketika katup dibuka

Hingga terjadi krisis Asia Timur yang menjalar ke Indonesia, yang berujung pada dilengserkannya Suharto. Babak baru yang disebut reformasi membawa optimisme tentang semangat demokratisasi. Era ini cukup memberikan sinyal baik melalui legowonya TNI untuk menghapus dwifungsi, dilindunginya kebebasan pers, dan dimulainya pemilu yang demokratis.

Setiap orang kini berhak bicara. Berhak menunjukkan kesukaan maupun ketidak sukaannya. Bagai keran yang lama ditutup baru dibuka, air memancar dengan sangat deras. Setiap orang berdemo jika tidak suka. semua orang berserikat untuk memperkuat diri. Mereka percaya kini pemerintah bukanlah 'penguasa'. Mereka lah suara-suara rakyat.

Euforia ini berlangsung lama dan membawa seuatu semangat mengenai kebebasan berekspresi, berperilaku, di luar norma-norma biasa. Eksentris, atau menjadi berbeda, sudah tidak menjadi hal yang benar-benar tabu. Namun, sebagaimana para eksentris menjadi minoritas, mayoritas ini masih memiliki karakter permisif warisan. Kecuali di beberapa daerah yang memilki karakter 'penanantang' seperti Medan dan Makassar   

Sementara itu, penegakan hukum masih tidak dapat menunjukkan progres yang menggembirakan. Di beberapa hal, seperti pemberantasan korupsi dan pembenahan institusi memang berprogres positif. Namun hal ini tidak diimbangi oleh reformasi pendidikan yang lebih berorientasi perilaku. Kalau pun terjadi, itu tidak mampu mengubah perilaku masyarakat ini dalam 5-10 tahun. Sementara itu, hukum masih dipersepsikan sebagai pisau yang tajam ke bawah, tumpul ke atas. Aparat penegak hukum belum bisa bekerja dengan bersih dan profesional. beberapa oknum terbukti terlibat tindakan KKN.

'Mixing' kondisi sosial ini menciptakan ruang-ruang bagi pelanggaran bagi mereka yang berpikir reformasi adalah kebebasan tanpa batas. Dimulai ketika seseorang terlalu malas untuk memutar balik ketika memakai sepeda motornya, lalu ia menyusuri pinggiran jalan melawan arah, dengan sedikit 'rasa bersalah' lampu sein ke pinggiran. Semacam isyarat 'tak akan lama lagi belok, santai saja'. Kontrol sosial dari masyarakat yang rendah, bahkan belum teredukasi tentang mana hal salah dan tidak, atau bahkan karena mayoritas pengendara motor itu sendiri adalah masyarakat, membuat hal ini dibiarkan, jadi biasa dalam beberapa tahun terakhir ini. tentu murahnya cicilan sepeda motor dan murahnya otak pemakainya juga berkontribusi dalam pelanggaran ini. Juga tidak adanya razia yang serius terhadap pelanggaran ini.

Padahal, saya melihat Indonesia mampu menegaskan suatu peraturan, yang menjadi kultur, jika memang niat. contohnya memasang sabuk pengaman ketika berkendara dengan mobil (tampaknya saya cuma menemukan ini saja).

Sementara itu, pendidikan kurang memanfaatkan jam pelajaran untuk menanamkan kesadaran berwarga negara. termasuk partisipasi publik. Rasa memiliki bahwa negara adalah kita. negara dibangun dari pajak kita. para wakil rakyat adalah pelayan kita. Begitu pula presiden dan menterinya. Maka kita sendiri lah yang memegang kendali moral. PPKn yang seharusnya memiliki waktu cukup banyak untuk membangun sense ini. Saya memimpikan suatu saat setiap anak SD kelas 1 bisa menegur ibu-ibu yang menyerobot antrian dengan kata yang lugas, membuktikan bahwa pendidikan benar-benar sudah berjalan.

Lucunya, ketika negara ini merdeka karena perlawanan, semangat melawan ketidak adilan, saat ini, kita malah senyap terhadap ketidak adilan. Menurut saya, ini bisa merupakan kombiansi dari banyak faktor: (1) warisan feodal yang masih kental, mengakibatkan anak muda tak enakan menegur orang yang lebih tua walaupun salah; (2) kurangnya penekanan terhadap perilaku dalam sistem pendidikan--merupakan proses yang akan butuh waktu lama; (3) rendahnya insentif untuk melaporkan pelanggaran.

Saya rasa yang terakhir cukup menarik, dan belum dijelaskan sejak awal. Selama ini kita melihat di perkotaan orang apatis terhadap pelanggaran jika tidak menjadi objek penderita pertama. Seseorang tak akan marah-marah ketika lihat motor masuk trotoar sebelum dia terluka terserempet motor. padahal, pelanggaran tersebut bisa dibungkam kalau masyarakat mau melaporkannya, dengan catatan, penegak hukum mau menghukum si pelanggar. Pada kenyataannya tidak. Pelihat pelanggaran punya 'opportunity cost' yang terlalu rendah untuk mau turun melaporkan pelanggaran yang dilakukan. Lebih baik lanjut jalan daripada repot-repot menegur, rugi waktu, tenaga. Toh aparat penegak diragukan kredibilitasnya untuk meghentikan itu secara permanen.

Dari sisi penegak hukum juga terjadi masalah yang sama: rendahnya opportunity cost. Kalau penegak hukum tidak diberi insentif tambahan (misalkan semacam tunjangan dinas terhadap suatu operasi penertiban), pelanggaran motor masuk trotoar akan masuk prioritas ke sekian, dengan keterbatasan sumber daya manusia (rasio polisi per penduduk Indonesia tergolong rendah). Penertiban selama ini juga terlihat seperti 'memadamkan api' alih-alih seharusnya 'mencegah kebakaran'. Harus ada yang pengendara motor jatuh dari flyover antasari dulu untuk menjaga ketat flyover dari pengendara motor (pun dari sisi pengendara yang berhenti setelah ada korban). Harus ada korban begal dulu untuk dilakukan partroli rutin keamanan jalan. harus ada pembunuhan di kosan pelacur dulu untuk dilakukan pemeriksaan kost mesum. Yang lucu, sudah ada korban penyeberang sembarangan dan penyalip jalur busway yang meninggal, tapi pelanggaran masih terjadi saja.

So, I even don't know how to tailor the conclusion. Sebagian dari perilaku ini adalah kultur warisan. Sebagian lainnya adalah rendahnya pendidikan (penanaman nilai moral). Sebagian lainnya adalah political-economy. Solusi kebijakan akan sangat bervariasi tergantung seperti apa karakteristik masyarakat, apakah ketertinggalan mereka lebih di pendidikan, kultur, atau insentif. Dan sejujurnya, penentu kebijakan sangat perlu memiliki konsultasi sosiologis dan antropologis mengenai bagaimana cara mengubah suatu kultur buruk, mengingat kompleks dan bervariasi nya masyarakat kita.

sumber foto: foto.metrotvnews.com




 






Saturday, 17 May 2014

politik dan ekonomi: tulisan singkat (II)

setelah tergambar dengan cukup jelas bagaimana politik mampu mengakomodasi suara rakyat, dan memiliki mandat untuk mensejahterakannya, maka otoritas negara untuk kesejahteraan semakin jelas.

Perdagangan adalah keniscayaan
perdagangan sudah terjadi selama ribuan tahun, dan terbukti menjadi bahan bakar bagi perekonomian dan peradaban. kapitalisme telah berjalan dan menghasilkan kehidupan seperti sekarang: tanpa kapitalisme takkan ada penerangan seperti sekarang, umur manusia yang lebih panjang, pesawat terbang, dan tak mungkin bagi orang indonesia mencicipi stroberi dengan harga semurah sekarang. tentu, tanpa kapitalisme juga takkan ada obesitas, zat-zat kimia pada makanan, dan pencemaran air dan udara. dan tentu, tanpa nafsu jahat kapitalisme, voc (belanda) tak akan seniat itu menguasai jalur komoditi rempah Indonesia, melakukan tindakan-tindakan tak manusiawi terhadap rakyat indonesia. hingga beberapa mengklaim negara menjadi maju karena kapitalisme, atau negara pun termiskinkan karena kapitalisme.

Lalu saya memulai dengan pertanyan apakah parameter 'makmur' yang mutlak? saya pribadi berpendapat jika setiap rakyat suatu negara mampu makan dan hidup secara layak, itu cukup makmur namanya. jadi bisa dibilang kemakmuran versi saya adalah rendahnya angka kemiskinan (ya, $1.25 sehari). tak perlu berdebat panjang mengenai standar yang terlalu rendah karena yang saya menempatkan standar kemiskinan pada dasar yang masih dalam jangkauan masyarakat dunia, terutama jika kita menengok ke saudara kita di afrika yang untuk memenuhi $1.25 saja 40-80% rakyatnya saja belum mampu. menaikkan garis kemiskinan hanya akan meng-include mereka yang hanya sedikit di atas garis kemiskinan, dan tidak terlalu berarti banyak dalam perbandingan antar negara. menggunakan GDP per capita akan cukup relevan, jika kita mau mengakui kalau semakin banyak uang yang kita miliki, semakin bahagia kita, karena pilihan konsumsi yang lebih beragam, namun tak memiliki penerjemahan 'status bebas kemiskinan' sebaik poverty-headcount ratio. maka satu hal yang ingin sampaikan: kita akui kalau negara-negara maju (developed countries) memiliki kesejahteraan yang lebih tinggi, dan hidup lebih layak dari negara mana pun.  

fakta yang ingin saya angkat adalah bahwa tak ada satu negara maju pun yang tidak memiliki ketergantungan yang tinggi pada sektor swastanya. negara dengan penghapusan kepemilikan pribadi seperti Soviet dan RRC sebelum 1980-an dan blok komunis lainnya mengalami kehancuran karena rendahnya produktivitas pekerja dengan motivasi rendah, tertutupnya ekonomi hanya terbatas pada blok komunis, dan pengeluaran militer yang menggila. kalau boleh saya bilang, komunisme telah mengingkari fitrah manusia-manusia di negaranya--untuk menjadi yang terbaik di bidangnya, tenpa diatur-atur secara berlebihan. selamatnya RRC dari kehancuran adalah karena perubahan sudut pandang ekonomi tersebut sejak tahun 1980-an yang membuka diri terhadap kapitalisme. karena pertumbuhan ekonomi yang baik bukanlah karena todongan senjata, melainkan kerena insentif untuk memiliki kekayaan dan pengakuan akan hal itu.

dalam ekonomi dengan keterlibatan swasta, setiap orang diberi insentif berupa kesempatan untuk dapat membuat sejahtera dirinya, dimana itu sangat manusiawi, yang juga berarti berusaha sekuat-kuatnya karena akan mendapatkan hasil yang setimpal atas kerja kerasnya. di negara komunis, tidak ada hal tersebut, bahkan otoriterisme malah membawa dalam sistem yang korup dan tidak efisien. peran negara ynag terlalu besar dalam mengatur rakyatnya, sehingga mengakibatkan ketertutupan informasi ke publik juga memperjauh rakyat dan penguasa, membuat penguasa tidak mendengarkan apa yang rakyatnya alami saat itu. kapitalisme yang dikawal dengan demokrasi dan keterbukaan akan menggiring alokasi faktor produksi dalam bentuk paling optimal, karena akan tercipta winner dan loser. pemenang akan produktif di sektor dimana ia unggul, si kalah akan mencari sektor yang mungkin lebih bisa ia kuasai, begitu pula alokasi faktor ekonomi seperti tenaga kerja dan kapital yang akan menuju ke arah yang menghasilkan seuntung-untungnya bagi mereka. demikian bagaimana insentif mengarahkan ekonomi ke optimalitas. kekuasaan negara yang berlebih dalam bisnis, misalkan bumn yang monopolistik akan menutup peluang bisnis yang secara volume mungkin akan berlipat-lipat jika dibuka keran kompetisi.

hal diatas amatlah saya tekankan karena dalam skema pertumbuhan ekonomi yang ingin coba saya jelaskan, peran swasta sangatlah menentukan dan besar, seperti halnya yang terjadi di negara-negara yang mengalami perkembangan cepat seperti cina, korea selatan, hong kong, dan jepang. peran negara juga sangatlah besar, namun lebih untuk menyokong kompetisi dan iklim investasi agar mampu berjalan dengan output yang menguntungkan rakyat sebesar-besarnya. otoritas negara juga berperan sebagai pengontrol fiskal (via pajak dan pengeluaran negara) dan moneter (via kebijakan moneter bank sentral), walaupun bank sentral telah menjadi entitas yang berbeda dengan eksekutif sendiri.

Fiskal dan moneter: otoritas negara yang mutlak 
Otoritas keuangan yang dimiliki oleh sebuah kekuasaan politik adalah fiskal. sedangkan kekuasaan moneter di indonesia (dan negara-negara lain) telah didelegasikan pada otonomi khusus milik bank sentral. namun, sekali lagi, itu baru kekuasaan dalam keuangan. kekuatan politik memiliki otoritas lebih dari sekedar fiskal dan moneter, karena kekuatan inilah yang melegitimasi segala 'mandat rakyat'. kekuatannya bisa menjadi 0 ketika rakyat tak ijinkan, namun menjadi 100 jika rakyat mendukungnya penuh.

Melalui kebijakan fiskal, pemerintah mampu menarik pajak yang tentunya akan dipakai untuk membiayai administrasi negara dalam mendukung perekonomian, sebut saja seperti pengeluaran infrastruktur, belanja pegawai, dan subsidi ekspor.

investasi atas barang publik, yaitu produk yang tidak ingin diproduksi siapapun karena risiko yang terlalu besar atas manfaatnya kepada pemodalnya, contohnya infrastruktur jalan raya, harus diambil alih oleh negara. pasalnya, infrastruktur memegang peranan penting dalam melancarkan setiap aktivitas ekonomi. sebuah perusahaan tempe tak akan mau membangun pabriknya jika akses terhadap bahan baku (kedelai) dan tenaga kerja tidak terkoneksi dengan baik. bahkan jika terkoneksi, tapi dengan keadaan yang kurang baik, perusahaan tersebut masih akan berpikir dua kali karena ongkos produksi akan terlalu tinggi dan tak mampu bersaing dengan perusahaan tempe dari kota sebelah. maka ketiadaan jalan raya menjadi ketiadaan peluang untuk aktivitas ekonomi dan pekerjaan yang lebih luas.

begitu pula dengan belanja pegawai, takkan ada perusahaan manapun yang rela untuk membayar penegak peraturan tanpa adanya timbal balik untuk usahanya. bagaimana otoritas negara mampu dapatkan dana atas itu? tentu dari sebuah hak khusus untuk memunguti sebagian rezeki penikmat ekonomi dalam negara tersebut, yang biasa kita sebut pajak. demikianlah fiskal memutar ekonomi.sederhananya, memungut pajak untuk membiayai pengeluaran negara.

bank sentral memiliki otoritas yang berbeda, yaitu memegang kuasa moneter (suplai uang yang beredar) untuk mampu mengendalikan inflasi dan nilai tukar uang agar kondusif untuk pertumbuhan ekonomi. dalam bentuk yang paling sederhana, kita tak boleh lupa atas ‘kesalahan masa lalu’ yang terjadi di era sukarno, ketika politik sosialis dilakukan tanpa kontrol moneter yang bertanggung jawab. saat itu habisnya anggaran pemerintah karena politik mercusuar dan konfrontasi; malah ditanggapi dengan pencetakan uang yang malah menambah uang yang beredar, dan menciptakan hyperinflation hingga 600% di akhir masa orde lama. krisis moneter 1997 juga menyadarkan bahwasanya kuasa pemerintah dalam bank sentral bisa mengakibatkan penyalahgunaan yang mengakibatkan kerusakan masif dalam ekonomi. demikian, pengaturan masuk dan keluarnya uang dari dan ke masyarakat menjadi hal yang krusial.

bersambung...

Sunday, 4 May 2014

politik dan ekonomi: tulisan singkat (I)

baru beberapa hari lalu saya relakan 300 ribu dari gaji saya untuk membeli buku tentang dasar politik, mungkin sejarah perkembangn politik tepatnya. judulnya 'the politics book'. mahal memang, tapi entah mengapa saya bangga kalau berhasil memenangkan 'willingness to pay' saya terhadap aset intelektual.

sebagai seorang lulusan s-1 teknik, s-2 ekonomi, dan bekerja di tempat yang mengakomodasi interest pengusaha, saya suka tidak suka mendengarkan dalam banyak diskusi betapa pemerintah memegang peranan yang sangat krusial dalam kesejahteraan rakyat, bahkan dengan sebesar-besarnya ekonomi mengandalkan sektor sawasta.

sebagai pengisi trias politica, pemerintah adalah otoritas yang dipercaya rakyat untuk mampu menerjemahkan kebutuhan rakyat dalam undang-undang, menjalankan yang digariskan undang-undang, dan mengadili jika terdapat pelanggaran dalam pelaksanaan. semua dilakukan untuk dapat mensejahterakan rakyat, sebuah janji yang diikrarkan tahun 1945.

saya baru membaca buku itu belum separuhnya, tapi secara mendasar bisa saya ceritakan bagaimana rakyat bisa disejahterakan.

mari kita mulai dari kebutuhan rakyat akan politik. pada dasarnya, manusia memiliki kebutuhan yang mendasar, yaitu menghidupi dirinya sendiri, dan orang yang dicintainya, terutama keluarga. bagaimana manusia ingin memenuhi kebutuhannya terus mengalami evolusi mengenai kompleksitas kebutuhan itu sendiri. semula manusia cukup puas dengan berburu, lalu dirasa lebih aman jika bertani. lalu manusia mampu menciptakan barang dari tembaga, perak, mulai mencintai sesuatu yang berkilau. tak terhindari, sejarah mencatat manusia mengenal diversifikasi keahlian dan perdagangan. manusia tidak lagi mengandalkan sepenuhnya ladang maupun ternak mereka untuk hidup. menurut pandangan saya, dalam bentuk terprimitif kapitalisme adalah ini:
manusia terlahir untuk merdeka dalam mengenali apa yang mereka miliki, untuk mendediksikan hidup di bidang yang mereka sukai, dan mendapatkan pemenuhan kebutuhan yang mereka inginkan.    
lalu, bagaimana manusia kita posisikan semerdeka itu, dan harus kita posisikan semerdeka itu? tanpa perlu kita atur, manusia secara naluri pasti menginginkan hal itu. manusia akan berkelompok untuk memperjuangkan kesamaan-kesamaan yang mereka miliki. dalam bentuk yang sangat sederhana, garis keturunan, dari nenek moyang yang sama, menentukan kesamaan kepentingan mereka, sebagai suatu 'keluarga besar'. mungkin itu lah bentuk nasionalisme paling primitif.

tak perlu terlalu jauh, 'nasionalisme' kesukuan ini lah yang membentuk suatu sistem kemasyarakatan yang terlegitimasi oleh rakyatnya. perbedaan 'nasionalisme' ini tentu akan saling membenturkan kepentingan masing-masing nation untuk memperjuangkan kepentingan mereka. seringkali, urusan ini berakhir dengan usaha pemberangusan satu atau beberapa nation yang mengganggu kepentingan mereka. itulah yang namanya perang.

dalam tinjauan yang lebih mikro, di dalam sebuah bangsa (nation) sendiri, perbedaan kepentingan tentu sudah ada. petani ingin sejahtera, pandai besi, peternak, dan seniman juga. tapi mereka tidak ingin menumpahkan darah mereka karena mereka yakin mereka adalah saudara. lalu berkembanglah ilmu pengelolaan kepentingan, politik. sistem politik diciptakan untuk mengakomodasi kepentingan-kepentingan manusia secara adil dan bisa dipercaya. lalu lahir lah tata kelola yang harus dihormati untuk kesejahteraan bersama, pemerintah.

dalam bentuk awalnya, pemerintah adalah mandat yang diberikan Tuhan atau pun leluhur pada satu orang yang terpilih, the philosopher. mereka adalah raja, kaisar, atau apa pun namanya yang merupakan lambang keadilan dan perjuangan kepentingan rakyatnya. pada keberjalanannya, mengandalakan satu orang dengan kekuasaan mutlak--karena mandat dari Tuhan--menyebabkan banyak kekecewaan karena kekuasaan yang absolut, akan cenderung bias sehingga malah terlihat mendahulukan para elite, mereka yang dekat dengan kekuasaan. lalu bermunculan lah revolusi-revolusi yang ingin merombak sistem monarki ini menjadi republik, sebuah sistem yang memungkinkan siapa pun, terlepas dari garis keturunannya, untuk bisa dipercaya untuk jalankan amanat rakyat. monarki pun mulai mengurangi kekuasaannya menjadi monarki konstitusional, yang lebih kurang menjadikan raja atau ratu sebagai simbol pemersatu bangsa.

sistem pemerintahan mengalami evousi dan cenderung mengalami konvergensi menjadi trias politica  seperti saat ini. ketiga peran tersebut masih dipercaya sebagai yang terbaik untuk mengakomodasi seluruh interest rakyat banyak. lalu bagaimana dengan kemakmuran rakyat? bagaimana dengan usaha meniadakan kelaparan, menyediakan air bersih untuk semua, dan meningkatkan kesehatan umat manusia? apakah benar-benar pemerintah saja yang mampu memenuhi itu?

bersambung















Tuesday, 16 April 2013

kids, april 2013...

august 2006. gku barat, institut teknologi bandung. bandung.

that's my first calculus class and i declared myself as a new me. look back to my highschool past and all that i've got is just one punch to be a better man at college. i got a seat in random chair, looking for someone new to be friend. i got 2 random lads, ujet and lilis. than i claimed them as my 'circle' as i know they're bandungese--that at the time i acknowledge bandungese should be 'rock n roll' mates.

as i am the director of my whole life, i see some 'attention-seeker' (caper) at the class as they're seems like to be make a loud joke to exclaim their 'existence' or just make hot girls chuckle, don't like them. they are timi and iqbal, and one civil student and two ocean eng. student. well i won't be a type that will come to them to be fun and 'accepted' at community. haha shame on man seeking friendship that way. i don't know but anyway we're being a good company day by day.

next days you have a crush with 'that girl' and we bully you for buy the gift (stupid enough for that expensive cat book, ooh), and we celebrate your first-crush-greet in pizza hut. rubbish moment at aum. never forget those fuckin moment when you all manipulate clock to 6 when i've fell asleep only for half hour then i can complete my pre-paper for chemistry practicum within half hour. one of the rarest power of pressure i've got! well a lot of things have passed. pmb 2007, kaderisasi hms, pelantikan. those moment when you're owned by 'them' and we're 'not with you'. oh ya fluid mechanic paper, that make you act like 'near to death to done all of that shit by yourself' and accuse me, timi, and vincen for uncooperative. no worry, we still see that as a joke. same as when you tell us for fell asleep when folding clothes, for a reason to not to come (c'mon, folding clothes!). we're just see that you have 'undefined sense of humour'. we also see how you adore an ex-crush when extremely curse her after fail. alright, all men do. bp 2009, well at least we're (again, not two of us) sleep together and talking trashy thing, men stuffs. smoke. coffee. night. well time flies that you graduated.

we realised how different life after graduate and how important 'career status' that made you dissapear from everyone (you don't need to tell me that your facebook has error, that we've seen that you're deactivated). then you got your dream jobs (perhaps). really happy for that. as we can have free dinner and drink just to bring our boss. and we know how small the money you spent for that, sorry for less appreciate to you, then.

april 2013. so we have known each other for almost 7 years. it's like we're on season 7 for your story tell your kids how you met their mother, end of series. of course you can tell them their uncle rizgan are the most valuable single at the time. sad, but true, their uncle rizgan was not able to come to their parents wedding. but let them know that i really happy for you. it's your happiness anyway but i just want sometimes you know that i'm that happy, mate. happiness is simple, you said.

god bless you two.

canberra, autumn 2013.




Sunday, 31 March 2013

perang korea II?

dalam beberapa jam yang lalu saya melihat berita terbaru di asia timur: korea utara menyatakan diri dalam status perang dengan korea selatan.

sumber korea utara mengatakan mereka akan melawan provokasi amerika serikat yang telah menerbangkan pesawat silumannya melewati langit korea selatan, dalam suatu latihan bersama. mereka juga menerima kode yang berisi rencana penyerangan dan pemusnahan patung kim il sung.

cukup jauh dari perkiraan saya mengenai nasib korea utara suatu saat nanti. kalau trend yang selama ini terjadi di negara komunis, dimana mereka akan 'menyambung hidup' dalam dua jalan: transformasi menuju keterbukaan (seperti kasus rrc dan vietnam, dimana komunisme tinggal menjadi simbol dan nama partai berkuasa), atau runtuh sama sekali (seperti uni soviet). adapun beberapa rezim seperti kuba dan laos tetap bertahan dengan komunismenya dan hidup damai berdampingan dengan negara yang berseberangan ideologi. dalam hal ini korea utara tidak masuk golongan manapun. karena deklarasi mereka itu.

secara singkat, dari artikel wikipedia yang katanya tidak ilmiah (walau saya melihat banyak kutipan dari buku-buku 'serius'), cerita mengenai pemisahan korea utara dan selatan bermula ketika perang dunia 2 berakhir. ketika perang dunia 2, korea adalah jajahan jepang. praktis, ketika jepang menyerah tanpa syarat setelah bom atom, korea harus diserahterimakan ke sekutu, sebagai pemenang perang. masalah terjadi ketika pada akhir perang korea utara dikuasai uni soviet (komunis) dan korea selatan dikuasai amerika serikat (kapitalis), seperti halnya jerman yang terpisah menjadi barat dan timur. pemilihan umum untuk korea (bersatu) gagal, juga dikarenakan ego masing-masing kekuatan politik di masing-masing kubu. korea utara yang merasa harus menaklukan 'saudaranya' dengan melakukan serangan. amerika serikat, yang punya kepentingan untuk melindungi jepang (sebagai basis militer-ekonomi-politiknya di asia pasifik) merasa harus mengintervensi jangan sampai korea selatan jatuh ke komunis. melalui 'mandat' dari pbb (yang sialnya saat itu soviet sedang memboikot pbb, sehingga resolusi untuk meng-sah-kan invasi tidak terveto) amerika serikat dkk mengirim pasukannya ke semenanjung korea.

perang terjadi antara korea utara yang dibantu tentara pembebasan rrc (dan amunisi dari soviet) melawan korea selatan (yang secara persiapan militer kalah, namun menerima 'subsidi' dari as). tidak seperti vietnam (dimana komunis dapat melahap si kapitalis), perang berakhir dengan 'remis' dimana pada akhirnya keduanya melakukan gencatan senjata dan membangun dmz (de-military zone) sebagai daerah bebas militer selebar 4 km sepanjang perbatasan.

apa yang tersisa?


membandingkan ekonomi kedua negara seperti membandingkan berkendara dengan becak dan ferrari. ekonomi terpusat ala komunisme korea utara tidak membawa peningkatan ekonomi yang signifikan, malah terjadi bencana kelaparan di korut. selain itu ketertutupan dalam perdagangan juga menyengsarakan rakyatnya, dan memaksa mereka untuk berjuang sendiri (seperti iran). sementara itu korea selatan saat ini telah menjadi negara kapitalis maju dengan berjejer perusahaan internasional.

tentu perlambatan perkembangan ekonomi korut juga disebabkan oleh bubarnya uni soviet, penyumbang dana terbesar mereka. hal yang mungkin dirasakan semua negara komunis di 90-an awal. 

karena mereka semula berasal dari negara yang sama, gen yang sama, derita penjajahan yang sama, maka cukup mengagetkan perubahan ekonomi diantara keduanya sangat signifikan. memang, ekonomi kolektif ala mao mengakibatkan stagnansi akut dalam ekonomi, sehingga dulu negara sekomunis cina harus membuka tirainya untuk masuknya modal-modal kapitalis, dan akan melampaui ekonomi amerika serikat dalam beberapa tahun ke depan. sementara itu, mental pekerja keras putra-putri korsel membuahkan hasil manis berupa meningkat pesatnya ekonomi negara itu.

dari sisi korea utara


menonton film-film propaganda korea utara sangatlah menarik. beberapa lucu, namun ada pula yang menyadarkan secara manusiawi mengapa mereka bisa seperti itu.

1. kembali ke sejarah. rakyat korea utara 'memenangi perang' yang setidaknya menunjukkan bahwa 'imperialis' amerika tak mampu bercokol di negaranya. kemenangan mengusir 'penjajah' amerika tentu meyakinkan mereka kalau mereka mampu melawan. mereka begitu sadar bahwa 'imperialis' adalah setan yang harus mereka perangi di dunia. ini berlaku secara universal di setiap negara komunis pada saat usaha kemerdekaannya. belum lagi solidaritas komunis internasional (comintern) yang selalu menunjukkan dukungan untuk setiap bangsa melepaskan diri dari belenggu penjajahan.

2. saya yakin kalau bapak bangsa, kim il sung (tidak untuk anak dan cucunya) adalah seorang yang besar bagi rakyatnya, atau mungkin bagi dunia. sukarno adalah salah satu teman dekat kim il sung. ada bunga anggrek bogor pemberian sukarno dan diberi nama kimilsungia sebagai tanda persahabatan. tentu, arah politik sukarno yang kekirian juga merupakan faktor pemersatu mereka, walau sebenarnya mudah saja menjadi kawan dekat sukarno: anti kolonialisme. bukti yang masih terlihat dari persahabatan itu di indonesia mungkin tetap berdirinya kedubes korea utara di indonesia, walau tekanan dunia internasional sedang sedemikian hebatnya ke korut. hal yang tidak dimiliki taiwan dan israel sekalipun.

dan memang kim il sung pantas mendapatkannya. mempertahankan kedaulatan negara, melawan penjajah, dan memenanginya adalah pencapaian yang tidak megherankan untuk diganjar dengan kehormatan abadi, terlebih di negara komunis. adalah hal biasa kultus individu dalam komunisme (seperti soviet ke lenin dan stalin), maka tak heran pula jika kita dari bandara pyongyang dan  menjejakan kaki yang pertama kali dilakukan adalah membeli bunga persembahan untuk 'pemimpin besar' lalu berfoto di depan monumen 'pemimpin besar' (tak boleh ada bagian tubuh pemimpin besar yang terpotong).

3. seperti halnya negara komunis yang 'mutlak', pintu informasi tertutup rapat-rapat dari korea utara. hubungan paling dekat adalah dengan rrc, rusia, dan beberapa negara komunis lainnya. ketertutupan ini yang juga memperkuat doktrinasi dan propaganda pemimpin korea utara terhadap rakyatnya. kultus individu begitu kuat, sehingga tiap pagi mereka mendengarkan melalui pengeras suara seantero kota propaganda untuk pengabdian kepada pemimpin besar, menonton acara tv yang menyiarkan upacara militer korea utara tiap hari, memasang foto kim il sung dan kim jong il di rumah. anak-anak di sekolah ditanamkan kebencian terhadap 'US Imperialist'. dalam beberapa wawancara ke warga korea juga terlihat bagaimana kata 'pemimpi besar' tak pernah terlewatkan oleh mereka. ada suatu dokumentasi ketika donor internasional melakukan operasi katarak massal. dalam satu tayangan ketika mereka semua secara bersama-sama dibuka perban hasil operasinya dan mampu melihat kembali, hal yang pertama kali mereka lakukan adalah sujud-sujud dan menangis histeris ke depan foto 'pemimpin besar', mensyukuri 'karunianya'.

memang sudah pasti ada fear factor yang mendominasi mereka dalam bicara (apalagi ke tv luar), berbuat, dan berinteraksi. sebagai anak yang pernah merasakan jaman suharto saya merasakan itu juga (tentu dalam taraf yang lebih rendah). namun tetap saya terkesima bagaimana mereka begitu lihainya membuat rezim yang 'tidak memberi sedikit pun celah untuk revolusi'. sepengetahuan saya dimana kekuasaan akan berakhir (setidaknya terusik) jika rakyat sudah kelaparan, tidak berlaku disini. yang terjadi (dalam pengakuannya) mereka menerima itu dengan ikhlas dan malah mencari-cari sesuatu untuk dimakan seperti rumput dan daun-daunan. kamp kerja paksa, kemiskinan, diskriminasi keturunan, tentu hal yang menghinggapi mayoritas warga korea utara. banyak diantaranya ingin keluar dan mencari penghidupan yang lebih layak.

4. kombinasi rezim militer yang kuat, dimana pemimpin memberikan 'privilege' kepada petinggi-petinggi militer membuat rezimnya kebal kudeta. ditambah informasi tentang keadaan di luar yang terkunci rapat-rapat, maka rakyat tak punya motivatisi tambahan akan adanya kehidupan yang lebih baik di luar sana, atau bahkan tentang informasi mengenai adanya revolusi melawan diktator di arab sana.

hal ini lah yang menjadikan korea utara tak punya 'bom waktu'. mereka lancar-lancar saja menjalankan dinasti kim. apalagi dengan anggaran militer (termasuk nuklir) yang luar biasa besarnya, yang sangat strategis untuk mempertahankan kekuasaan. mereka labih memilih membeli tank-tank baru daripada memberi makan jutaan rakyatnya yang kelaparan. cukup tidak manusiawi.

dalam beberapa kasus, rezim diktator akan menerima intervensi dari 'demokrasi' (baca: amerika serikat).  memang sudah lewat era 'perang ideologi' seperti di vietnam, atau jika benar g30s/pki ada campur tangan cia disana. beberapa penumbangan rezim pasca-perang dingin, harus memiliki 'nilai tambah' bagi agresor. seperti saddam hussein yang diruntuhkan dengan dalih 'senjata pemusnah masal', dimana kita sama-sama tahu kalau minyak adalah tujuan strategisnya. mungkin amerika tidak melihat manfaat tambahan untuk menginvasi korea utara (sampai saat ini).

5. yang masih jadi pertanyaan besar di kepala saya adalah: ketika kebanyakan diktator di dunia memiliki kecintaan pada zona nyamannya, dalam hal ini bagaimana diktator-diktator tersebut akan tunduk pada superioritas as, atau minimal tidak mengusiknya. hal yang bertentangan terjadi di korea utara. kebencian mereka tidak berkurang sedikitpun setelah perang. secara frontal mereka berani mengucap akan membom atom amerika serikat.

.

memang sulit untuk menebak apa di balik deklarasi perang kim jong un. sebagai 'raja muda'--berusia 28 tahun--mungkin emosinya belum terlalu stabil. mungkin itu emosi sesaat karena tiba-tiba ayah dan kakeknya merasuki mimpinya untuk membujuknya menghancurkan as. atau memang dia sudah menyiapkan sedemikian rupa segala kebutuhan perang, dimana rezim yang didirikan kakeknya tak lain dan tak bukan untuk 'merebut kembali korea selatan ke pangkuan ibu pertiwi'? atau memberi pelajaran untuk amerika?

secara pribadi, saya melihat hal ini seperti bunuh diri. melawan korsel berarti melawan as. melawan superpower militer satu-satunya di planet ini, teknologi militer nomor satu, yang mungkin mampu mengawasi dari satelitnya tentang apa yang dilakukan kim jong un tiap pagi setelah sarapan di halaman istananya. melawan as, berarti melawan partner dagang terbesar rrc, negara yang menghidupi negaranya. posisi rrc akan sulit, walau secara ekonomi mereka bersahabat dengan as, namun secara ideologis mereka adalah abang dari korea utara. yang pasti tidak akan ada lagi people voluntary army yang akan membantu korea utara, seperti pada perang korea beberapa dekade silam. mungkin kebaikan terbesar yang akan cina lakukan adalah memasok senjata dan kendaraan perang, menganggapnya sebagai uji teknologi perang untuk mempersiapkan diri mereka menjadi superpower kedua di abad ini.

perang memang menyakitkan. namun tampaknya memang itu satu-satunya jalan agar kedua korea ini bersatu. baik jika utara menang, atau jika selatan menang. saya pribadi sangat suka kalau mereka bersatu. seperti menyatukan kedua saudara yang hilang selama puluhan tahun. seperti emosionalnya ketika tembok berlin dihancurkan. tapi sebaik-baiknya penyatuan adalah jalan damai. sau hal perlu diingat, kalau korea utara menang, akan lebih menjadi penderitaan bagi korea selatan. sebaliknya, jika korea selatan menang, akan lebih menjadi keselamatan bagi keduanya. parameternya simpel. banyak orang korea utara yang ingin keluar dari negaranya menuju korea selatan, namun sebaliknya tidak ada. cukup jelas untuk menunjukkan negara mana yang lebih dicintai rakyatnya, secara jujur.

dari sudut pandang indonesia, perang korea akan melemahkan ekonomi asia timur pada khususnya, juga dunia pada umumnya. korea selatan adalah salah satu mitra dagang utama indonesia. kondisi perang akan memberikan shock yang secara proporsi sangat signifikan dalam permintaan industri maupun konsumsi korea terhadap produk indonesia, begitupula terhadap impor barang-barang produksi dari korea ke indonesia. 

dan yang paling menakutkan adalah nuklir. saya takut kalau ada bom atom lagi. pembunuhan terhadap jutaan warga tak berdosa dalam satu ledakan adalah definisi nyata tentang setan di dunia. tak termaafkan. cukup amerika serikat saja yang pernah melakukannya.




kim il sung & sukarno

 apa ini? terowongan kereta bawah tanah. dibuat sangat dalam (110 m di bawah tanah) juga sebagai bunker jika ada serangan nuklir


ryugyong hotel, menjulang menembus langit pyongyang. walau tidak rampung 100%




 ya. mereka memakai petugas pengatur lalu lintas, mempunyai spot sendiri di tengah jalan, dan dipayungi. 

 ini contoh foto di depan 'great leader' yang benar


stadion di pyongyang. salah satu budaya komunis yang saya suka adalah acara yang seperti ini. minim teknologi, smua oleh manusia.












Wednesday, 9 January 2013

the bean has spoken

well i get no idea what i want to write here, but, since i see my friends photos on fb that taken place in anomali cafe, i decided to post about coffee.

there's an easy afternoon in a city of jakarta, when some chappies gather for easy talk, easy stories. it's taken hours until i realised some quotes shown at the wall of liberica cafe, the place where we hang-out. there are all quotes about coffee, which the most notable quotes are the ones come from benjamin franklin and napoleon bonaparte. no, i don't remember the quotes.

suddenly i have an idea to look for other quotes about coffee, the precious bean, which i pick the most i like. source: google.com, and don't ask me for the authenticity of the quotes, though. 


coffee and love are best when they are hot.” -- german proverb
“strong coffee, much strong coffee, is what awakens me. coffee gives me warmth, waking, an unusual force and a pain that is not without very great pleasure.” -- napoleon bonaparte, emperor of the french
“I would rather suffer with coffee than be senseless.” -- napoleon bonaparte, emperor of french
“among the numerous luxuries of the table…coffee may be considered as one of the most valuable. It excites cheerfulness without intoxication; and the pleasing flow of spirits which it occasions…is never followed by sadness, languor or debility.” -- benjamin franklin, founding father of usa
“no one can understand the truth until he drinks of coffee’s frothy goodness." -- sheik abd al-qadir, a sufi
“coffee and tobacco are complete repose.” -- turkish proverb
"ah! how sweet coffee tastes!
lovelier than a thousand kisses,
sweeter far than muscatel wine!
i must have my coffee." -- johann sebastian bach, composer
“a mathematician is a device for turning coffee into theorems." -- albert einstein, a genius
“You can’t take the milk back from the coffee.” -- jamaican proverb
"A cup of coffee shared with a friend is happiness tasted and time well spent." - anonym

and this is the most quote i like, actually the conversation between lady astor, british politician, and sir winston churchill, uk prime minister,  “if i were your wife i would put poison in your coffee,” hence his reply was, “if i were your husband i would drink it.”


Wednesday, 19 December 2012

Motorcycle Diaries

bukan, ini bukan post tentang film motorcycle diaries yang menceritakan tentang perjalanan ernesto 'che' guevara, seorang revolusioner kuba. ini tentang sepeda motor dan keseharian kita.

Kilas Balik

sebagai orang yang lahir dan hidup hingga besar di indonesia, saya tahu persis apa itu motor. 'motor' sejujurnya adalah sebutan pendek dari 'sepeda motor', kendaraan sejuta umm--maksud saya ratusan juta umat. 

saya pengguna (baca: bisa mengendarai) motor sejak sma. semacam 'tuntutan profesi' bagi jejaka muda untuk bisa mengendarai sepeda motor saat itu. motor pertama adalah honda karisma. lalu diangkutlah honda karisma itu ke bandung saat saya kuliah di itb. sementara di rumah adik saya dibelikan yamaha vixion, yang saat itu gelombang pertama penjualannya. saya sendiri cukup casual dalam urusan kendaraan, tak peduli model apa selama masih bisa jalan, tak menyusahkan, dan masih dimodalkan orang tua, saya takkan minta macam-macam.

sejak kecil (balita--setidaknya saat saya bisa mengingat apa yang terjadi), ayah saya memiliki mobil, suzuki katana (yang atapnya bocor kalau hujan) saat itu. menaiki motor seseorang selalu jadi kesempatan langka yang tak ingin kulewatkan untuk duduk di depan pengendaranya. ada sensasi berbeda--terutama terpaan angin--saat menaikinya.

sampai saat itu saya merasa tak ada yang salah dengan motor ini.


Saat Ini

sewajarnya barang hasil kapitalisme, motor adalah produk yang akan terus diproduksi selama pendapatan dari penjualannya mampu menutup biaya produksinya. di indonesia, penggunaannya semakin bertambah seiring tingkat kesejahteraan rakyat indonesia yang terus meningkat. pertambahan kelas menengah, kata mereka. sementara itu, proses manufaktur yang semakin ekonomis dan efisien (dengan teknologi dan pembinaan tenaga kerja yang terus berkembang), menciptakan produk dengan cost yang semakin terjangkau. belum lagi kompetisi yang semakin sengit antara komeng dan agnes monica, mengakibatkan perang harga yang terus menguntungkan konsumen. dan jangan lupa kalau kredit motor yang sangat murah memungkinkan hanya dengan setengah juta saja (bisa disisihkan dalam sebulan gaji sebesar umr) kita dapat membawa pulang motor dan menyicil, kalau tidak dikembalikan dlama kondisi kredit macet.

tak ada yang salah dengan mekanisme pasar. mereka yang menghidupi rakyat kita, mereka juga yang menyediakan alat produksi untuk meningkatkan produktivitas rakyat kita. bahkan ketika perkara bagaimana produsen lokal tidak diberi 'napas' untuk berkembang dalam bisnis kita kesampingkan.

kembali ke definisi motor sebagai 'benda', maka kita lah yang mendefinisikannya seperti halnya 'pistol untuk memenangkan perang' atau 'pistol untuk membunuh anak sd tak berdosa', tentu, seperti perumpamaan yang saya ungkapkan, ada peran negara--sebagai otoritas atas segala tindakan kita di bawah kolong langit NKRI--disana. 

sebagai kendaraan pilihan, tak mungkin motor bisa memenangi hati orang indonesia begitu saja. tentu ada hal, baik sistemik maupun insidental yang memberatkan rakyat untuk memilih motor. 

kita tak bisa pungkiri kalau motor sangat fleksibel dalam manuver, memiliki ruang di jalan yang relatif 'negotiable', irit bensin, irit biaya perawatan, tak terlalu bermasalah kalau diserempet sedikit, dan banyak kelebihan lainnya yang tak bisa saya tuliskan satu persatu (life is too short to praise bike). tak ada yang salah sampai--jumlahnya menggila dan tindakannya di jalan semakin semena-mena. 

dari segunung kelebihan motor, tentu motor memiliki kekurangan seperti: jan-ming (hujan minggir--singkatan maksa), menghabiskan waktu dan tenaga untuk produktivitas kerja dan keluarga, serta risiko kecelakaan (dan tak terselamatkan) yang tinggi. saya rasa kekurangan terakhir adalah hal yang harusnya paling disadari, dan sedihnya, paling tidak disadari. 

saya pernah bertanya kepada om saya yang tinggal di singapura, mengenai bermotor di singapura. katanya orang singapura tak banyak yang naik motor bukan karena bensin mahal, harga motol mahal, tapi karena keselamatan yang risikonya tinggi. tentu, kalau kita terapkan peraturan dengan konsekuen (asumsi penegak hukum adil dan tak ada demo vandalis dari teman-teman sekampung si pengendara motor), beberapa kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan motor 'sok jagoan' di jalanan akan mengakibatkan patah tulang untuk pengendara motor, juga kewajiban membayar denda karena mengemudi begajulan, dan kalau tak mampu bayar--penjara. sama halnya dengan korban tabrakan terhadap penyeberang sembarangan, si tertabrak lah yang akan dinyatakan bersalah. maka mengendarai motor dapat dikategorikan 'cari mati'.

sementara itu, yang diberi mandat rakyat untuk mengurusi mereka tak mau serius untuk memanusiakan rakyatnya. dari penulis lahir sampai postingan ini keluar, saya baru melihat jokowi sebagai orang yang mau serius membenahi transportasi massal dalam kapasitasnya sebagai pemimpin daerah. puluhan tahun semenjak kita merdeka kita dididik untuk 'tabah' dalam menjalani kehidupan (juga transportasi massalnya)--alih-alih pemerintah harusnya menyiapkan transportasi massal yang manusiawi dan tepat waktu, minimal terlihat usaha ke arah situ.

dampak ketidakberpihakan (terhadap transportasi massal) ini bercabang menjadi dua, ketika perekonomian maju pesat. yang kaya, membeli mobil, bahkan melebihi jumlah anggota keluarganya plus anjing-anjing peliharaannya. mobil selain menjadi alat transportasi yang nyaman (karena dirawat sendiri), juga menjadi parameter prestise, bagi kelas pucuk piramida maslow ini. sementara itu, yang miskin (dalam standar perekonomian maju), membeli motor, karena secara perhitungan harian bensin Rp. 4500 cukup untuk bolak balik ngantor dibanding naik bus-mikrolet sambung-menyambung. dimodif sedikit knalpot, velg, dan lampunya rasanya juga sudah meningkatkan prestise bagi pemiliknya. itu versi mereka ya, bukan saya. 

walau bercabang dua, keduanya berujung sama, malapetaka. prediksi yang didengungkan sejak beberapa tahun lalu kalau jakarta (asumsi tidak ada penambahan jalan) akan lumpuh total 2014 (cmiiw) memang seakan semakin dekat. saya yakin kota besar lainnya yang walikotanya 'tidur' akan mengalami hal serupa. saya dan papa saya suka mengistilahkannya 'pemerintah tak mampu mengejar kesejahteraan rakyat'. 

sekarang kita kembali fokuskan ke motor. saya pribadi berpikiran kalau ketidaksiapan menghadapi 'bom motor' ini sudah mengorbankan karakter ketimuran kita. dulu pas saya masih kecil saya baca bobo masih sering disinggung kalau orang indonesia ramah-ramah. sekarang? mari kita lihat perilaku bermotor yang saya amati sehari-hari. 

  • berhenti di depan garis lampu merah, yang notabenenya adalah zebra cross untuk menyeberang pejalan kaki, bahkan ada yang jauh ke depan sampai 7 meter di depan zebra cross
  • tidak memakai helm di jalan raya. peci kadang lebih ampuh.
  • memakai bahu jalan untuk melawan arah jalan. sangat. tidak. beradab.
  • memasuki jalur busway
  • knalpot super berisik, bertanggung jawab terhadap gangguan tidur mereka yang bertempat tinggal di pinggir jalan besar.
  • memaksa mengambil jalur arah berlawanan sampai mengakibatkan kendaraan dari jalur berlawanan tak bisa lewat
  • maju sebelum lampu hijau menyala (bahkan masih merah!)
  • menaiki trotoar, sampai mengusir si pengguna sebenarnya, pejalan kaki.
  • tidak menyalakan lampu saat malam.
  • memutar arah sembarangan
rasanya sedikit poin-poin di atas cukup menggambarkan bagaimana tergerusnya karakter kita yang (katanya) ramah itu. rasanya akumulasi himpitan ekonomi, teriknya matahari, dan menjadi mayoritas adalah penyebab 'ganasnya' pengendara motor ini. 

sedikit demi sedikit pun para pengendara motor kian termanjakan dengan 'fleksibilitas mutlak' yang pada akhirnya mematikan akal dan perasaan penggunanya untuk menyerobot hak orang lain dan menganggapnya hal biasa. semakin biasa ketika mereka menjadi mayoritas. polisi pun tak berani menilang. 

dari semua poin di atas, berdasarkan pengamatan seumur hidup, rasanya cuma 'tidak memakai helm' dan 'memutar sembarangan' yang merupakan kebiasaan lama, sisanya adalah 'mutasi genetik' yang terjadi pada gen pengendara motor kita. menjadikannya karakter baru. 

pelanggaran-pelanggaran di atas tentu bukan tidak mendapat tindakan sama sekali dari polisi, sebagai penegak hukum di masyarakat. namun rasanya penegakan yang dilakukan cukup 'setengah hati' (saya sering melihat polisi yang bekerja tidak efisien: tiga orang berdiri saja, melihat, di tengah kemacetan). maksud saya, itu hal kasat mata yang cukup menjustifikasi kalau polisi kita belum total dalam menangani maslaah lalu lintas. dan ketika pelanggaran mendapat excuse waktu ke waktu, maka pelanggaran itu akan menjadi 'hal normal' yang biasa. bahkan non-pelaku bisa saja ikut terbiasa, jika tak terus melawan dalam hatinya, minimal. 



Beralih (Ke) Umum

dengan asumsi manusia sebagai rational agent, sebagai subyek yang secara logika menginginkan hal yang menyenangkan dirinya saja, maka pilihan si manusia untuk memilih berkendara motor adalah utilitas maksimum dari segala kemungkinan moda dan kondisi pembatasnya (waktu tempuh, bensin, penghasilan). sementara dari sisi publik, berkendara motor bukanlah utilitas maksimum bagi efisiensi dan efektivitas perjalanan secara publik, mungkin dalam hal ini diukur dalam jumlah orang yang dipindahkan per satuan waktu. 

maka ketika kita ingin berpihak pada publik (berarti kesampingkan ego pribadi untuk keuntungan yang merata di semua orang), akan didapatkan utilitas individu yang relatif lebih rendah. tetapi secara publik (utilitas total individu-individu) akan lebih menguntungkan. dalam kasus ini, jika para pengendara motor 'tangguh' yang tadinya berebut space kosong antara mobil satu dan mobil lainnya mau beralih ke transportasi umum yang mungkin secara individu akan memperlambat waktu perjalanan dia, maka ke-legowo-annya untuk bertransportasi umum akan mempercepat waktu rata-rata orang lain yang selama ini berkendara umum dan tertutupi oleh kerumunan motor tersebut. sebuah penjelasan secara ekonomi bisa diselidiki via google 'problem of commons'. 

lebih lanjut, jika memang keuntungan publik akan lebih banyak didapatkan jika para pengendara pribadi (mobil dan motor) beralih ke umum, sementara pengendara pribadi, sebagai rational agent memiliki preferensi tersendiri mengenai moda yang paling disukainya, maka tak ada jalan lain selain 'menggembosi' utilitas pribadi tersebut, dan di saat bersamaan menaikkan utilitas kendaraan umum. disinilah 'tangan' pemerintah harusnya bermain, bisa melalui menaikkan harga BBM (menurunkan subsidi), menaikkan pajak kendaraan bermotor, mempertegas hukuman bagi pelanggar, bahkan untuk ekstrimnya, seperti yang teman saya gandrie ceritakan dalam blognya: melarang sama sekali motor masuk kota; sebuah kebijakan di guangzhou, cina. 

sementara itu, menaikkan utilitas kendaraan umum dapat dilakukan dengan memperbarui armada moda jenis lama, menambah fasilitas, menambah armada, menurunkan harga--walaupun dengan tingkat kesejahteraan yang cukup; keinginan untuk membayar warga bisa lebih tinggi sehingga tidak perlu menurunkan harga. dan saya rasa nilai plus dari semua transportasi umum yang baik adalah dua hal: mempersingkat perjalanan dan secara bersamaan memberi kesempatan kita untuk memanfaatkan waktu perjalanan anda untuk hal yang kita sukai. bayangkan kalau kita bisa istirahat lebih lama di rumah dan bisa membaca buku saat di perjalanan. tak ada waktu yang terbuang. 

jika keduanya ('menggembosi' kendaraan pribadi dan 'memoles' kendaraan umum) dilakukan dengan tepat, maka utilitas pengendara pribadi mau tak mau akan bergeser ke utilitas menggunakan kendaraan umum, dimana keputusan untuk menggunakan transportasi umum adalah keputusan yang paling rasional untuk dipilih saat itu. bahasa komersilnya: kita untung, negara untung. 

pun demikian, transformasi yang kita lakukan untuk mempengaruhi orang beralih ke kendaraan umum adalah sesuatu yang 'tangible' atau terlihat, merupakan hal yang cukup mudah untuk dikontrol progresnya. sementara itu transformasi karakter dari karakter 'silakan nilai sendiri dari poin-poin berkendara motor di atas' ke karakter kita semula akan lebih sulit dikontrol karena tidak dapat dilihat kasat mata (intangible) melalui peningkatan penggunaan transportasi umum saja.

pertumbuhan ekonomi memang penting, tapi bukankah keadaban yang mendefinisikan kita sebagai manusia?









(berbagai sumber)





disklaimer:
pengendara motor yang didefinisikan negatif adalah sebagian dari keseluruhan. sedangkan dalam beberapa konteks kalimat merujuk pada keseluruhan pengendara motor.
dan ini adalah blog post, bukan paper ilmiah. 















Sunday, 4 November 2012

Bicara Tentang Bicara

bicara tentang bicara, saya langsung melayang terpikir ibu saya yang dianugerahi tuhan kemampuan berteman yang sangat kuat, terlalu kuat malah. mama (begitu saya memanggilnya) bisa mengajak ngobrol seseorang saat mengantri, walau cuma 5 menit, lalu menjadi akrab seperti tetangga sebelah rumah. mungkin lingkungan masa kecil di cikini yang 'rapat' cukup membentuk mama menjadi orang yang mudah bosan kalau tak bicara barang 15 menit saja. hal yang tak menurun ke ketiga anaknya, sama halnya dengan kemampuan menawarnya yang sadis.

saya sendiri mulai berani 'bicara' saat awal-awal masuk kuliah. dalam suatu resolusi tidak tertulis saya menjadikan momen masuk ITB sebagai momen untuk melakukan beberapa perubahan, diantaranya menjadi lebih 'bicara' dari sebelumnya. hasilnya, saya suka memaksakan memberanikan diri untuk bertanya langsung ke dosen kalkulus, mencoba mengobrol dengan siapapun di sebelah saya saat di travel, bertanya ketika pendidikan unit, sampai bertanya saat presentasi acara di himpunan. suara bergetar dan suara tak keluar itu biasa (ya, seperti geek-geek looser di film-film remaja Amerika yang harus bicara dengan cewek yang mereka sukai).

tapi bukan soal keberanian berbicara yang ingin saya bicarakan. lebih ke kebiasaan berbicara spontan terhadap orang-orang yang tidak kita kenal. saya menyadari, semakin sering berbicara, semakin kita memanusiawikan diri kita, juga membawa orang sekitar kita ke zona manusiawi kita.

saya pribadi juga bukan orang yang memaksakan untuk bicara dengan orang asing. tapi ketika seseorang sudah membuka, saya cenderung akan melanjutkan. mengalir, alami saja. tak perlu dipaksa kalau sedang malas, atau bad mood

yang paling saya suka dari percakapan dengan orang asing adalah ketika saya mengukur pengetahuan saya tentang bidang yang dibidangi lawan bicara saya. mengukur pengetahuan sendiri adalah hal semacam insting yang saya lakukan. juga menjadi kelihatan pintar, adalah hal yang sukai. oh ya, juga mengetes kemampuan humor. saya suka menggali karakter orang lalu menyiapkan humor yang sesuai dengan karakternya. kelihatan rumit dan mempersulit diri sendiri tapi ini saya sukai. 

saya pernah bicara dengan seorang cina (maksudnya keturunan cina) ketika menunggu pesawat yang delay di bandara lampung. dia adalah seorang manajer menengah di suatu perusahaan perkebunan yang tak terlalu besar. dia cerita tentang pekerjaannya, pendidikannya, keluarganya, sampai kekasihnya. dan delay 3 jam saat itu tak berasa. umumnya, dalam percakapan yang hangat, saya akan terhanyut sangat dalam dan mengecek hp adalah hal paling tidak menarik saat itu. yang pasti, saya selalu mendapat hal-hal yang menginspirasi. 'cos there's no exactly same life path everyone has chosen, right? and our life can't be enriched by so many experiences by doing whole of that shit in whole of 24 x 7 daily life. that's what 'sharing' and 'book' are for.

beberapa hari terakhir saya ngobrol cukup lama dengan seorang bapak yang cukup tua. saat itu saya sedang menyalakan rokok di meja makan di kantin kampus dan beliau ijin ikutan duduk di tempat saya lalu langsung bertanya apakah boleh merokok disini. tentu boleh. lihat saja puntung-puntung di tanah, kubilang, itu preseden.

beliau adalah peneliti bebas yang saat itu sedang proyek di LPEM (Lembaga Penelitian Ekonomi Masyarakat) UI--salah satu list tempat yang kemungkinan ingin saya masuki, karena banyak orang-orang yang saya hebat yang keluar dari sana, diantaranya Sri Mulyani, Faisal Basri, dan Chatib Basri. tentu saya menggali banyak tentang lembaga itu darinya; karir, beasiswa, dan hal-hal santai ala bapak-bapak di warung kopi seperti seperti politik, konflik sosial. kebetulan si bapak ini punya latar akademis sosiologi. dan saat itulah saya menyadari kalau regresi-regresi ekonometrik, bahkan yang meliputi masalah sosial, harus mengalami proses analisa sosial, karena analisa sosial lah yang akan mencarikan variabel-variabel eksogen yang ingin dilihat pengaruhnya. analisa soisal lah yang akan menarik kausalitasnya. semacam ditampar untuk tersadar bahwa masih relevannya pengukuran kualitatif, alih-alih saya lebih merasa bahwa pengukuran kuantitatif adalah yang paling akademis.

saya sendiri menilai kalau saya adalah pendengar yang baik. mungkin karena modus ingin menggali karakter itu ya, selain memang saya menjunjung etika. atau mungkin saya sudah melewati 'ujian mendengar' dari masa lalu hahaha (*topik lokal dan terbatas). ketika bicara santai, saya hanya memandang mata lawan bicara saat mendengar. lalu saya mengawangkan mata ketika giliran saya yang bicara. lebih memberi keleluasaan untuk berpikir saja. kecuali dengan orang yang tak biasa, spesial? seperti beberapa minggu lalu.

juga dengan sahabat dekat. walau sebenarnya saya secara prinsip belum punya sahabat. kalau bro ada. sahabat itu seperti orang imajiner yang ada kalau bisa tetap disamping kita disaat kita dalam jatuh sejatuh-jatuhnya. sementara saya tak pernah merasa jatuh separah itu, maka saya masih menganggap itu sebagai orang imajiner yang (belum) ada di dunia ini. tapi untuk beberapa bro saya tentu obrolan-obrolan eksklusif dan mematikan akan menemani waktu yang tak pernah terasa oleh cepat habisnya rokok dan kopi kita.

hey. kapan kita bicara lagi.








Friday, 20 January 2012

Berdaya Bareng-Bareng

Gandaria Tengah, Jakarta. Sekitar jam 10-an siang waktu itu. Akhirnya sampai juga ke tempat perjuangan ini. Ku parkir motor di depan rumah tersebut. Ku masuki rumah itu. Tampak dua orang sedang ngopi dan ngerokok bareng. Tampaknya obrolan serius. Sebagai tamu, saya pasang muka ramah.

"Oiya ada apa mas?"
"Ini sekretariat Faisal Basri?"
"Iya bener mas. Ada yang bisa dibantu mas?"
"Saya mau jadi volunteer."

Sekilas mereka melihatku tampak agak aneh. Selanjutnya mereka menanyakan siapa yang mengajak ke tempat ini, maupun tahu dari mana tempat ini. Saya tak kepikiran ide apapun selain mengatakan apa adanya: saya datang sendiri atas kemauan sendiri. Tak ada ajakan. Tak ada bantuan. Saya cuma melihat adanya aroma kebenaran dalam perjuangan ini.

Figur

Sebelumnya saya tertarik ketika mengikuti perkembangan Faisal Basri, seorang bakal calon gubernur Jakarta melalui jalur independen, dalam twitter @faisalbiem maupun websitenya, http://faisal-biem.com yang membuka pintu lebar-lebar untuk relawan dan donasi suka rela. Saya tak pernah melihat bentuk gerakan politik lebih bersih daripada ini--di Indonesia. Mereka modal niat lalu meminta 'saweran' seikhlasnya dengan memberikan nomor rekening, dan mencari sukarelawan yang mau tidak dibayar untuk bekerja keras. Sebuah gerakan yang mengaku bernama 'gerakan politik' ketika kita semua sudah 'menyerah' terhadap cuci otak realitas dimana 'politik=uang'.

Semboyan tim ini 'Berdaya Bareng-Bareng'. Berdaya bareng-bareng melawan hagemoni partai politik yang dititipkan cukong-cukong serakah. Di sini siapapun bisa menyumbang, berapapun jumlahnya. Mau satu juta, mau seratus ribu, bahkan di sekretariat ada 'kotak amal' untuk yang menyumbang recehan. yang mau jadi sukarelawan tinggal bawa badan. Sekedar kopi/teh dan makan siang siap menyambung semangat. 

Beribu KTP masuk tiap harinya, hasil 'kolekan' dari tiap pos-pos yang tersebar di tiap kelurahan di Jakarta--tanpa 'ongkos pelicin' . Tokoh-tokoh masyarakat silih berganti mengunjungi rumah perjuangan sekedar mengobrol santai menyambung silaturahmi maupun menyatakan dukungan untuk membantu gerakan. Bagiku, sebuah sekolah politik gratis bagi siapapun yang bermimpi tentang berpolitik yang benar.

Tentu saya tak semudah itu merelakan waktu dan tenaga untuk orang yang tak jelas seperti apa dia. saya memang tak mengenal Bang Faisal--sebagaimana dipanggil, tapi era informasi saya rasa cukup untuk melihat bagaimana rekam jejak seseorang. Beliau adalah cucu dari Adam Malik, mantan menteri luar negeri Indonesia era Sukarno. Beliau dosen ekonomi di Universitas Indonesia sekaligus pernah menjadi Sekjen Partai Amanat Nasional saat pertama kali didirikan. Begitu anda membuka websitenya maka anda akan menemukan testimoni tentang bersihnya beliau, dan ketika anda ke rumah perjuangan, anda akan melihat 'orang biasa' yang mampir dan selalu sibuk kedatangan tamu.

Konten 

Tak perlu saya cerita tentang visi dan misinya. semuanya ada di website. secara keseluruhan, programnya adalah program yang berbau kerakyatan. Mulai dari masalah banjir, ruang terbuka hijau, transportasi. Semua berbau 'kebutuhan rakyat' alih-alih biasanya kita melihat 'pembangunan Jakarta yang megah: bangun mall sebanyak-banyaknya'. Sekali lagi, visi misi memang terkadang 'menipu' maka saya sarankan anda melihat jejak rekam seseorang sebelumnya.

Terus terang saya belum benar-benar bekerja di Tim Faisal-Biem ini (Biem adalah bakal calon wakil gubernur beliau, anak Benyamin Suaeb, legenda Betawi--merupakan pengusaha pemilik Ben's FM). Saat pertama kali datang saya ditawari sebagai penggerak mahasiswa--melihat usia saya yang masih muda sehingga saya 'punya tampang' untuk itu--dan masih 'segar' dalam kemahasiswaan. Pernah pula sebagai staf media. Karena saya memiliki keterbatasan ruang dan waktu, mengingat saya ada bisnis di Bandung dan jarak rumah perjuangan yang jauh dari rumah saya.

Saya tinggal di Sawangan, Depok dan bukan warga DKI Jakarta. Karena tak punya suara untuk memilihnya, saya cari cara lain untuk berkontribusi. Dan saya tak sendiri. Rupanya banyak juga yang bukan warga Jakarta, bahkan kerja full-day namun selalu menyempatkan sore hari membantu pekerjaan. hebat.

Keseharian di rumah perjuangan memang tak bisa diprediksi. Begitu dinamis hingga tak ada waktu yang jelas mengenai kapan suatu acara (biasanya kunjungan ke luar maupun orang luar yang bertamu). terkadang sekretariat kosong melompong, tapi yang pasti malam selalu ramai. Belakangan saya tahu sunyinya karena semalaman rapat hingga subuh.  

Wind of Change

Seperti judul lagu Scorpions, Wind of Change, gerakan ini adalah angin perubahan yang mampu mengubah wajah perpolitikan Indonesia hingga 180 derajat. Dari uang segalanya menjadi niat baik yang utama. Dari berhutang pada pemodal menjadi berhutang pada rakyat. Dari disetir parpol menjadi disetir rakyat. Dari tersandera kepentingan menjadi tersandera konstituen.

Dan anda tahu dimana ini terjadi? Jakarta. Ibu kota negara. Kota yang selalu terekspos di headline surat kabar nasional. Kota yang 90 % wajahnya muncul sepanjang hari di TV rumah anda.

Virus ini akan menjalar cepat. Dalam suatu wabah.

Wabah yang akan mengancam kepercayaan terhadap partai politik. Sesuatu yang akan menjadi alternatif pilihan bagi rakyat Indonesia di seberang sana maupun sana, atau mungkin suatu saat jadi satu-satunya pilihan--bagi mereka yang eneg dengan kebusukan partai politik.

Tentu partai politik akan kebakaran jenggot. mereka akan mempersulit jalan ini sebisa mungkin. Mereka akan  menebar paku, membuat portal penghalang, bahkan menyodorkan meriam untuk perjalanan perubahan ini. Namun  tak ada yang perlu ditakuti, ketika rakyat yang mengawal, bukan pengusaha. Dikawal oleh keringat-keringat perjuangan pengumpulan KTP mereka, berhutang pada duit-duit saweran mereka, dan dengan koordinasi yang matang, setengah juta warga Jakarta bukan hal mustahil untuk digerakkan.

Saya tak tahu akan seperti apa nanti jadinya. Tapi skenario yang saya harapkan adalah suatu saat yang terpilih adalah yang menjalankan amanah rakyat, baik independen maupun parpol. Kemenangan independen di ibu kota akan menjadi oto-kritik bagi parpol untuk bertanya pada diri mereka sendiri untuk siapa seharusnya mereka berpihak. Siapapun sudah bosan dengan superioritas parpol yang kerjanya tak lebih dari mengumpulkan kesejahteraan golongan. cih.

Tentu jalan masih panjang. rintangan menghadang. Namun untuk berbuat benar, apa yang ditakutkan?



 Rumah Perjuangan, Tebet Barat 23

Bang Faisal dan Iwan Fals (sumber: faisal-biem.com)




***
jam 7-an semalam begitu sayamembaca twit Bang Faisal tentang keberhasilan tim Faisal-Biem mencapai batas minimum fotocopy KTP dan lembar dukungan sesuai yang disyaratkan untuk menjadi calon gubernur dari jalur independen. saya sms Nurul, teman di rumah perjuangan sekaligus reporter yang selalu mengikuti gerilya Bang Faisal dan Bang Biem, saya ucapkan rasa syukur dan doa untuk melanjutkan perjuangan. Alhamdulillah dia menelpon balik dan mengucapkan terima kasih dan kami saling menyemangati untuk 'revolusi' ini. terasa sangat menghangatkan, mengingat saya sudah lama sekali tak kesana dan masih 'dianggap'. terus berjuang, kawan.