Friday, 23 April 2010

hidden obsessions

inilah obsesi (terpendam) yang ingin kucapai seumur hidup ini:

-memiliki toko yang berisi barang hasil desain sendiri
-memiliki studio pribadi untuk membuat film/clip/recording
-ikut serta dalam pembuatan film perang indonesia yang tidak memalukan
-memiliki restoran dengan resep sendiri

Sunday, 4 April 2010

The Pacific--Pacific's Band of Brothers



sebuah review/resensi/apalah namanya tentang sebuah mini seri keluaran HBO, The Pacific. sama seperti pendahulunya, Band of Brothers, mini seri ini berjumlah 10 episode dan memiliki latar Perang Dunia II, hanya saja dengan medan perang yang berbeda. kalau BoB (Band of Brothers) memiliki latar Perang Eropa dimana sekutu memusuhi NAZI, The Pacific memiliki latar di Pasifik (iyalah), dimana saat itu Jepang ingin membuat Kerajaan Asia Timur Raya, yang melingkupi Jepang, Korea, sebagian Cina, Asia Tenggara, dan bukan tidak mungkin jika tidak terhalangi, Australia. dan tentu saja, Amerika menjadi lawannya.

secara keseluruhan, film ini hanya memiliki 3 pemeran utama, yah saya lupa nama-namanya, mereka semua adalah marinir angkatan laut AS, dan tentu saja berbeda dengan BoB yang memiliki banyak tokoh, dan sangat berasa 'ramainya' perjuangan prajurit-prajurit Amerika tersebut, dengan balutan persaudaraan, dan segala emosi perang yang bergejolak.

dari 3 episode yang sudah saya tonton--terima kasih untuk veteran-veteran rileks yang membuat saya bisa menonton 3 episode pertama HD 720p bahkan sebelum premier di HBO Indonesianya keluar--terasa sekali kekuatan film ini adalah pada drama tiap-tiap tokohnya. bayangkan saja, isi dari episode ketiga didominasi oleh drama percintaan seorang tokohnya ketika marinir-marinir ini 'diliburkan' setelah berjuang keras di pulau Guadalcanal, Solomon islands. untuk penggemar film perang seperti Saving Private Ryan, akan sedikit mengecewakan karena film ini (agak) seperti Pearl Harbour.

episode pertama berisi saat-saat awal mereka ditugaskan, sampai mereka memasuki pulau Guadalcanal. sedangkan episode kedua adalah peperangan di dalam Guadalcanal itu sendiri, yang menurut saya adalah 'perang yang mudah', bagaimana tidak, tentara Jepang maju membabi buta di depan machine-gun, tampaknya mereka memang mengincar kematian 'syahid'--untuk kaisar mereka. malah jadinya kematian yang mereka incar--bukan kemenangan.

namun untuk suasana perang, secara kseluruhan (dari 3 episod pertama), realistis. sama seperti BoB. chaos sana sini, darah, erangan kesakitan, desing machine-gun, hanya saja--seperti tadi yang saya bilang--musuhnya masih terlalu bodoh--mungkin di episode-episode selanjutnya akan lebih serius si musuh ini. haha.

Oke. ditunggu om-om veteran unggahan baru The Pacificnya. Perang Dunia II memang fenomenal.

Friday, 2 April 2010

ignorant, future-seeker, then?

Suatu hari, siang bolong, jarang-jarangnya, saya terinspirasi ketika iseng-iseng membaca majalah lama di rumah, dan mendapati seorang selebritis lokal diwawancarai mengenai “ Apakah hidup akan lebih menyenangkan jika anda seorang yang ignorant?”


Pada mulanya saya mempertanyakan arah pertanyaan ini. Sang selebritis menjawab,” Menjadi ignorant lebih menyenangkan karena anda tidak tahu hal-hal buruk yang mungkin diucapkan orang lain kepada anda.” OK, dia benar. Bayangkan jika kita serba tahu apa kata orang di luar sana. Kita selalu dikirimi info per-lima menit tentang apa yang orang lain katakan terhadap kita. Segala kekurangan-kekurangan kita. Mungkin lebih tepatnya segala yang orang lain tidak sukai dari kita. Susah menikmati hidup bukan? Kita akan mencoba mengubah diri kita secara kasar, kita mengubah karakter kita secara paksa. Kita yang menjajah diri kita sendiri.


Berangkat dari alasan itu, otak menggiring saya ke sesuatu yang lebih global. Jika poin yang barusan adalah bagaimana kita mengabaikan suatu hal, sekarang adalah bagaimana dengan hal yang kita hendak abaikan itu bisa menimpa kita? Bagaimana jika hal tersebut datang dengan ijin terlebih dahulu? Bagaimana jika kita diberi kemampuan untuk mengetahui bahwa segalanya akan seperti ini, segalanya akan seperti itu.


Dalam suatu malam di depan api unggun, di sebuah pantai di pesisir selatan Jawa, seorang abang—sebut saja begitu untuk teman yang lebih tua, memberitahukan keistimewaan dirinya dalam melihat aura, dan membaca pikiran orang lain. Dia mengeluhkan hidupnya yang tidak memiliki kejutan apa-apa. Bagaimana tidak, membaca pikiran orang tentu akan membuat anda tahu reaksi seseorang bahkan sebelum kita direspon,dan hal ini mungkin merupakan hal yang kita-kita—sebagai manusia normal—inginkan, untuk kemulusan hidup. Namun si abang mengeluhkannya. Ia katakan betapa membosankannya hidupnya yang tanpa kejutan. Suatu hari dia mengajukan suatu komitmen dalam berhubungan dengan seorang wanita—dan sudah tahu bahwa dirinya akan diterima sebelum si wanita mengiyakan.


Dia mampu melihat aura manusia: merah, hijau,kuning, dan menjadi pusing karena silaunya sinar-sinar pancaran manusia itu. Lalu dia mengartikannya berdasarkan apa yang dilihatnya dalam artikel internet. Dan tentunya dia menyesali setelah membaca artikel itu—menambahnya menjadi pembaca pikiran anti-kejutan—dibandingkan jika dia biarkan saja kebingungan apa makna warna-warna yang terpancar itu.


Berkali-kali ia tegaskan, bahwa hidup yang terbaik adalah hidup dengan menunggu kejutan-kejutan itu datang. Disanalah akan terakumulasi rasa penasaran, takut, bertanya-tanya, yang akan membuat hidup lebih hidup. Entah itu akan memunculkan respon senang, bangga, lega, maupupun sedih, haru, sesal.

Manusia, dengan keterbatasan pengetahuannya, akan berkembang untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkannya.


Tanpa rasa khawatir, manusia tidak akan membuat struktur tahan gempa. Lebih baik mencari tempat lain yang dalam penerawangan tidak akan terjadi gempa. Takkan ada engineering—rekayasa alam semesta dan isinya. Tanpa rasa khawatir, seseorang akan malas-malasan karena merasa hidupnya hingga mati ditanggung oleh bapaknya, yang ia tahu akan mewariskan kekayaannya yang berlimpah suatu saat. Takkan ada pejuang.


Tanpa rasa khawatir, takkan ada hidup. Takkan ada alasan hidup.


Jadi, siapkan kopermu untuk bekal melanjutkan perjalanan kita. Ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan atau bahkan menyedihkan. Kita akan menambah keluarga, atau mungkin kehilangan satu per satu. Tapi jangan terlalu lama termenung, karena ada banyak kejutan di depan sana yang menunggu. Dan semoga, kemanapun tujuan kita, kita mendapatkan arti dari segala hal itu.