Saturday, 14 February 2009

oknum2 penoda kebenaran..

kecewa.
sedih.
kasian sama temen2 saya yg berjuang.
tidak diapresiasi.
blom ilang kesel sama tambang, eh si panitia olim bikin tambah kesel.
yah..
medali emas sepak bola kami dianulir.
walaupun kami menang voli juga hari ini..
makasih buat anak mesin yang sportif.

lalu org2 yg bersangkutan dgn keputusan itu dtng ke himpunan
4 orang juri, petinggi2 olimpiade, dan menteri KM di event yg bersangkutan.
menjelaskan semuanya.
dan semakin terlihat bodoh.
peraturan yg dibuat.
segala tindakan kontak fisik yg dilakukan mengakibatkan diskualifikasi.
titik.
aturan yg strict, + juri yg ga pake hati = malapetaka


semua tau klo mereka yg mulai duluan.
semua tau, kami melindungi diri.
terlepas dari segala emosi yg berkecamuk, kami adalah pihak yg diserang.
trus?
klo diserang cukup dgn nangkis?
klo dipukul kabur?
klo ngeliat temen lo yg ngelerai dipukulin dari belakang diem aja?
nunggu dikeroyok sama manusia2 barbar?
kalo mo dibunuh harus bertahan gtu sampe polisi patroli lewat?

Kami sudah mencoba mengontrol massa kami di tengah pertandingan.
dan pertandingan diteruskan..
setelah pertandingan kami diserang..
pukulan terhujam, kami melawan..
itu salah?
kalian bilang itu sudah aturannya,mana detilnya?
kalian bilang itu kesepakatan bersama..
bukankah kami minta diperjelas aturan tersebut sejak dahulu?
atau saran kami tidak perlu didengar?
kalian malas memperjelas peraturan kalian?
pembenaran apa lagi yang anda ingin katakan?
anda hebat, hebat mencari-cari pembenaran.


haruskah begini mahasiswa sekarang?
membuka textbook dan memutuskan hanya dgn akal..
tanpa nurani?
merasa benar tanpa mengetahui secara langsung apa yang terjadi?
yakin dengan info yg klean dapatkan?
yakin tak ada distorsi?
sesuci apa diri anda?
seyakin itukah anda memutuskan?
MENYAMARATAKAN YANG BENAR DAN YANG SALAH?
tak berani mengatakan 'tidak' terhadap suatu kebenaran?
dan saya yakin di hati kecil kalian, kalian tau dimana kebenaran..

telan semua ludahmu..
yang telah ucapkan salam ganesha beratus-ratus kali
pulang ke rumahmu..
mungkin disana engkau nyaman diasuh ibu bapakmu
lupakan temanmu..
karna kau sendiri tidak mengerti arti solidaritas
patuhi aturan manapun..
karna itu jalan yg aman dan 'terlihat' benar

Kami ga butuh medalimu
Kami ga butuh pengakuanmu
Kami memperjuangkan apa yang menurut kami benar.

1 comment:

muhammad rizqy anandhika said...

sabar bos.....

hidup ga selamanya indah....