Friday, 2 April 2010

ignorant, future-seeker, then?

Suatu hari, siang bolong, jarang-jarangnya, saya terinspirasi ketika iseng-iseng membaca majalah lama di rumah, dan mendapati seorang selebritis lokal diwawancarai mengenai “ Apakah hidup akan lebih menyenangkan jika anda seorang yang ignorant?”


Pada mulanya saya mempertanyakan arah pertanyaan ini. Sang selebritis menjawab,” Menjadi ignorant lebih menyenangkan karena anda tidak tahu hal-hal buruk yang mungkin diucapkan orang lain kepada anda.” OK, dia benar. Bayangkan jika kita serba tahu apa kata orang di luar sana. Kita selalu dikirimi info per-lima menit tentang apa yang orang lain katakan terhadap kita. Segala kekurangan-kekurangan kita. Mungkin lebih tepatnya segala yang orang lain tidak sukai dari kita. Susah menikmati hidup bukan? Kita akan mencoba mengubah diri kita secara kasar, kita mengubah karakter kita secara paksa. Kita yang menjajah diri kita sendiri.


Berangkat dari alasan itu, otak menggiring saya ke sesuatu yang lebih global. Jika poin yang barusan adalah bagaimana kita mengabaikan suatu hal, sekarang adalah bagaimana dengan hal yang kita hendak abaikan itu bisa menimpa kita? Bagaimana jika hal tersebut datang dengan ijin terlebih dahulu? Bagaimana jika kita diberi kemampuan untuk mengetahui bahwa segalanya akan seperti ini, segalanya akan seperti itu.


Dalam suatu malam di depan api unggun, di sebuah pantai di pesisir selatan Jawa, seorang abang—sebut saja begitu untuk teman yang lebih tua, memberitahukan keistimewaan dirinya dalam melihat aura, dan membaca pikiran orang lain. Dia mengeluhkan hidupnya yang tidak memiliki kejutan apa-apa. Bagaimana tidak, membaca pikiran orang tentu akan membuat anda tahu reaksi seseorang bahkan sebelum kita direspon,dan hal ini mungkin merupakan hal yang kita-kita—sebagai manusia normal—inginkan, untuk kemulusan hidup. Namun si abang mengeluhkannya. Ia katakan betapa membosankannya hidupnya yang tanpa kejutan. Suatu hari dia mengajukan suatu komitmen dalam berhubungan dengan seorang wanita—dan sudah tahu bahwa dirinya akan diterima sebelum si wanita mengiyakan.


Dia mampu melihat aura manusia: merah, hijau,kuning, dan menjadi pusing karena silaunya sinar-sinar pancaran manusia itu. Lalu dia mengartikannya berdasarkan apa yang dilihatnya dalam artikel internet. Dan tentunya dia menyesali setelah membaca artikel itu—menambahnya menjadi pembaca pikiran anti-kejutan—dibandingkan jika dia biarkan saja kebingungan apa makna warna-warna yang terpancar itu.


Berkali-kali ia tegaskan, bahwa hidup yang terbaik adalah hidup dengan menunggu kejutan-kejutan itu datang. Disanalah akan terakumulasi rasa penasaran, takut, bertanya-tanya, yang akan membuat hidup lebih hidup. Entah itu akan memunculkan respon senang, bangga, lega, maupupun sedih, haru, sesal.

Manusia, dengan keterbatasan pengetahuannya, akan berkembang untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkannya.


Tanpa rasa khawatir, manusia tidak akan membuat struktur tahan gempa. Lebih baik mencari tempat lain yang dalam penerawangan tidak akan terjadi gempa. Takkan ada engineering—rekayasa alam semesta dan isinya. Tanpa rasa khawatir, seseorang akan malas-malasan karena merasa hidupnya hingga mati ditanggung oleh bapaknya, yang ia tahu akan mewariskan kekayaannya yang berlimpah suatu saat. Takkan ada pejuang.


Tanpa rasa khawatir, takkan ada hidup. Takkan ada alasan hidup.


Jadi, siapkan kopermu untuk bekal melanjutkan perjalanan kita. Ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan atau bahkan menyedihkan. Kita akan menambah keluarga, atau mungkin kehilangan satu per satu. Tapi jangan terlalu lama termenung, karena ada banyak kejutan di depan sana yang menunggu. Dan semoga, kemanapun tujuan kita, kita mendapatkan arti dari segala hal itu.

No comments: