Sunday, 23 May 2010

La Grande Internazionale Milano II


World Cup 1998 adalah titik awal saya mengenal sepak bola. Saya mendukung Brasil, dengan Ronaldonya. Dan Ronaldo adalah pemain Inter. Sebuah klub biru hitam dengan tulisan Pirelli di kaosnya, dengan pemain cuma Ronaldo yang saya kenal. Dan itu cukup untuk membuat saya memilih Inter sebagai klub pertama dan terakhir. Dan saya rasa banyak orang yang semula memilih Inter karena alasan (dangkal) yang sama. sama dangkalnya dengan menjagokan Portugal karena ada Christiano Ronaldo-nya mungkin. Partai yang pertama saya tonton adalah Inter vs Roma. Saya ketiduran padahal berharap melihat gol ronaldo, dan mendapati paginya dari teman SD saya bahwa Ronaldo mencetak gol.


Selanjutnya, setelah demam piala dunia meredup, saya tetap mendukung Inter, bahkan ketika Ronaldo pindah ke muara pemain-top-tak -tahu-terima-kasih-dengan-klub-asalnya, Real Madrid. Lalu saya mulai menikmati kecintaan saya terhadap sepak bola. Tiap weekend nonton bola. Kalau mau dibelikan baju maunya baju bola. Saya memiliki gacoan di tiap liga eropa. Liga italia, Inter tentunya. Liga Inggris , MU. Liga Spanyol, Real Madrid. Liga Jerman, Bayern Muenchen. Terlihat mainstream memang. Tapi itulah otak anak SD.


Perkembangan Inter Milan pun naik turun. Kesuksesan yang gemilang terakhir adalah juara UEFA Cup 1997. dimana saya belum mengikuti dunia ini, dan hanya bisa melihat cuplikan Ronaldo mengangkat trofi ketika Planet Football tiap Sabtu siang dimulai.


Dan setelah piala dunia 1998 itu, Inter terus menjadi penempel raksasa Italia saat itu--yang belakangan terbukti melakukan skandal calciopoli--Juventus. Rivalitas keduanya adalah yang nomor satu. Sampai-sampai kita ketahui sendiri, pertandingan antara keduanya dijuluki “derby ‘d italia“, bahkan sebelum jumlah scudetto Inter yang kedua setelah Juve. Mungkin karena (saat itu) kedua tim belum pernah terdegradasi. Dengan Milan? tentu saja ”derby della madonina” selalu menarik. dan sialnya saat itu adalah saat yang tidak terlalu bagus untuk Inter, bahkan Juventus dan Milan juga ketika Parma dan Fiorentina yang menguasai capolista serie-A saat itu.


Tidak cuma itu, inter juga cukup terasa seperti ‘hilang sejenak’ ketika tidak mampu melakukan gebrakan apapun baik di kompetisi lokal maupun eropa. saya pun sempat tidak memperhatikannya, walaupun kalau ada yang bertanya dukung siapa, akan tetap kujawab dengan bangga: Inter Milan.


Pak presiden, Masimmo Moratti memang agak gegabah dalam memilih pemain. uang yang digelontorkan digunakan untuk membeli pemain-pemain mahal, namun sayangnya pemain mahal itu juga tidak banyak membantu untuk kedigdayaan inter secara tim. Dan satu lagi, Moratti kerap menggunakan egonya dan seleranya untuk memilih pemain mana yang dibeli. Vieri dan Ronaldo sempat menikmati bangganya menjadi pemain termahal di dunia, ketika Moratti memboyongnya dari klub asal mereka masing-masing.


Segalanya datar, bahkan ekstrimnya tim ini pernah tidak mendapat jatah kompetisi regional apapun karena di berada di peringkat 8 pada akhir musim. Hingga terungkapnya skandal calciopoli, dimana Juve sang scudetto memiliki ‘dosa’ paling besar dalam skandal pengaturan skor ini. Untuk itu, scudetto Juve dicabut, Inter yang menempati posisi dua merengsek menjadi scudetto praktis. Juventus turun ke serie-B. Sementara beberapa klub lain yang terlibat juga diberi pemotongan poin awal musim.


Selanjutnya Inter scudetto tiap musim, hingga scudetto ke-18 ini, dan memastikan eksistensinya dalam skala lokal. Ini berarti jawaban atas dahaga panjang setelah masa-masa suram gelar lokal sekalipun. Dan awal penapakan menuju La Grande Inter II.


Pun demikian, lagi-lagi Moratti membawa silih berganti pelatih-pelatih baru untuk membawa Inter juara champion. Dan ujung penantiannya ternyata pada Jose Mourinho, The Special One. Secara mengejutkan Inter membunuh Chelsea, Barca, dan pada finalnya, Muenchen.


Merupakan sejarah yang mungkin hanya jadi angan-angan sebelumnya bagi interisti di seantero dunia. penantian 45 tahun akhirnya tergapai jua. Moratti berjingkrak, Zanetti tertawa bangga, Mourinho terharu. Interisti berpesta. Inter treble. Inter bukan lagi jago kandang. Sebuah pemandangan yang mungkin saja akan bersiklus 45 tahun lagi. Dari sebuah generasi yang menyaksikkan, untuk membuatnya menjadi generasi yang merealisasikan. Dari seorang Moratti jr. yang menonton hingar bingar hasil kerja ayahnya, untuk merealisasikannya ketika dewasa nanti.


Dari Luigi Simoni, Lucescu, Marcelo Lippi, hingga Mancini, Mourinho. Dari Bergomi, Ronaldo, Baggio, Zamorano, Recoba, Vieri, Robbie Keane, hingga Maicon, Sneijder, Milito, sampai si labil Ballotelli. Dan Zanetti yang setia bertahan. Beberapa generasi telah datang dan pergi. Dan kami interisti adalah saksi.


Dan akhirnya satu tifosi ini tersenyum. Memang, penantian panjang dan berbuah kesuksesan akan terasa lebih manis daripada proses yang instan. La Grande Internazionale Milano, kembali.

Memang, menjadi tifosi setia di klub yang terpuruk akan lebih berharga daripada tifosi karbitan di klub yang dalam masa keemasan.


No comments: