Wednesday, 22 December 2010

Kau mencela. Kita tua, tapi kita bahagia

ini kudapat dari notes nando di facebook. suatu pagi dia mengetag kami semua dan terbacalah oleh kami semua tulisan ini. ternyata, malam-malamnya langsung diketik apa yang ada di buku angkatan reunian angkatan 1990 ITB. tulisan yang 'tidak biasa' diantara tulisan yang 'biasa' dalam buku angkatan itu.


Hari panas ketika kau berkata, "Aku dari desa. Bajuku hanya dua."

Aku bilang, "Peduli apa. Terus kenapa?"


Karena tak penting lagi apakah kau anak desa, bajumu dua atau tiga, sepatumu bau dan terbuka.

Tak penting lagi apakah kau tidur di mesjid atau numpang di tetangga, sarapan udara dan makan malam seadanya.

Kala kau melangkah ke bumi ganesha dan masuk ke dalam ruangan kelas dinding batu berjendela terbuka, maka kita bersaudara.

Ketika kau duduk bersama-sama di dalam ruang kelas bekas proklamator ternama, seragam putih-putih dasi hitam dengan dada penuh rasa bangga, maka kita satu keluarga.


Hari tetap panas ketika kau berkata, "Aku kehabisan dana. Tak bisa makan apa-apa."

Aku bilang, "Siapa rela? Kujual milikku paling berharga, supaya kau bisa makan dengan lahapnya."


Sebab tak usah lagi kaupikirkan siapa kau, siapa aku, dan siapa teman-teman kita.

Tak usah lagi kau bingung harus berkata apa atau bagaimana harus meminta.

Sebab akan datang suatu masa saat kita tak punya lagi kesempatan bersua.

Sebab akan datang suatu masa saat kita bertambah usia dan akan saling lupa.

Waktu akan lari begitu cepatnya dan menghentikan semua indera kita.

Dan saat itu aku tau kita bersaudara.

Satu keluarga.


Hari masih panas ketika kau berkata, "Aku jatuh cinta. Tapi aku tak punya apa-apa."

Aku bilang, "Sedikitlah menjadi gila. Bawakan coklat dan bunga, dan ini uangnya."


Sebab tak ingin aku duduk melihatmu berduka.

Sebab cinta tak butuh kata-kata.

Kau tahu, sedikit rasa bangga ada di dada saat melihatmu berjalan bersamanya.

Wajahmu bercahaya dan senyummu penuh rasa sukacita.

Coklat dan bunga di dada, membuat kita bersaudara.

Kau menihkahlah dengannya, punya anak beberapa dan berjuang menghadapi dunia.

Kita tetap bersaudara, satu keluarga.


Hari berkeras panas ketika kau berkata, "Aku hanya penjaja. Kau dan mereka VP perusahaan ternama."

Aku bilang, "Kini kau benar-benar sudah gila. Apa sih bedanya kita?"


Sebab jalan kita tak selalu sama dan senada.

Sebab hasil setelah usaha hanyalah milik Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi manajer, VP, mandor atau punya usaha.

Bahkan jika tiba-tiba kau hanya merasa menjadi seorang penjaja.

O, tak bisa kau berkata bahwa kita berbeda.

Tak bisa kau tolak bahwa kita satu keluarga.

Langkahmu macam-macam satu, dua, dan tiga, tapi jangan pernah berkata kita bukan saudara.


Dan hari mulai gerimis ketika kau berkata, "Aku sudah tua. Aku mulai lupa."

Aku bilang, "Kau mencela. Kita tua, tapi kita bahagia."


Sebab keluarga tak hidup sebatang kara. Sebab keluarga sejiwa seraga.

Aku, kau dan teman-teman kita yang pernah duduk di kursi tua bekas proklamator ternama.

Tak ingin aku lupa. Tak ingin aku tua.

Sebab hidup akan penuh warna jika kita bersaudara.

Jika kita satu keluarga.


Hari hujan ketika kau menutup halaman kehidupan.

Aku bilang, "Kau boleh pulang, tapi kenangan tak boleh hilang."


Sampai jumpa kawan lama.

Yang bisa kuberi nanti hanya doa, doa keluarga.


(diambil dari "Mata Rantai Ganesha Buku Angkatan 90itb, FTSP : Teknik Sipil")

Tuesday, 21 December 2010

Kerja:

kamu sekolah yang bener, terus kuliah di PTN favorit, terus kerja di perusahaan bonafid

Perkembangan ekonomi beberapa abad terakhir telah memberikan definisi kerja adalah sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan uang. Sejak TK kita belajar membuat kalimat “Bapak Budi pergi ke kantor” atau saat SD “Ayah bekerja mencari …” yang tentunya jawabannya adalah “uang”. Benarkah kerja, yang sebenarnya sangat berarti luas ini, telah menyempit maknanya menjadi mencari uang.

Dalam suatu malam ketika merayakan dirgahayu kemerdekaan indonesia di kampus, kami anak-anak yang (apapun) kerjanya malam-malam gentayangan di kampus mengadakan perayaan tujuh belasan pukul 00.00 saat 17 agustus. Perayaan dilakukan dengan marching menyanyikan lagu wajib keliling kampus, berorasi di plaza widya, dan menghormati sang saka merah putih di gerbang ganesha. Setelah itu kita kembali ke ‘markas’ dan melingkar, melakukan sebuah diskusi, telaah mendalam terhadap perspektif individu, mengenai apa itu arti kata ‘merdeka’. Dan disinilah seorang kawan berkata. Ketika dahulu seorang temannya berbicara padanya “ cepet lulus, cari kerja, jangan jadi beban negara”, temanku ini tak setuju.

“Memang untuk apa keberadaan negara? untuk membuat rakyatnya bekerja? Untuk memaksa rakyatnya mencari harta sebanyak-banyaknya, meringankan anggaran negara untuk membiayai rakyatnya?”

lantas, apa bedanya negara dengan lahan yang kita kontrakkan untuk menumpang hidup? Untuk bisa bertahan harus membayarnya. Dan itu saja. Tak lebih dari lahan tumpangan, tak ada sesuatu yang ‘lebih’ untuk diperjuangkan daripada sekedar ‘bertahan hidup’.

Lantas, salahkan si bapak-bapak seniman kecapi yang seumur hidupnya digunakan untuk bermain kecapi tanpa pendapatan yang besar, salahkah ulama sebuah pondok pesantren yang kerjanya seumur hidup mendidik santri-santrinya tanpa menghasilkan keuntungan atas pondokannya, atau salahkah seorang penjual nasi goreng yang laku keras enggan membuka cabang dan ingin yang dijualnya tidak bertambah banyak layaknya fastfood luar negeri.

Bukankah manusia diciptakan berbeda-beda sesuai dengan minat dan bakatnya, memiliki akal dan nurani, untuk mampu berbuat lebih dari sekedar binatang? Bukankah uang, semulanya ‘hanyalah’ alat tukar barang satu dengan barang lainnya? Bukankah sebeguna-bergunanya manusia adalah yang mampu berguna bagi orang lain?

Bukankah diatas semua kekayaan dan kekuasaan yang hendak dikuasai manusia, terdapat apa yang disebut sebagai kepuasan batin? Seorang petani di desa terpencil terbebas dari polusi dan akal licik ‘orang kota’ mungkin lebih bahagia dan lega untuk menutup matanya daripada seorang pejabat kaya berkuasa yang punya hutang sana-sini, suap sana-sini, gegap gempita kehidupan?

Saat itulah saya menganggap pekerjaan adalah jalan hidup, bukan cara mencari uang. Pekerjaan adalah sesuatu yang dicintai, membuat dirimu bernafsu, layaknya wanita berdada alami besar berbusana mini namun membuat penasaran. Sesuatu yang takkan bosan-bosannya untuk kau ulik, tak peduli seberapa besar uang yang kau dapatkan, tak peduli seberapa lama kau dibuatnya penasaran.

Seharusnya, pekerjaan adalah alasan untuk apa Tuhan meniupkan ruh kita, menambah satu manusia untuk melengkapi peran yang belum terpenuhi oleh manusia lainnya, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ditanamkan kepadanya.

Seharusnya, gaji adalah motivasi bagi kita untuk melakukan pekerjaan semaksimal mungkin, bukan syarat untuk bekerja/tidak. Bukan sok idealis, tapi coba lihat ke founding fathers negara kita, pejuang-pejuang kemerdekaan kita, pejuang-pejuang diplomasi negara kita dulu, jangankan korupsi, gaji saja mungkin cukup dengan jatah beras sehari.

Seharusnya, seharusnya, ya, hal ideal. Bukan untuk ditelan dan menganggapnya doktrinasi, bagiku, tapi untuk diketahui dan dibenarkan, mau itu langsung, atau perlahan-lahan.

Monday, 13 December 2010

obrolan malam tak berarti

segalanya bermula dari sebuah percakapan santai dengan seorang teman, atau aku lebih suka menyebutnya, kawan seperjuangan. membicarakan apa saja , mulai dari kehidupan hingga selangkangan. lancar bebas, dan satu persatu rahasia yang sampai detik itu disimpan disini lancar keluar begitu saja.

perbincangan kami semakin panas ketika membicarakan suatu keanehan kondisi yang kami satu sama lain tidak menyadari adanya kesamaan perspektif. dulu saya tak menganggapnya berpikir begitu, dulu pun dia tak menganggap diriku sebegitu memperhatikan hal itu. standar orang indonesia yang gak blak-blakan dalam mengajukan ketidaksetujuan. dan satu persatu cerita kami bagikan, mulai dari karakter orang sekitar kita, apa-yang-kita-lakukan-dan-lihat, penyesalan-penyesalan masa lalu maupun masa kini. yeah, kalau saja kutahu ku tak sendiri sejak kemarin, ku tak menjadi anomali bagi yang lain, tentu kucari orang ini untuk berbagi, berbagi beban untuk dipikul tentunya, untuk diangkat ke seberang sungai, setelah itu baru rokok dan kopi panas hingga pagi.

Monday, 22 November 2010

album kuning

saya memiliki sebuah album kuning, kubeli di ganesha stationary, isinya 60 lembar plastik untuk dimasukkan sesuatu. saya menjadikannya 'album kenangan S-1'.

sekarang sudah keisi dengan foto2 kepanitiaan (warsoma class, rakaprakasa, cakru lfm 06, hms 06, bramakarta, petrapijar, bp hms 09, mana ni aparatoriz sama jagaragawi).

isi lainnya adalah segala hal, kucuali yang berhubungan dgn 1 hal: akademik. tulisan-tulisan hms masa lalu yg kupinjam dari weni waktu 'memperdalam sense kemahasiswaan' seperti l'arc n ciel, les heritiers, caraka mangun karsa, kumasukkan.

skrip film TA cakru '28 oktober', juga dengan storyboard ngasalnya, kumasukkan.

tulisanku selama di hms (untungnya masih ada: merdeka?, bos-bis 2006: wisuda on fire bos!!, dan kaderisasi terpusat, pentingkah?) kumasukkan.

trus nemu juga beberapa sertifikat seminar yg kumasukkan. bukan, ini bukan akademik.

bahkan buletin r32 pas jaman kuya pun kumasukkan. waktu yogi jadi bos of the month dgn jawaban2nya yg masih labil. haha.

beberapa jam lalu saya membereskan rak buku, akhir november ini harus cabut dari kamar ini, makanya bisa nemu 'perkakas-perkakas' kemahasiswaan ini. dan entah kenapa, saya akan jauh lebih sedih jika kehilangan album kuning ini dibandingkan dengan ijazah. banyak memori disini, banyak napas yang menghidupkan semangatku untuk ngampus disini. 4/5 hidupku di kampus cukup terekam disini.

jadi, para ST, sudahkah memiliki album kuning klean?

Tuesday, 9 November 2010

Kuangkat ketikan singkatku ke dunia maya: sebuah tulisan di hari merdeka dengan latar merah putih

Berikut adalah tulisan yang kubuat dalam rangka 'mencoba' memaknai kemerdekaan negara kita, Indonesia yang ke 65, Agustus 2010 lalu. kutempel tulisan ini di beton depan student lounge tempat mading HMS, dengan harapan bisa dibaca oleh siapapun yang lewat, mau itu HMS, 2009 yang belum dilantik, atau bahkan dosen-dosen sekalipun. tentu saja satu lagi di papan pengumuman HMS. kuprint dengan background merah putih agar terlihat mencolok, namun kesalnya begitu cepat tulisan ini dicopot terhitung hari ditempelkannya. rendah juga ya budaya apresiasi tulisan kita. padahal pas saya kuya dulu, dipuji-puji sama pengkader waktu bikin tulisan, padahal kayanya dangkal kali tulisannya. oya, saya tak membubuhkan nama pada tulisan ini, cuma tulisan "Seorang HMS", cuma mau menunjukkan eksistensi anak HMS untuk menulis masih ada, bukan berarti massa BP saya lewat, keinginan saya untuk menyuarakan sesuatu sudah hilang. kiranya itu pengantar untuk tulisan ini. silakan dibaca.


Merdeka?

Merdeka. Sejak orok, hingga beranjak sekolah, hingga kuliah sekali pun, ini yang disumpalkan ke kepalaku untuk sekedar mengingat tanggal 17 Agustus sekian puluh tahun yang lalu. Doktrin mentah mentah untuk memercayai bahwa kita 350 tahun dijajah Belanda dan 1/100 lamanya penjajahan Belanda itu kita dijajah Jepang setelahnya. Tanggal 17 Agustus 1945 kita mencuri-curi, membelot, memproklamasikan diri, dan kita merdeka. Kita terbang dengan bebas bagai elang lepas dari sangkarnya.

Kita menggelar perlombaan untuk merayakan kemerdekaan ini. Lompat karung, memasukkan pensil ke botol, dan tentu saja , makan kerupuk. Entah siapa biang kerok atas selebrasi yang merakyat ini, dan apapun filosofi dari permainan ini, yang pasti kita patut berterima kasih karena suasana kehangatan yang dibentuknya adalah cerminan semangat proklamasi.

Upacara bendera adalah rutinitas dengan koar-koar yang tak berubah tiap tahunnya, “perjuangan pahlawan kita saat perang kemerdekaan hendaknya kita lanjutkan dengan mengisi kemerdekaan”.

Lalu alisku mengernyit, otak bertanya-tanya. Mengisi kemerdekaan? Musuh kita siapa sekarang? Tidak, tidak. Jangan kau awab dengan kebodohan, kemiskinan, dan sesuatu yang buruk dengan imbuhan ke-an lainnya. Itu jawaban normatif yang tidak relevan dengan kondisi sekarang.

Memangnya mereka tak tahu apa yang kita dapatkan sekarang? Kami sudah cukup pintar dengan kemampuan akademis kami hingga mampu masuk ke universitas yang katanya menyiapkan pemimpin bangsa ini. Kami cukup beradab dengan sebatang telepon seluler tidak bisa lepas dari tangan kita untuk mengecek dunia maya. Kami cukup makmur bahkan untuk bergerak mencari warung makan pun sulit sementara uang jajan berlimpah dan memesan makan tinggal menelpon. Kami cukup nyaman, betapa nyamannya kosan kami dengan internet dan TV kabel sehingga susah bagi kita untuk beranjak bergerak. Merdeka, tentu saja kalau kau tahu bahwa orang tuaku berkuasa di pemerintah sana sehingga apapun yang kulakukan takkan pernah salah.

Lalu, simpan semua kata-kata bijak itu. Kami sudah dapatkan semua. Tentu saja terima kasih untuk generasi terdahulu karena tanpanya kami tak mungkin seperti ini sekarang.

Ya, itu kami. Sekian persen warga negara ini. Tak dipungkiri, kami beruntung. Sisanya mungkin sial saja. Terasa tak adil tampaknya.

Silakan adukan hal ini ke Tuhan. Mengapa Dia memilih tanah Indonesia sebagai tempat ditiupkannya ruh diri kita. Mengapa kita tidak bebas memilih di negara maju dengan segala keteraturan, kemajuan teknologi, dan pendidikan yang sudah maju. Mengapa bangsa kita harus bersusah-susah bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan negara berkembang—sebuah litotes alih-alih negara miskin—untuk bisa sejajar dengan negara maju tersebut, itupun dengan catatan negara maju lainnya berjalan ditempat.

Mengapa kita tidak bisa memilih untuk nasib kita—akan ibu dan ayah yang kita inginkan. Mengapa harus dilahirkan oleh ibu yang dibesarkan oleh kultur timur yang mengatur-atur ini itu, mengapa harus dibesarkan oleh bapak yang suka memarahi, mengapa tidak semua rengekan kita dikabulkan kedua orang tua kita.

Lalu, ketika aku beranjak dewasa, aku mampu melihat sesuatu yang salah di luar sana, kupertanyakan banyak hal ke Tuhan lagi. Mengapa pemerintahku ini penakut sekali? Mengapa untuk menyuarakan yang benar saja harus berhati-hati karena takut ‘paman dari negeri seberang’ tak suka? Mengapa yang beruang yang berkuasa? Mengapa seorang nenek istri veteran perang kemerdekaan yang miskin lebih terlihat salah dibanding anggota dewan penerima suap sana-sini untuk menutup mata akan pembalakan liar? Ini yang Kau berikan kepada negaraku, Tuhan?

Dan aku sudah menghirup udara negara ini belasan, puluhan tahun lamanya. Dan aku sudah memakan beras dari tanah ini bertahun-tahun lamanya. Air dari mata air dan hujan di bumi tempatku berpijak ini. Ikan-ikan dari luasnya kekayaan laut negara ini. Buah-buahan yang manis beraneka warna dari pohon-pohon yang tumbuh subur. Semua kunikmati dengan panorama indah mulai dari pegunungan, hingga pantai.

Polusi di pagi hari dari knalpot kendaraan bermotor sarapanku. Sampah berserakan di jalan pijakanku. Banjir semata kaki di kala hujan deras bukan hal mencengangkan. Pengemis di tiap perempatan adalah warga negara dengan pencaharian tetap. Berita kriminal di harian murahan adalah fakta yang jarang terangkat.

Dan senyum-senyum mereka. Kehangatan dalam satu keluarga dalam motor berdesakan berpenumpang sepasang suami istri dan tiga anaknya. Keramahan orang di pinggir jalan kalau aku menanyakan alamat. Wajah-wajah lucu anak SD berseragam diantar sekolah. Kesetiakawanan antara aku dan teman-teman. Berbagi ketika salah satu diantara kami sedang senang, dan membagi ketika salah satu diantara kami kena musibah. Rokok dan kopi, dan perbincangan hangat tentang apapun di pagi yang indah.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, ini negaraku, ini bangsaku. Ini tanah ibu menumpahkan darahnya untuk kelahiranku. ini tanah yang telah menyuburkan padi-padi yang telah masuk ke perutku, membuatku tumbuh. Ini sistem yang telah mengajariku ilmu pasti, ilmu sosial hingga mengantarku ke perguruan tinggi. Ini tanah kami berpijak, bermain, tertawa, menangis, memaknai persahabatan. Ini tanah tempat kami beramal dan mendosa. Ini tanah kami memaknai kehidupan. Ini tanah yang membentukku. Ini tanah yang kucintai.

Dan seharusnya, ini tanah yang terus merdeka, sesuai yang kami klaim 65 tahun lalu. karena yang menantukan nasib atas bangsa ini, adalah kami. Bukan bangsa luar sana yang ingin mengeruk kekayaan kami. Bukan bangsa luar sana yang merasa lebih tinggi dari kami. Bukan setidak merdeka ini yang dimaksudkan nenek moyang kami.

Yang beruntung, yang sial, ketika nasib jadi perbandingan. Sesungguhnya kami semua sama saja. Suratan Tuhan tentang ke siapa ruh kami ditiupkan bukan tolok ukur seberharga apa diri kami. Kami satu, satu yang akan melanjutkan. Dan biarkan kami saja yang mengurusnya, biarkan kami yang memperbaikinya, biarkan sejarah menjadi pembelajaran untuk perbaikan yang akan kami lakukan. Beri kesmpatan agar pahlawan-pahlawan yang mendahului kami bangga akan kami.

Hormat untuk bendera merah putih yang berkibar di atas kepala kami. Hormat untuk para pahlawan yang berani ‘menembus’ zona nyaman, zona tertindas. Menggugurkan satu untuk tumbuhkan seribu. Tak ada yang salah dengan bangsa ini, kesamaan nasib dan kesamaan cita-cita dahulu adalah sesuatu yang mulia, dan akan tetap mulia hingga anak cucumu ini.

Dan kami yakin, gen pejuang itu masih di darah kami.

Merdeka!

Seorang HMS

Tuesday, 14 September 2010

Darah Garuda: Sebuah Review--spoiler alert


Bagi penggemar film perang, terutama yang berlatar perang dunia II seperti saya, ada baiknya mencoba untuk menyimak film buatan anak negeri (dengan bantuan bukan anak negeri) yang baru keluar beberapa hari ini, "Darah Garuda".

Dan tentu saja akan ada beberapa tulisan yang berbau spoiler di post ini. kenapa? karena saya sangat malas untuk tidak menumpahkan sekalian apa yang ingin kutumpahkan.

film ini adalah lanjutan dari film "Merah Putih" --yang menurut saya agak mengecewakan, karena atmosfer perang yang biasa-biasa saja, padahal dengar-dengar biaya pembuatan 3 seri film ini menembus milyaran rupiah. namun untuk film "Merah Putih" tak ada hal yang bisa saya acungi jempol.

sesuai dengan film pertamanya, Dayan (orang Bali), Tomas (Sulawesi), Marius (Seorang blasteran belanda-indonesia), dan dipimpin oleh Amir (Jawa). keempatnya adalah lulusan sekolah tentara indonesia yang pada seri pertamanya berhasil memutuskan jalur logistik Belanda dengan meledakkan mobil pembawa tangki bahan bakar Belanda.

Peristiwa ini mengambil waktu di masa pasca kemerdekaan NKRI. dimana saat itu perjuangan 'pengakuan kedaulatan' selain dilakukan dengan jalan diplomasi juga dilakukan dengan jalur militer. saat itu Belanda yang baru saja 'diselamatkan' oleh sekutu dari keganasan NAZI Jerman kembali ke nusantara dengan boncengan sekutu dengan nama KNIL (berdasarkan buku sejarah).

Pendudukan Belanda ini lah yang kemudian menimbulkan perlawanan dari "Tentara Republik" dengan komando tertinggi panglima besar Jenderal Sudirman, dimana pada akhirnya keempat tokoh di atas bergabung dengan pasukan republikan ini. Amir dijadikan Kapten, dan 3 orang lainnya jadi letnan. walau kalau dipikir-pikir pangkat itu tidak terlalu berpengaruh karena sedikitnya prajurit yang mereka pimpin. begitu pula dengan perlengkapannya. namun, pencitraan bagaimana tentara-tentara sukarelawan kita ditampilkan menurutku sudah cukup baik. tentara-tentara berblangkon, tak berbaju dan beralas kaki, maupun cara hormat mereka.

kapten Amir dan bawahannya dimasukkan ke divisi intelijen. nah disinilah kebingungan saya akan maksud dari 'intelijen' dalam film ini. pasalnya, yang mereka lakukan adalah pertempuran open fire, bukan silent operation yang dilakukan dengan hati-hati. bahkan mungkin mereka tidak perlu maju ke medan perang, mereka hanya perlu bermain di balik layar, memasok informasi. dan akhirnya saya tak mau ambil pusing dengan kata 'intelijen' ini.

misi mereka adalah menggagalkan konstruksi lapangan terbang di--suatu tempat di pulau Jawa. lapangan terbang itu sangat strategis bagi Belanda karena inilah yang akan melancarkan misi mereka untuk menguasai udara pulau Jawa. sepintas mirip misi di Paleliu dalam miniseri The Pacific, bedanya disini mereka tidak menguasai, tapi memusnahkan si lapangan terbang.

bagitu banyak skenario-skenario kecil sebelum alur besar cerita ini--menetralkan lapangan terbang. bagaimana si Dayan tertangkap dan disiksa dengan 'siksaan jaman itu'--tang pencungkil--walau di film nasional lain saya pernah melihat tang itu untuk mencabut kuku kaki, di film ini untuk mencabut gigi. cerita lainnya ketika mereka bertemu pasukan Islam yang memaksa mereka mengikutsertakan dinamit peninggalan Belanda untuk 'dikembalikan' ke Belanda. Ada pula cerita tentang pengkhianatan teman mereka yang tertangkap Belanda. yang tentu saja membocorkan informasi rencana pejuang republik ini.

kebocoran ini tentu memicu Belanda untuk menambah armadanya di bandara--dan mengosongkan HQ Belanda. membuka ruang bagi mereka untuk meledakkan HQ Belanda ini. dan efek dominonya setelah peledakan ini tentara-tentara kompeni yang menjaga lapangan terbang berhamburan keluar menuju HQ yang diledakkan. maka sepi lah si lapangan terbang. lalu mereka bisa masuk dengan lebih mudah. entah ini memang misi yang dimaksudkan atau tidak, yang jelas strategi ini cukup simpel dan taktis.

selanjutnya penguasaan lapangan terbang Belanda dilakukan dengan beberapa kebodohan dan mukjizat. kebodohan, contohnya bagaimana mungkin saat keadaan sepi--saat alarm belum dibunyikan mereka cepat-cepat mengambilalih machine gun yang kosong melompong, lalu bagaimana mungkin tentara belanda yang under cover--dibalik sak pasir bisa terbunuh oleh tembakan kapten amir yang berdiri di open field dan dalam jarak yang sangat dekat dengan musuh? dan mukjizat--tentunya saat Tomas mampu melakukan aksi-aksi bagaikan aktor pemeran utama die hard lokal, bagaimana ketiga orang yang bersembunyi dibalik bangunan kayu dan diberondong habis-habisan tidak ada yang mati? Lalu Dayan yang datang saat Kapten Amir sujud untuk siap-siap ditembak? dan Dayan yang baru saja tersadar dari sakit sudah segar bugar bahkan kakinya tertembak dan terseret-serat tanah saat pesawat akan terbang? sebenarnya jika film ini berdasarkan kisah nyata jadi agak konyol jika unsur one-man-show-hero ditonjolkan.

tapi secara keseluruhan, film ini mampus membawakan atmosfer perang yang cukup nikmat dilihat. angle-angle yang ditampilkan sangat 'film-perang', apalagi shot-shot cepat penuh kepanikan ala opening-scene saving private ryan, membawa atmosfer perang senyata-nyatanya.

kualitas gambar baik, editing beberapa bagian kacau, sound sempurna--bahkan dengan detil-detil suara tentara bernyanyi lari-lari pagi. kostum, make up, latar tempat, properti--tidak ada cacat. benar-benar membawa kita ke indonesia di jaman itu. hanya saja tembak-menembak yang terjadi tidak sealami saving private ryan, maupun band of brothers--dimana kematian bisa sespontan bahkan ketika tidak dalam posisi siap menembak pun. dan sayangnya tak ada granat yang digunakan, sehingga tak ada lengan terlempar atau muka hancur penyok karena ledakan.

secara keseluruhan, film ini adalah film militer Indonesia dengan efek dan visual yang paling sempurna yang pernah kutonton. sentuhan 'saving private ryan'-nya tersampaikan. kalau melihat film yang kedua ini maka keraguanku akan diapakan uang milyaran itu terjawab sudah.

hanya saja ada 1 yang masih menggantung. saat kapten amir hendak pamit ke istrinya,istrinya bilang "anak kita laki-laki mas". rupanya dukun melahirkan jaman dulu tidak kalah jago sama USG.

Sunday, 5 September 2010

Kesibukan Saat Ini. Ya, Saat Ini.

rasanya sudah cukup lama saya tak menulis lagi di blog ini. terakhir hari-H wisuda Juli ITB 2010. dan sekarang sudah September. hampir lebaran pula.

dan tak macam-macam, yang akan kutulis adalah segala sesuatu yang saat ini kulakukan. bisa dibilang rutinitas.

saat ini kesibukanku terbagi atas 2 macam. kesibkan yang menyenangkan, dan kesibukan yang menyebalkan.

yang menyebalkan saja dulu. mengerjakan TA yang notabenenya sebenarnya sudah dipermudah si dosen dengan skenario yang tidak mengubah data dan menghabiskan energi, namun selalu terasa berat dan memalaskan. di tengah-tengah aktivitas pengerjaan TA ini muncul ide gila: Saya tak ingin kerja. saya tak ingin berlama-lama jadi kuli di depan komputer, mengerjakan apa yang diperintahkan bos. Atau setidaknya saya langsung jadi bos.

nyatanya, rutinitas yang kujalani benar-benar membalik rutinitas mahasiswa normal yang masih memiliki tanggungan SKS. saya bangun siang hari (kadang-kadang sore) buka puasa, makan berat, dan aktivitas mengerjakan TA baru bisa efektif dikerjakan setelah jam 9 malam. kalau bosan main pimpong di himpunan, atau nonton kuya-kuya 08 membahas kaderisasi. baru bisa tidur setelah sahur, lalu subuh. dan terlelap kembali hingga siang.

kesibukan yang kedua, yang menyenangkan. melihat perkembangan kuya-kuya 07 dan 08 dalam menjalankan roda organisasi selalu menarik. membandingkan dengan apa yang kulakukan dulu, memperbaiki agar yang buruk tidak terulangi, melihat mereka menjadi orang yang setia dengan rumah kedua kami, dan tentu saja, menunggu laporan dari mereka tentang pekerjaan 'rekayasa manusia' : kaderisasi. kalau ada yang melihatku sebagai sosok yang terlalu serius dan tidak suka main-main, salah itu. karena inilah yang benar-benar kusukai.

hanya satu yang kurang saat ini. rokok dan kopi di pagi hari. oiya, dan satu lagi. wanita yang menungu di luar ruang sidang.

Saturday, 17 July 2010

sepucuk cerita dan ucapan selamat

sebenarnya entah ada angin apa saya ingin menulis tentang seseorang ini. dia adalah seseorang yang luar biasa. dia adalah orang yang pernah cukup dalam menyelami kehidupanku, dan saya juga pernah cukup dalam menyelami kehidupannya. kami pernah berpacaran. cuma bukan masalah percintaan yang ingin kuangkat. biarkan itu jadi masa lalu dan kita ambil hal positif untuk dibagi dalam postingan ini.

namanya dissa samatha. panggilannya dissa. jurusan teknik lingkungan itb 2006.

sebenarnya sempat tidak kepikiran kalau dibalik gaya hidup bersenang-senangnya ini, seorang seperti dia ternyata selalu mengukir nilai yang selalu jumawa. seperti kebanyakan anak TL (subjektif ini), hobinya adalah bergaul bersama teman-teman,menonton film terbaru, karaoke, dan hedonisme lainnya. namun di organisasinya dia juga memiliki hasrat yang cukup tinggi untuk berkarya. dan keinginannya yang kuat dalam keorganisasian terbukti dalam kontribusinya dengan menjadi ketua wisuda himpunannya, badan pengurus unitnya, dan senator himpunannya.

Setahuku, dia hanya belajar ketika menjelang ujian, mengerjakan tugas juga suka menjiplak (normal kok ini), tetapi apa yang dilakukannya ini memiliki hasil yang berbeda dibanding teman-temannya (juga saya, dan jujur saya sering iri). kalau saya cari-cari apa rahasianya, mungkin adalah penjadwalan waktu belajar yang ketat menjelang UTS/UAS (dulu saya mencoba mengaplikasikannya namun hasilnya biasa-biasa saja), jejaring hubungan antar manusia yang selalu baik jika butuh bantuan untuk tugas, dan cara belajar yang efektif dan efisien (ini yang takkan bisa ditiru, mainannya insting). tambahkan kalau ada yang kurang dis,terakhir update semester enam kalau tidak salah.

dan dibalik semua itu, satu hal yang sangat saya senangi adalah, dia memiliki satu motivasi yang mulia atas segala kecemerlangannya itu, yaitu ibunya. saya tidak perlu menceritakan kehidupan pribadi dia disini, tapi dari semua hal yang kudengar, dan kurasakan langsung, ibunya memang seorang wanita yang hebat. figur ibu yang akan membuat anaknya segan untuk berbuat nakal, walaupun si anak tak pernah sekalipun dimarahi seumur hidupnya. seperti kasih ibu yang biasa kita baca di kisah cerita rakyat indonesia. dan terus terang, saya menyenangi hubungan diantara mereka berdua yang manis (walau seperti kebanyakan anak muda sekarang, benturan antar-generasi memang merupakan hal yang normal). mungkin terlihat biasa bagi kalian, tapi bagi seseorang dengan ibu yang 'rock 'n roll' seperti saya, itu seperti memberikan figur ibu ke-2.

dan hal termulia yang pernah kudengar adalah: aku ingin sekali dapat IP 4 (terakhir bertanya sih belum tercapai,nyaris), TA engineering (tercapai), dan kerja di Oil & Gas, untuk mebanggakan ibuku. hmm..kurang yakin juga sebenarnya redaksinya seperti apa. tapi kira-kira seperti itu. yang jelas hal tersebut sangat manis.

dan lihat sekarang. hari ini, 17 juli 2010, dia diwisuda di sasana budaya ganesha, bandung. dan yang membanggakan, namun tidak mengherankan, dia lulus dangen predikat cum laude (sumber: secarik kertas berisi daftar wisudawan FTSL yang tergeletak di studio gambar sipil kemarin siang). yeah, dissa samatha, kamu telah membanggakan ibumu. apa yang lebih membahagiakan daripada itu? sebuah perjuangan episode kehidupan ini telah dirampungkan dengan sempurna. selanjutnya adalah episode yang akan lebih menarik (atau setidaknya kamu yang buat ini jadi lebih menarik, haha).

dan terakhir, mungkin saya cuma bisa memberikan selamat atas segalanya. maaf tak ada hadiah yang bisa saya berikan. terima kasih karena telah menjadi bagian dari puzzle kehidupanku, bagian pendewasaanku. jangan cepat-cepat dibuang nilai yang didapatkan di kampus milik rakyat ini, dan selamat turun ke masyarakat! doa ibu bersamamu.

*salam buat ayahmu, ibumu dewi dewanti, raras, ninis, dan dika--kalau-kalau tak sempat bertemu nanti






Thursday, 15 July 2010

Seorang Pengamat

Saya terdiam. Mulut rapat, tidak tersenyum, tidak pula murung. Mata menyipit, berkomodasi hingga mencapai fokus yang diinginkan. Telinga mendengar dengan jelas. Sejelas desir angin sepoi-sepoi terdengar, sejernih tetesan air di luar sana terdengar. Terlihat serius, namun santai karena tidak ada otot yang tegang.


Ya. Posisi mengamati. Sejak beberapa tahun terakhir, semenjak bersentuhan dengan sesuatu hal yang disebut dengan ‘filosofi’—sebenarnya lebih tepat bila disebut dengan ‘engineering’s senses’, dimana dibalik suatu aksi pasti terdapat hal-hal terstruktur yang menyebabkan keluarnya ‘aksi’ itu. Entah itu kebutuhan, entah itu emosi, entah itu kepentingan tertentu. Karena setiap hukum memiliki formula, dan formula tersebut tersusun atas variabel-variabel dan konstanta dengan jumlah yang berbeda, namun memiliki pola yang sama—formula itu sendiri. lalu saya berusaha untuk memahami hidup—dengan pikiran saya sendiri, mencari-cari pola, dengan mengamati secara langsung.


Interaksi antar-manusia, fenomena-fenomena alam—yang kadang bisa kita temui dalam kehidupan manusia, adalah objek pengamatan yang tiada habisnya. Seakan-akan alam semsta mengajari kita untuk bertindak mengikuti fenomena-fenomenanya. Mencari-cari dimana keterkaitan perilaku manusia ini terhadap hukum alam ini. Sesimpel gravitasi, apel jatuh ke bumi. Pengaruh komunitas yang ‘beratnya’ trilyunan kali lebih besar akan membuat seorang manusia ‘tertarik’ mengikutinya, berbanding terbalik dengan ‘jangkauan’ diantara si komunitas dan individu.


Terkadang saya duduk di pijakan tertinggi ruangan himpunan ini—lantai dua. Duduk mengamati. Bagaimana obrolan-obrolan ‘anak jaman sekarang’ mengenai tren-tren aktualisasi diri, telepon genggam bermerk tertentu, jejaring sosial terdepan saat ini, masalah beratnya kuliah, atau apapun yang mereka ributkan—dengan berbagai macam ekspresi, intonasi, karakter, masing-masing individu yang konon (sampai saat ini) makhluk Tuhan yang paling mulia ini.


Saya menyukai ini. Lama kelamaan saya mengenal karakter orang ini, saya menebak-nebak apa yang akan dilakukannya lima detik kemudian, saya membandingkan dengan kebanyakan manusia lainnya dengan latar belakang yang tidak berbeda jauh, mencari-cari polanya, lalu membuat hipotesis: mengapa dia melakukan hal itu?


Kadang tebakan saya benar, kadang tebakan saya salah. Kadang yang dilakukannya konyol, membuat saya tertawa sendiri. Tapi ini selalu menarik. Dan tidak ada sedetikpun buang-buang waktu jika kita mengamati manusia, karena selama spesies dominan di dunia kita ini manusia, maka kunci untuk bertahan di dunia ini adalah mengetahui sebanyak-banyaknya pola-pola tersebut.

Wednesday, 30 June 2010

mr.nobody : cerita absurd dibungkus videografi yang menendang

absurd. satu kata untuk film yang baru saya tonton, mr.nobody. tentang seorang yang bernama nobody, entah ini julukan atau memang benar namanya. jalan cerita benar-benar absurd. potongan-potongan kehidupan semenjak kecil, lalu masa kininya.

ketika pada akhirnya mr. nobody bercerita tentang kehidupan lamanya untuk didokumentasikan, seakan kehidupannya adalah kehidupan dengan cabang-cabang skenario kehidupannya. dan semua berujung bahwa segala yang dilakukannya, bahkan interview si nobody tua adalah angan-angan seorang nobody kecil, yang mencari-cari skenario kehidupannya, ketika hendak memilih untuk hidup bersama ibunya atau ayahnya, ketika keduanya bercerai. maaf, poin yang barusan sangatlah spoiler. lagipula siapa suruh baca blog ini? hahaha.

padahal sebelumnya tertarik juga dengan makna-makna filosofis yang disisipkan. teori dimensi, ruang, waktu, relativitas, dengan pengambilan gambar yang memukau. bahkan jika ceritanya dan alurnya membuat kita mengantuk, gambar-gambar yang dimainkan sangatlah indah, begitu pula permainan angle yang kreatif. singkat kata, film ini merupakan tutorial videografi modern, dengan cerita yang mengantukkan.

satu hal lagi yang saya sukai. pensuasanaan masa depan yang ada di film ini sangat--saya sukai. detilnya sempurna. fantasinya begitu liar, namun tetap masuk rasio.

ada yang sudah menonton? komen di bawah sini saja dan semoga saya bukan sau-satunya yang berpendapat bahwa film ini absurd.

Wednesday, 16 June 2010

secuil dari video klip "wavin' flag"

itulah penggalan bait pertama theme song world cup 2010, penyanyinya namanya k'naan. lagu yang saat ini sering saya dengar. semangatnya terasa. perkusinya mantap.

tapi di luar semua itu. bukan musiknya yang jadi poin penting bagi saya. pada cuplikan seperti pada printscreen youtube di atas. tepat ketika kalimat "give me freedom, give me fire.." gambar yang ditampilkan adalah nelson mandela, peraih nobel perdamaian, mantan presiden afrika selatan, mantan narapidana 27 tahun. padahal sisa video itu adalah cuplikan momen-momen dramatis sepak bola. mantan narapidana 27 tahun. mantan narapidana 27 tahun. boldkan ini.

sekarang beliau adalah orang yang sangat dihormati, bahkan bisa dianggap sebagai nabi bagi kulit hitam di afrika selatan (dan saya bisa membayangkan hal serupa jika hal demikian terjadi di indonesia). bayangkan bagaimana keadaan sebelum orang ini melakukan pergerakan. bisa kita bayangkan tempat umum untuk si putih dan si hitam dibatasi, bus dibedakan, rumah sakit dibedakan, plang-plang "white only" bertebaran.

27 tahun di penjara. bayangkan begitu keluar mental kita seperti apa. penurut sipir, pengikut kebijakan negara. entah apa yang membuat 'si-tak-tahu-adat' mandela ini malah menggila dalam perjuangannya ini. dan perjuangannya berhasil. ini kongkrit.

sekarang, untuk apa hidup kita ini? untuk beberapa golongan yang tidak mampu, untuk bertahan dalam 'takdir' karena lahir dengan ketidakberuntungan. untuk golongan yang terlahirkan beruntung, dengan lebih banyak pilihan hal-hal yang bisa dilakukan, kebanyakan memilih untuk melanjutkan keberuntungan untuk anak-cucunya, sedikit dari yang lain mencari hal lain lebih dari sekedar menyejahterakan anak-cucu.

jika semua manusia mau berbuat seperti mandela. menjadikan hidupnya pengabdian untuk suatu keadilan, kebergunaan untuk orang banyak, hal yang smua orang bisa lakukan, namun jarang yang mau.

jika sejak lahir kita diajari untuk menjadi apa saja yang penting berguna untuk orang banyak. jika penghasilan adalah hal kesekian dalam tujuan hidup manusia. segalanya didasarkan rasa memiliki dunia bersama ini. dan kita semua menutup mata untuk terakhir kalinya dengan damai.









Sunday, 13 June 2010

sekilas tentang piala dunia, mengisi waktu kosong, menunggu inggris vs amerika

mungkin ini bukan world cup yang pertama kali ku ikuti. ini yang ke--satu, dua, tiga, empat dari 1998, 2002, 2006, dan terakhir--2010. namun baru terasa ya, bagaimana ini bukan cuma sekedar ajang 4 tahunan untuk ditonton. bukan cuma demam 1 bulanan untuk menyimak seluruh pertandingan dengan serius, menjagokan tim (negara lain) kesayangan, dan hal-hal subyektif lainnya.

sepak bola telah menjadi bisnis--seperti kebanyakan olah raga lainnya. sepak bola telah menjadi gengsi. sepak bola telah menjadi mimpi yang dijual untuk suatu masa depan yang cerah, kehidupan bahagia duniawi. namun tetap saja, diatas semua itu, sepak bola adalah hasrat dan kesenangan.

dan world cup adalah puncak atas segalanya. turnamen ini adalah gengsi yang akan menjadi perhatian penikmatnya seluruh dunia, penikmat olah raga paling universal, olah raga murah meriah ini.

negara yang mengikuti berarti negara-negara yang dihormati di tiap benuanya--paling tidak di mata penggemar sepak bola. negara-negara ini adalah negara yang telah menembus batasannya--baik secara teknis maupun kultur. kita bisa bilang kalau brasil adalah bekas jajahan portugal, namun di sepak bola, portugal dijuluki 'brasil-nya eropa'. negara-negara seperti brasil dan argentina mungkin dianggap sebelah mata dalam pengaruhnya di perekonomian dunia, namun di dunia ini, dunia si kulit bundar, mereka dihormati laiknya sepuh olah raga ini.

bahkan, tim yang mewakili tiap negara ini adalah pahlawan bagi setiap negara yang dibelanya. mereka dielu-elukan, didukung sampai mampus, digilai, dan tentu saja--saya bisa jamin--diinginkan seluruh wanita di negaranya. presiden melepas kepergian mereka, menjadi duta bangsa untuk mengharumkan nama bangsanya. terlepas dari kadar nasionalisme si pemain, keikhlasannya untuk berjuang atas nama bangsa, negara akan diuntungkan oleh pemain hebat dari negaranya, dan tentunya pemain juga diuntungkan dengan kesempatan 4 tahun sekali untuk disaksikan milyaran pasang mata di seluruh dunia kelihaian mereka dalam memainkan sepak bola. inilah ajang terampuh untuk menjual skill pemain. manajer klub-klub elit dunia akan selalu mengikutinya, mencari bibit-bibit potensial di planet ini.

dari segi bisnis--seperti yang saya kemukakan di awal tulisan ini, menggiurkan--karena ini adalah ajang dimana milyaran pasang mata melihat papan reklame pinggir lapangan, alih-alih permainan di lapangan. perusahaan besar akan memperhitungkan ajang ini untuk menyumbangkan dananya untuk membantu stasiun tv membeli hak siar piala dunia, dengan imbalan promosi besar-besaran di kemasan penayangan resmi tersebut. memanfaatkan momen gila bola ini untuk menjual pernak-pernik berkaitan dengan ajang ini, maupun dengan negara yang menjadi peserta (ini fenomena yang terjadi di indonesia, entah di negara lain seperti apa jika tim-nya tidak lolos). bahkan perusahaan operator selular hanya membubuhkan kata 'bola' dalam promo terbarunya, meskipun tak ada unsur-unsur bola di dalamnya. konypl memang.

perusahaan sepatu unjuk gigi dengan pemain yang mereka endorse. pemain tersebut bersinar, banyak yang mengidolakan, makin diminati sepatu si idola. tim yang mereka sokong juara, meningkatlah penjualan kaos tim tersebut, jika kita membeli yang asli--maka bertambahlah pundi-pundi si perusahaaan ini. belum lagi nilai non-materi seperti kesetiaan pelanggan dan eksistensi brand tersebut di mata pasar.

seakan tak ada bisnis yang tidak memberikan sedikit saja 'titipan' ke dalam ajang ini.

inilah mengapa tadi saya bilang bahwa sepak bola--sedikit banyak, telah menjadi komoditas bisnis yang menggiurkan.

bahkan 'ajang-milyaran-pasang-mata-di-dunia' ini akan menjadi ajang untuk melempar pesan global masyarakat dunia. mau eksis? silakan lari bugil ke tengah lapangan di final piala dunia, seraya membawa papan bertuliskan 'don't wear fur'. nama anda akan tercantum di buku sejarah persepakbolaan dunia hingga 100 tahun ke depan. pesan anda? setidaknya tersampaikan ke milyaran pasang mata yang menontonnya. terlepas anda akan dianggap aktivis pencinta fauna atau orang gila nyasar.

tuan rumah? mereka lah yang dapat imbas paling besar atas penyelenggaraan ini. bisa dibilang, penyelenggara acara ini berarti telah menjadi 'negara maju', dikarenakan besarnya tingkat kesulitan dalam penyelenggaraan acara ini, besarnya dana yang dikeluarkan, usaha yang dikeluarkan, bahkan besarnya apresiasi masyarakat dunia terhadap ajang ini, dan bukan tidak mungkin hingga setiap warga negara memiliki kewajiban untuk berkontribusi untuk menyiapkan negaranya menjadi tuan rumah. bisa dibilang, ini lah 'perang' negara penyelenggara dengan segala halangan yang merintangi.

kerasnya usaha ini, tentu saja berbanding dengan apa yang akan mereka dapatkan nantinya. saat ratusan ribu warga negara asing datang ke negaranya, potensi besar di bidang pariwisata menanti. saat segalanya terkendali, investor tergiur untuk penanaman modal di negaranya. keberhasilan acara ini adalah faktor yang akan meningkatkan bargaining position negara tersebut di mata internasional. karena sadar tidak sadar, sepak bola itu buta, bahkan terasa tidak terasa seorang presiden dapat memiliki sentimen positif terhadap negara yang berhasil menyelenggarakan piala dunia ini. bahkan jika sebelumnya mereka adalah negara yang saling memusuhi. inilah yang saya percayai. apapun yang dilakukan, pasti memiliki efek sekecil apapun, hingga sebesar apapun, terhadap apa yang akan kita lakukan nanti. hidup yang sesimpel aksi-reaksi. hembusan nafas saya di malam ini mungkin saja membunuh orang di belahan dunia sana.

rasanya tak akan ada habisnya jika kita bicarakan aksi-reaksi terhadap ajang yang bernama 'piala dunia' ini. dan saya sudahi saja sampai sini. bentar lagi inggris vs amerika. mari nikmati bersama!


Sunday, 6 June 2010

Kelanjutan Perjalanan Ini.

Tak terasa ya. sudah juni 2010. agustus besok genap 4 tahun saya meresapi indahnya ganesha 10. kampus ini, indah.

tak terasa memoar-memoar masa silam sudah dilewati, 'momen historis' OSKM 2006, pendidikan LFM 2006, masa-masa TPB, masa-masa kuya dimarah-marahin swasta, masa-masa belajar berpikir (bahkan mahasiswa ITB masih belum benar-benar mampu berpikir), masa-masa percintaan yang tak dewasa, masa-masa INKM 2008, BP HMS, Kaderisasi buat 2008, kuliah yang tak penah menarik, hingga sekarang, seluruh SKS wajib telah habis. teman-teman sudah Tugas Akhir.

terpikir untuk mengambil 'semester santai' sebagai bentuk pembalasan dendam terhadap kesibukan aktivitas sejak masuk ITB hingga saya rasa 'cuti' ini cukup berarti untuk menyegarkan pikiran seraya 'menghabiskan masa tua'. Lalu saya ingin lulus April 2011.

Orang tua menentangnya. sebenarnya bukan masalah juga kalau saya mencari alasan untk akhirnya berhasil menggolkan lulus April ini. Namun saya punya firasat, orang tua saat ini benar.

beberapa tahun lagi papa pensiun. dan sebelum itu, saya harus mampu menghidupi diri sendiri, paling tidak. dan mungkin saja setengah tahun itu bisa diisi dengan sesuatu yang lebih penting daripada sekedar 'menghabiskan masa tua' di kampus. papa bilang saya boleh melakukan apa saja setelah lulus ini. mau S-2, kerja, atau mencari beasiswa di luar negeri (kalau mampu). apapun, katanya.

tapi yang paling penting adalah saya harus bisa menentukan arah kehidupan ini bagaimana nantinya. dan saya dipaksa untuk melakukannya sesegera mungkin. dan ini mungkin akan menjadi warna baru kehidupan selanjutnya. menantang, tentunya.

dan nampaknya awal dari semua itu adalah mencari dosen untuk mengejar kelulusan oktober ini. dan menyusul teman-teman untuk menggaruk-garuk kepala, stres TA.

Sunday, 23 May 2010

La Grande Internazionale Milano II


World Cup 1998 adalah titik awal saya mengenal sepak bola. Saya mendukung Brasil, dengan Ronaldonya. Dan Ronaldo adalah pemain Inter. Sebuah klub biru hitam dengan tulisan Pirelli di kaosnya, dengan pemain cuma Ronaldo yang saya kenal. Dan itu cukup untuk membuat saya memilih Inter sebagai klub pertama dan terakhir. Dan saya rasa banyak orang yang semula memilih Inter karena alasan (dangkal) yang sama. sama dangkalnya dengan menjagokan Portugal karena ada Christiano Ronaldo-nya mungkin. Partai yang pertama saya tonton adalah Inter vs Roma. Saya ketiduran padahal berharap melihat gol ronaldo, dan mendapati paginya dari teman SD saya bahwa Ronaldo mencetak gol.


Selanjutnya, setelah demam piala dunia meredup, saya tetap mendukung Inter, bahkan ketika Ronaldo pindah ke muara pemain-top-tak -tahu-terima-kasih-dengan-klub-asalnya, Real Madrid. Lalu saya mulai menikmati kecintaan saya terhadap sepak bola. Tiap weekend nonton bola. Kalau mau dibelikan baju maunya baju bola. Saya memiliki gacoan di tiap liga eropa. Liga italia, Inter tentunya. Liga Inggris , MU. Liga Spanyol, Real Madrid. Liga Jerman, Bayern Muenchen. Terlihat mainstream memang. Tapi itulah otak anak SD.


Perkembangan Inter Milan pun naik turun. Kesuksesan yang gemilang terakhir adalah juara UEFA Cup 1997. dimana saya belum mengikuti dunia ini, dan hanya bisa melihat cuplikan Ronaldo mengangkat trofi ketika Planet Football tiap Sabtu siang dimulai.


Dan setelah piala dunia 1998 itu, Inter terus menjadi penempel raksasa Italia saat itu--yang belakangan terbukti melakukan skandal calciopoli--Juventus. Rivalitas keduanya adalah yang nomor satu. Sampai-sampai kita ketahui sendiri, pertandingan antara keduanya dijuluki “derby ‘d italia“, bahkan sebelum jumlah scudetto Inter yang kedua setelah Juve. Mungkin karena (saat itu) kedua tim belum pernah terdegradasi. Dengan Milan? tentu saja ”derby della madonina” selalu menarik. dan sialnya saat itu adalah saat yang tidak terlalu bagus untuk Inter, bahkan Juventus dan Milan juga ketika Parma dan Fiorentina yang menguasai capolista serie-A saat itu.


Tidak cuma itu, inter juga cukup terasa seperti ‘hilang sejenak’ ketika tidak mampu melakukan gebrakan apapun baik di kompetisi lokal maupun eropa. saya pun sempat tidak memperhatikannya, walaupun kalau ada yang bertanya dukung siapa, akan tetap kujawab dengan bangga: Inter Milan.


Pak presiden, Masimmo Moratti memang agak gegabah dalam memilih pemain. uang yang digelontorkan digunakan untuk membeli pemain-pemain mahal, namun sayangnya pemain mahal itu juga tidak banyak membantu untuk kedigdayaan inter secara tim. Dan satu lagi, Moratti kerap menggunakan egonya dan seleranya untuk memilih pemain mana yang dibeli. Vieri dan Ronaldo sempat menikmati bangganya menjadi pemain termahal di dunia, ketika Moratti memboyongnya dari klub asal mereka masing-masing.


Segalanya datar, bahkan ekstrimnya tim ini pernah tidak mendapat jatah kompetisi regional apapun karena di berada di peringkat 8 pada akhir musim. Hingga terungkapnya skandal calciopoli, dimana Juve sang scudetto memiliki ‘dosa’ paling besar dalam skandal pengaturan skor ini. Untuk itu, scudetto Juve dicabut, Inter yang menempati posisi dua merengsek menjadi scudetto praktis. Juventus turun ke serie-B. Sementara beberapa klub lain yang terlibat juga diberi pemotongan poin awal musim.


Selanjutnya Inter scudetto tiap musim, hingga scudetto ke-18 ini, dan memastikan eksistensinya dalam skala lokal. Ini berarti jawaban atas dahaga panjang setelah masa-masa suram gelar lokal sekalipun. Dan awal penapakan menuju La Grande Inter II.


Pun demikian, lagi-lagi Moratti membawa silih berganti pelatih-pelatih baru untuk membawa Inter juara champion. Dan ujung penantiannya ternyata pada Jose Mourinho, The Special One. Secara mengejutkan Inter membunuh Chelsea, Barca, dan pada finalnya, Muenchen.


Merupakan sejarah yang mungkin hanya jadi angan-angan sebelumnya bagi interisti di seantero dunia. penantian 45 tahun akhirnya tergapai jua. Moratti berjingkrak, Zanetti tertawa bangga, Mourinho terharu. Interisti berpesta. Inter treble. Inter bukan lagi jago kandang. Sebuah pemandangan yang mungkin saja akan bersiklus 45 tahun lagi. Dari sebuah generasi yang menyaksikkan, untuk membuatnya menjadi generasi yang merealisasikan. Dari seorang Moratti jr. yang menonton hingar bingar hasil kerja ayahnya, untuk merealisasikannya ketika dewasa nanti.


Dari Luigi Simoni, Lucescu, Marcelo Lippi, hingga Mancini, Mourinho. Dari Bergomi, Ronaldo, Baggio, Zamorano, Recoba, Vieri, Robbie Keane, hingga Maicon, Sneijder, Milito, sampai si labil Ballotelli. Dan Zanetti yang setia bertahan. Beberapa generasi telah datang dan pergi. Dan kami interisti adalah saksi.


Dan akhirnya satu tifosi ini tersenyum. Memang, penantian panjang dan berbuah kesuksesan akan terasa lebih manis daripada proses yang instan. La Grande Internazionale Milano, kembali.

Memang, menjadi tifosi setia di klub yang terpuruk akan lebih berharga daripada tifosi karbitan di klub yang dalam masa keemasan.


Monday, 3 May 2010

apa yang diperbuat alam semesta

Baru sejenak teringat tentang sebuah quote dari buku yang pernah habis kubaca dari seorang teman saya yang hebat di SMA, Satrio. buku itu berjudul "The Alchemist", karangan Paul Coelho.

isinya sangat filosofis. semacam pencarian makna kehidupan dan cinta yang ada di dalamnya. apa quotes itu? setelah googling untuk mendapatkan redaksinya yang pas maka saya dapatkan:
When a person really desires something, all the universe conspires to help that person to realize his dream
ketika seseorang menginginkan sesuatu, maka alam semesta akan berkonspirasi untuk menolong seseorang tersebut untuk mencapai mimpi itu.

menarik. beberapa orang mengatakannya "the power of dream". walaupun saya bukan orang yang pernah mencapai mimpi besar yang jadi kenyataan, tetapi ada beberapa kejadian yang mungkin saja ada benarnya.

terkadang kita berharap untuk dapat bertemu dengan seseorang. mencipta seribu satu cara untuk melakukannya. namun terkadang, hanya dengan modal keinginan yang terjaga, kebetulan demi kebetulan terjadi. tidak percaya? memang penting tidak penting untuk mempercayai hal seperti ini.

namun, saya jadi sedikit mempercayainya. tentu saja usaha adalaha no 1 dalam pencapaian tujuan hidup seseorang. doa penyeimbangnya.

mungkin seperti itulah alam semesta bekerja. mencari keseimbangan. mencari kesamaan frekuensi. yang kelebihan akan terbuang ke yang kekurangan. energi bertransformasi dari bentuk satu ke bentuk lainnya, takkan hilang. mencari keseimbangan.

seperti hanya manusia, emosi meluap-luap akan dilampiaskan, agar orang itu menjadi lebih rileks. namun sayangnya kemarahan akan berpindah ke orang sekitarnya, membuat orang lain membalasnya, dan energi kemarahan itu akan bergulir tak teredam dari kedua orang tersebut. perlu energi dari dalam untuk menahannya, membiarkan panasnya keluar dari pori-pori kulit, hembusan nafas, dan membiarkan udara segar masuk, menyegarkan kembali.

mungkin ini yang sering disebut sebagai energi positif dan energi negatif. untuk yang satu ini, saya percaya. saya memiliki seorang teman yang seperti itu. spiritualnya sangat baik. dan setiap orang akan merasa tenang jika bersamanya.

dan ketika saya membaca suatu artikel tentang bagaimana orang jepang mampu bertahan hingga 90-100 tahunan. orang itu menjawab, " Kami hanya makan-makanan sehat, bekerja, dan selalu berpikir positif."

Friday, 23 April 2010

hidden obsessions

inilah obsesi (terpendam) yang ingin kucapai seumur hidup ini:

-memiliki toko yang berisi barang hasil desain sendiri
-memiliki studio pribadi untuk membuat film/clip/recording
-ikut serta dalam pembuatan film perang indonesia yang tidak memalukan
-memiliki restoran dengan resep sendiri

Sunday, 4 April 2010

The Pacific--Pacific's Band of Brothers



sebuah review/resensi/apalah namanya tentang sebuah mini seri keluaran HBO, The Pacific. sama seperti pendahulunya, Band of Brothers, mini seri ini berjumlah 10 episode dan memiliki latar Perang Dunia II, hanya saja dengan medan perang yang berbeda. kalau BoB (Band of Brothers) memiliki latar Perang Eropa dimana sekutu memusuhi NAZI, The Pacific memiliki latar di Pasifik (iyalah), dimana saat itu Jepang ingin membuat Kerajaan Asia Timur Raya, yang melingkupi Jepang, Korea, sebagian Cina, Asia Tenggara, dan bukan tidak mungkin jika tidak terhalangi, Australia. dan tentu saja, Amerika menjadi lawannya.

secara keseluruhan, film ini hanya memiliki 3 pemeran utama, yah saya lupa nama-namanya, mereka semua adalah marinir angkatan laut AS, dan tentu saja berbeda dengan BoB yang memiliki banyak tokoh, dan sangat berasa 'ramainya' perjuangan prajurit-prajurit Amerika tersebut, dengan balutan persaudaraan, dan segala emosi perang yang bergejolak.

dari 3 episode yang sudah saya tonton--terima kasih untuk veteran-veteran rileks yang membuat saya bisa menonton 3 episode pertama HD 720p bahkan sebelum premier di HBO Indonesianya keluar--terasa sekali kekuatan film ini adalah pada drama tiap-tiap tokohnya. bayangkan saja, isi dari episode ketiga didominasi oleh drama percintaan seorang tokohnya ketika marinir-marinir ini 'diliburkan' setelah berjuang keras di pulau Guadalcanal, Solomon islands. untuk penggemar film perang seperti Saving Private Ryan, akan sedikit mengecewakan karena film ini (agak) seperti Pearl Harbour.

episode pertama berisi saat-saat awal mereka ditugaskan, sampai mereka memasuki pulau Guadalcanal. sedangkan episode kedua adalah peperangan di dalam Guadalcanal itu sendiri, yang menurut saya adalah 'perang yang mudah', bagaimana tidak, tentara Jepang maju membabi buta di depan machine-gun, tampaknya mereka memang mengincar kematian 'syahid'--untuk kaisar mereka. malah jadinya kematian yang mereka incar--bukan kemenangan.

namun untuk suasana perang, secara kseluruhan (dari 3 episod pertama), realistis. sama seperti BoB. chaos sana sini, darah, erangan kesakitan, desing machine-gun, hanya saja--seperti tadi yang saya bilang--musuhnya masih terlalu bodoh--mungkin di episode-episode selanjutnya akan lebih serius si musuh ini. haha.

Oke. ditunggu om-om veteran unggahan baru The Pacificnya. Perang Dunia II memang fenomenal.

Friday, 2 April 2010

ignorant, future-seeker, then?

Suatu hari, siang bolong, jarang-jarangnya, saya terinspirasi ketika iseng-iseng membaca majalah lama di rumah, dan mendapati seorang selebritis lokal diwawancarai mengenai “ Apakah hidup akan lebih menyenangkan jika anda seorang yang ignorant?”


Pada mulanya saya mempertanyakan arah pertanyaan ini. Sang selebritis menjawab,” Menjadi ignorant lebih menyenangkan karena anda tidak tahu hal-hal buruk yang mungkin diucapkan orang lain kepada anda.” OK, dia benar. Bayangkan jika kita serba tahu apa kata orang di luar sana. Kita selalu dikirimi info per-lima menit tentang apa yang orang lain katakan terhadap kita. Segala kekurangan-kekurangan kita. Mungkin lebih tepatnya segala yang orang lain tidak sukai dari kita. Susah menikmati hidup bukan? Kita akan mencoba mengubah diri kita secara kasar, kita mengubah karakter kita secara paksa. Kita yang menjajah diri kita sendiri.


Berangkat dari alasan itu, otak menggiring saya ke sesuatu yang lebih global. Jika poin yang barusan adalah bagaimana kita mengabaikan suatu hal, sekarang adalah bagaimana dengan hal yang kita hendak abaikan itu bisa menimpa kita? Bagaimana jika hal tersebut datang dengan ijin terlebih dahulu? Bagaimana jika kita diberi kemampuan untuk mengetahui bahwa segalanya akan seperti ini, segalanya akan seperti itu.


Dalam suatu malam di depan api unggun, di sebuah pantai di pesisir selatan Jawa, seorang abang—sebut saja begitu untuk teman yang lebih tua, memberitahukan keistimewaan dirinya dalam melihat aura, dan membaca pikiran orang lain. Dia mengeluhkan hidupnya yang tidak memiliki kejutan apa-apa. Bagaimana tidak, membaca pikiran orang tentu akan membuat anda tahu reaksi seseorang bahkan sebelum kita direspon,dan hal ini mungkin merupakan hal yang kita-kita—sebagai manusia normal—inginkan, untuk kemulusan hidup. Namun si abang mengeluhkannya. Ia katakan betapa membosankannya hidupnya yang tanpa kejutan. Suatu hari dia mengajukan suatu komitmen dalam berhubungan dengan seorang wanita—dan sudah tahu bahwa dirinya akan diterima sebelum si wanita mengiyakan.


Dia mampu melihat aura manusia: merah, hijau,kuning, dan menjadi pusing karena silaunya sinar-sinar pancaran manusia itu. Lalu dia mengartikannya berdasarkan apa yang dilihatnya dalam artikel internet. Dan tentunya dia menyesali setelah membaca artikel itu—menambahnya menjadi pembaca pikiran anti-kejutan—dibandingkan jika dia biarkan saja kebingungan apa makna warna-warna yang terpancar itu.


Berkali-kali ia tegaskan, bahwa hidup yang terbaik adalah hidup dengan menunggu kejutan-kejutan itu datang. Disanalah akan terakumulasi rasa penasaran, takut, bertanya-tanya, yang akan membuat hidup lebih hidup. Entah itu akan memunculkan respon senang, bangga, lega, maupupun sedih, haru, sesal.

Manusia, dengan keterbatasan pengetahuannya, akan berkembang untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkannya.


Tanpa rasa khawatir, manusia tidak akan membuat struktur tahan gempa. Lebih baik mencari tempat lain yang dalam penerawangan tidak akan terjadi gempa. Takkan ada engineering—rekayasa alam semesta dan isinya. Tanpa rasa khawatir, seseorang akan malas-malasan karena merasa hidupnya hingga mati ditanggung oleh bapaknya, yang ia tahu akan mewariskan kekayaannya yang berlimpah suatu saat. Takkan ada pejuang.


Tanpa rasa khawatir, takkan ada hidup. Takkan ada alasan hidup.


Jadi, siapkan kopermu untuk bekal melanjutkan perjalanan kita. Ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan atau bahkan menyedihkan. Kita akan menambah keluarga, atau mungkin kehilangan satu per satu. Tapi jangan terlalu lama termenung, karena ada banyak kejutan di depan sana yang menunggu. Dan semoga, kemanapun tujuan kita, kita mendapatkan arti dari segala hal itu.