Thursday, 11 February 2010

keluarga kami

keluarga ini lahir karena adanya sebuah perjuangan. perjuangan yang mulia untuk memperbaiki keluarga-keluarga di bangsanya. sebuah keluarga yang dilahirkan untuk menciptakan pemimpin-pemimpin bangsanya. sebuah keluarga dimana segala hal diperjuangkan demi sebuah kebenaran.

keluarga ini adalah sebuah dinasti yang telah melahirkan pemimpin-pemimpin bangsanya. saya adalah salah satu anak yang menempati rantai terbawah dalam silsilah keluarga besar ini. namun saya memiliki adik-adik yang saya sayangi. begitu pula saya memiliki kakak-kakak yang saya cintai.

selama keberjalanannya, keluarga ini mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang dan pengorbanan yang besar. dahulu sang orang tua sering dibantu petinggi bangsa dalam menghidupi kami. sekarang, merekalah yang benar-benar mencari penghidupan untuk kami.

dahulu, orang tua kami mendukung kakak-kakak kami untuk menampar kami jika kami lesu, menendang kami jika kami tidak tegas, dan tidak segan-segan mencoret kami dari silsilah keluarga kami, lalu akan mengucilkan kami.

kakak-kakak kami adalah adalah orang yang dididik dengan kerasnya hidup. lalu saya lahir, ternyata cara-cara kasar itu sudah tak diijinkan lagi oleh orang tua kami. saya tidak mengerti mengapa demikian. namun kakak-kakak kami tetap ingin kami peduli kepada keluarga, peduli kepada perjuangan bangsa kami. bagaimanapun caranya, meskipun tidak lagi menerima tamparan maupaun tendangan. kakak-kakakku suka marah. suka menekan kami. lalu kami menghilang.

dan kini saya telah menjadi seorang kakak. yang sangat mencintai adik-adik kami. saya tahu susahnya berbicara dengan orang tua kami. mereka antipati. mereka tidak bisa diajak duduk bersama di meja makan untuk membicarakan bagaimana adik-adik kami dididik. mereka tidak mau tahu.

akhirnya kami mendidik adik-adik kami tanpa komunikasi yang baik dengan orang tua kami. dengan cara yang baik tentunya. tidak lagi dengan pukulan, melainkan dengan teladan. dan dengan mengurangi marah kami. kami tak ingin adik kami hilang. dan kehilangan kesempatan untuk menjadi penerus bangsa kami.

rupanya ini memanjakan. adik-adik kami tidak serius ketika kami mengajarkan, adik-adik kami malas belajar. adik-adik kami hanya ingin belajar dari orang tua kami. orang tua yang hanya bisa menyuapi adik-adik kami. tidak menjadikannya mandiri.

dan tetap, kami kesulitan untuk berbicara dengan orang tua kami. bahkan orang tua kami membenci kami. dan merendahkan kami.

seperti inilah keluarga kami. bagaimanapun juga, ini darah daging kami. dan saya pesankan untuk adik-adik kami yang kini beranjak akan mendidik adik-adik barunya, bertahan. kami akan mendukungmu, apapun halangannya. apapun.

No comments: