Saturday, 17 July 2010

sepucuk cerita dan ucapan selamat

sebenarnya entah ada angin apa saya ingin menulis tentang seseorang ini. dia adalah seseorang yang luar biasa. dia adalah orang yang pernah cukup dalam menyelami kehidupanku, dan saya juga pernah cukup dalam menyelami kehidupannya. kami pernah berpacaran. cuma bukan masalah percintaan yang ingin kuangkat. biarkan itu jadi masa lalu dan kita ambil hal positif untuk dibagi dalam postingan ini.

namanya dissa samatha. panggilannya dissa. jurusan teknik lingkungan itb 2006.

sebenarnya sempat tidak kepikiran kalau dibalik gaya hidup bersenang-senangnya ini, seorang seperti dia ternyata selalu mengukir nilai yang selalu jumawa. seperti kebanyakan anak TL (subjektif ini), hobinya adalah bergaul bersama teman-teman,menonton film terbaru, karaoke, dan hedonisme lainnya. namun di organisasinya dia juga memiliki hasrat yang cukup tinggi untuk berkarya. dan keinginannya yang kuat dalam keorganisasian terbukti dalam kontribusinya dengan menjadi ketua wisuda himpunannya, badan pengurus unitnya, dan senator himpunannya.

Setahuku, dia hanya belajar ketika menjelang ujian, mengerjakan tugas juga suka menjiplak (normal kok ini), tetapi apa yang dilakukannya ini memiliki hasil yang berbeda dibanding teman-temannya (juga saya, dan jujur saya sering iri). kalau saya cari-cari apa rahasianya, mungkin adalah penjadwalan waktu belajar yang ketat menjelang UTS/UAS (dulu saya mencoba mengaplikasikannya namun hasilnya biasa-biasa saja), jejaring hubungan antar manusia yang selalu baik jika butuh bantuan untuk tugas, dan cara belajar yang efektif dan efisien (ini yang takkan bisa ditiru, mainannya insting). tambahkan kalau ada yang kurang dis,terakhir update semester enam kalau tidak salah.

dan dibalik semua itu, satu hal yang sangat saya senangi adalah, dia memiliki satu motivasi yang mulia atas segala kecemerlangannya itu, yaitu ibunya. saya tidak perlu menceritakan kehidupan pribadi dia disini, tapi dari semua hal yang kudengar, dan kurasakan langsung, ibunya memang seorang wanita yang hebat. figur ibu yang akan membuat anaknya segan untuk berbuat nakal, walaupun si anak tak pernah sekalipun dimarahi seumur hidupnya. seperti kasih ibu yang biasa kita baca di kisah cerita rakyat indonesia. dan terus terang, saya menyenangi hubungan diantara mereka berdua yang manis (walau seperti kebanyakan anak muda sekarang, benturan antar-generasi memang merupakan hal yang normal). mungkin terlihat biasa bagi kalian, tapi bagi seseorang dengan ibu yang 'rock 'n roll' seperti saya, itu seperti memberikan figur ibu ke-2.

dan hal termulia yang pernah kudengar adalah: aku ingin sekali dapat IP 4 (terakhir bertanya sih belum tercapai,nyaris), TA engineering (tercapai), dan kerja di Oil & Gas, untuk mebanggakan ibuku. hmm..kurang yakin juga sebenarnya redaksinya seperti apa. tapi kira-kira seperti itu. yang jelas hal tersebut sangat manis.

dan lihat sekarang. hari ini, 17 juli 2010, dia diwisuda di sasana budaya ganesha, bandung. dan yang membanggakan, namun tidak mengherankan, dia lulus dangen predikat cum laude (sumber: secarik kertas berisi daftar wisudawan FTSL yang tergeletak di studio gambar sipil kemarin siang). yeah, dissa samatha, kamu telah membanggakan ibumu. apa yang lebih membahagiakan daripada itu? sebuah perjuangan episode kehidupan ini telah dirampungkan dengan sempurna. selanjutnya adalah episode yang akan lebih menarik (atau setidaknya kamu yang buat ini jadi lebih menarik, haha).

dan terakhir, mungkin saya cuma bisa memberikan selamat atas segalanya. maaf tak ada hadiah yang bisa saya berikan. terima kasih karena telah menjadi bagian dari puzzle kehidupanku, bagian pendewasaanku. jangan cepat-cepat dibuang nilai yang didapatkan di kampus milik rakyat ini, dan selamat turun ke masyarakat! doa ibu bersamamu.

*salam buat ayahmu, ibumu dewi dewanti, raras, ninis, dan dika--kalau-kalau tak sempat bertemu nanti






Thursday, 15 July 2010

Seorang Pengamat

Saya terdiam. Mulut rapat, tidak tersenyum, tidak pula murung. Mata menyipit, berkomodasi hingga mencapai fokus yang diinginkan. Telinga mendengar dengan jelas. Sejelas desir angin sepoi-sepoi terdengar, sejernih tetesan air di luar sana terdengar. Terlihat serius, namun santai karena tidak ada otot yang tegang.


Ya. Posisi mengamati. Sejak beberapa tahun terakhir, semenjak bersentuhan dengan sesuatu hal yang disebut dengan ‘filosofi’—sebenarnya lebih tepat bila disebut dengan ‘engineering’s senses’, dimana dibalik suatu aksi pasti terdapat hal-hal terstruktur yang menyebabkan keluarnya ‘aksi’ itu. Entah itu kebutuhan, entah itu emosi, entah itu kepentingan tertentu. Karena setiap hukum memiliki formula, dan formula tersebut tersusun atas variabel-variabel dan konstanta dengan jumlah yang berbeda, namun memiliki pola yang sama—formula itu sendiri. lalu saya berusaha untuk memahami hidup—dengan pikiran saya sendiri, mencari-cari pola, dengan mengamati secara langsung.


Interaksi antar-manusia, fenomena-fenomena alam—yang kadang bisa kita temui dalam kehidupan manusia, adalah objek pengamatan yang tiada habisnya. Seakan-akan alam semsta mengajari kita untuk bertindak mengikuti fenomena-fenomenanya. Mencari-cari dimana keterkaitan perilaku manusia ini terhadap hukum alam ini. Sesimpel gravitasi, apel jatuh ke bumi. Pengaruh komunitas yang ‘beratnya’ trilyunan kali lebih besar akan membuat seorang manusia ‘tertarik’ mengikutinya, berbanding terbalik dengan ‘jangkauan’ diantara si komunitas dan individu.


Terkadang saya duduk di pijakan tertinggi ruangan himpunan ini—lantai dua. Duduk mengamati. Bagaimana obrolan-obrolan ‘anak jaman sekarang’ mengenai tren-tren aktualisasi diri, telepon genggam bermerk tertentu, jejaring sosial terdepan saat ini, masalah beratnya kuliah, atau apapun yang mereka ributkan—dengan berbagai macam ekspresi, intonasi, karakter, masing-masing individu yang konon (sampai saat ini) makhluk Tuhan yang paling mulia ini.


Saya menyukai ini. Lama kelamaan saya mengenal karakter orang ini, saya menebak-nebak apa yang akan dilakukannya lima detik kemudian, saya membandingkan dengan kebanyakan manusia lainnya dengan latar belakang yang tidak berbeda jauh, mencari-cari polanya, lalu membuat hipotesis: mengapa dia melakukan hal itu?


Kadang tebakan saya benar, kadang tebakan saya salah. Kadang yang dilakukannya konyol, membuat saya tertawa sendiri. Tapi ini selalu menarik. Dan tidak ada sedetikpun buang-buang waktu jika kita mengamati manusia, karena selama spesies dominan di dunia kita ini manusia, maka kunci untuk bertahan di dunia ini adalah mengetahui sebanyak-banyaknya pola-pola tersebut.