Tuesday, 17 February 2009

Teruntuk kakekku tersayang

bner klo kata org 'kau takkan mengetahui seberapa sayang dirimu terhadap seseorang sampai engkau kehilangan dirinya'

15 februari, sehari setelah hari yg org2 latah sebut sbg 'hari kasih sayang', pukul 9.18, rumah sakit pusat pertamina, jakarta.
kakek saya, syamsul bachri bin asteri wafat.
kakek saya meninggal di usia yg mnurutku 'relatif muda' utk org yg hidup di jaman sinar-x ini, 72 tahun.

saya dikejutkan oleh telepon dari mama utk pulang saat 14 februari, lagi mo sibuk2nya nyiapin artistik bwt civil for society.
akhirnya kuserahkan segalanya ke fajri, beribu terima kasih utkmu jri, atas pertolonganmu disaat diriku meluncur ke jakarta.

sesampainya.
aku tak bisa menahan tangis melihat dirimu kritis tak berdaya,kek. banyak selang di tubuhmu, dan dirimu yg terus mengerang kesakitan, seraya berusaha menyebut kalimat2Nya. Ya Allah, semoga engkau muliakan hambaMu itu. Nenek juga dgn setia menemanimu, mengucapkan kata2 yg suci utk kau ikuti, begitu pula diriku. engkau terlihat begitu lemah, begitu pasrah.

dan hingga akhirnya Sang Khalik, Raja Alam semesta, memanggilmu.

Tersentak kudisadarkan akan mudahnya bagi Tuhan membuat keadaanku seperti itu. dan ketika aku diposisikan seperti itu, tentunya aku akan banyak2 menyebut namaNya bukan?
dan begitu aku sehat, aku akan kembali melupakanMu bukan?

itulah manusia.

Tapi bukan berarti kakekku seperti itu.
beliau adalah seorang yg insya Allah selalu dibimbingNya setiap langkahnya. beliau menghabiskan masa tuanya di masjid, sambil mengisi masa pensiunannya dgn berjualan air minum isi ulang. begitulah beliau apa adanya, menganggap bisnisnya seakan-akan perusahaan besar yg harus dikontrol tiap jam, dan beliaulah CEOnya.
Di masa mudanya, di tengah godaan korupsi di pertamina di kala orde baru, beliau bertahan dengan kejujurannya, sehingga keluarga ibuku berkecukupan apa adanya, tidak kurang, tidak lebih.
beliau begitu hobi mendonorkan darahnya, sampai2 presiden soeharto mengundangnya dan fotonya terpampang di rumahnya sejak aku mengenalnya.
beliau adalah orang yg keras kepala. dan anak2nya terkadang bertengkar dengannya. tapi itulah dinamika kehidupan.
beliau juga pernah khilaf, namun itulah manusia.

terima kasih kek
atas ciuman berkumismu yg membuatku pipiku gatal..
ucapan assalamualaikummu yg khas..
atas hobimu mentraktir jajanan tukang yg lewat depan rumah..
kebiasaan tidurmu bertelanjang dada beralaskan ubin sembari mengipas2 dgn kipas bambu sementara dirimu tertidur lelap--yang selalu membuatku senyum2 sendiri dgn keahlian khususmu ini..
atas semua doa2 ke anak dan cucumu ketika aku berpamitan..
atas semua cerita2 yg kauceritakan..
atas nafkah halalmu yang menghidupkan ibuku dan keluargamu..

aku hanya bisa merelakan kepergianmu, dan menatap masa yg akan datang, mengingat2 memori2 penuh kasih sayang bersamamu, dan berdoa tentunya utk surga yg menunggumu


cucumu yang tercinta,
Muhammad Rizqy Anandhika

No comments: