Sunday, 13 June 2010

sekilas tentang piala dunia, mengisi waktu kosong, menunggu inggris vs amerika

mungkin ini bukan world cup yang pertama kali ku ikuti. ini yang ke--satu, dua, tiga, empat dari 1998, 2002, 2006, dan terakhir--2010. namun baru terasa ya, bagaimana ini bukan cuma sekedar ajang 4 tahunan untuk ditonton. bukan cuma demam 1 bulanan untuk menyimak seluruh pertandingan dengan serius, menjagokan tim (negara lain) kesayangan, dan hal-hal subyektif lainnya.

sepak bola telah menjadi bisnis--seperti kebanyakan olah raga lainnya. sepak bola telah menjadi gengsi. sepak bola telah menjadi mimpi yang dijual untuk suatu masa depan yang cerah, kehidupan bahagia duniawi. namun tetap saja, diatas semua itu, sepak bola adalah hasrat dan kesenangan.

dan world cup adalah puncak atas segalanya. turnamen ini adalah gengsi yang akan menjadi perhatian penikmatnya seluruh dunia, penikmat olah raga paling universal, olah raga murah meriah ini.

negara yang mengikuti berarti negara-negara yang dihormati di tiap benuanya--paling tidak di mata penggemar sepak bola. negara-negara ini adalah negara yang telah menembus batasannya--baik secara teknis maupun kultur. kita bisa bilang kalau brasil adalah bekas jajahan portugal, namun di sepak bola, portugal dijuluki 'brasil-nya eropa'. negara-negara seperti brasil dan argentina mungkin dianggap sebelah mata dalam pengaruhnya di perekonomian dunia, namun di dunia ini, dunia si kulit bundar, mereka dihormati laiknya sepuh olah raga ini.

bahkan, tim yang mewakili tiap negara ini adalah pahlawan bagi setiap negara yang dibelanya. mereka dielu-elukan, didukung sampai mampus, digilai, dan tentu saja--saya bisa jamin--diinginkan seluruh wanita di negaranya. presiden melepas kepergian mereka, menjadi duta bangsa untuk mengharumkan nama bangsanya. terlepas dari kadar nasionalisme si pemain, keikhlasannya untuk berjuang atas nama bangsa, negara akan diuntungkan oleh pemain hebat dari negaranya, dan tentunya pemain juga diuntungkan dengan kesempatan 4 tahun sekali untuk disaksikan milyaran pasang mata di seluruh dunia kelihaian mereka dalam memainkan sepak bola. inilah ajang terampuh untuk menjual skill pemain. manajer klub-klub elit dunia akan selalu mengikutinya, mencari bibit-bibit potensial di planet ini.

dari segi bisnis--seperti yang saya kemukakan di awal tulisan ini, menggiurkan--karena ini adalah ajang dimana milyaran pasang mata melihat papan reklame pinggir lapangan, alih-alih permainan di lapangan. perusahaan besar akan memperhitungkan ajang ini untuk menyumbangkan dananya untuk membantu stasiun tv membeli hak siar piala dunia, dengan imbalan promosi besar-besaran di kemasan penayangan resmi tersebut. memanfaatkan momen gila bola ini untuk menjual pernak-pernik berkaitan dengan ajang ini, maupun dengan negara yang menjadi peserta (ini fenomena yang terjadi di indonesia, entah di negara lain seperti apa jika tim-nya tidak lolos). bahkan perusahaan operator selular hanya membubuhkan kata 'bola' dalam promo terbarunya, meskipun tak ada unsur-unsur bola di dalamnya. konypl memang.

perusahaan sepatu unjuk gigi dengan pemain yang mereka endorse. pemain tersebut bersinar, banyak yang mengidolakan, makin diminati sepatu si idola. tim yang mereka sokong juara, meningkatlah penjualan kaos tim tersebut, jika kita membeli yang asli--maka bertambahlah pundi-pundi si perusahaaan ini. belum lagi nilai non-materi seperti kesetiaan pelanggan dan eksistensi brand tersebut di mata pasar.

seakan tak ada bisnis yang tidak memberikan sedikit saja 'titipan' ke dalam ajang ini.

inilah mengapa tadi saya bilang bahwa sepak bola--sedikit banyak, telah menjadi komoditas bisnis yang menggiurkan.

bahkan 'ajang-milyaran-pasang-mata-di-dunia' ini akan menjadi ajang untuk melempar pesan global masyarakat dunia. mau eksis? silakan lari bugil ke tengah lapangan di final piala dunia, seraya membawa papan bertuliskan 'don't wear fur'. nama anda akan tercantum di buku sejarah persepakbolaan dunia hingga 100 tahun ke depan. pesan anda? setidaknya tersampaikan ke milyaran pasang mata yang menontonnya. terlepas anda akan dianggap aktivis pencinta fauna atau orang gila nyasar.

tuan rumah? mereka lah yang dapat imbas paling besar atas penyelenggaraan ini. bisa dibilang, penyelenggara acara ini berarti telah menjadi 'negara maju', dikarenakan besarnya tingkat kesulitan dalam penyelenggaraan acara ini, besarnya dana yang dikeluarkan, usaha yang dikeluarkan, bahkan besarnya apresiasi masyarakat dunia terhadap ajang ini, dan bukan tidak mungkin hingga setiap warga negara memiliki kewajiban untuk berkontribusi untuk menyiapkan negaranya menjadi tuan rumah. bisa dibilang, ini lah 'perang' negara penyelenggara dengan segala halangan yang merintangi.

kerasnya usaha ini, tentu saja berbanding dengan apa yang akan mereka dapatkan nantinya. saat ratusan ribu warga negara asing datang ke negaranya, potensi besar di bidang pariwisata menanti. saat segalanya terkendali, investor tergiur untuk penanaman modal di negaranya. keberhasilan acara ini adalah faktor yang akan meningkatkan bargaining position negara tersebut di mata internasional. karena sadar tidak sadar, sepak bola itu buta, bahkan terasa tidak terasa seorang presiden dapat memiliki sentimen positif terhadap negara yang berhasil menyelenggarakan piala dunia ini. bahkan jika sebelumnya mereka adalah negara yang saling memusuhi. inilah yang saya percayai. apapun yang dilakukan, pasti memiliki efek sekecil apapun, hingga sebesar apapun, terhadap apa yang akan kita lakukan nanti. hidup yang sesimpel aksi-reaksi. hembusan nafas saya di malam ini mungkin saja membunuh orang di belahan dunia sana.

rasanya tak akan ada habisnya jika kita bicarakan aksi-reaksi terhadap ajang yang bernama 'piala dunia' ini. dan saya sudahi saja sampai sini. bentar lagi inggris vs amerika. mari nikmati bersama!


No comments: