Tuesday, 14 September 2010

Darah Garuda: Sebuah Review--spoiler alert


Bagi penggemar film perang, terutama yang berlatar perang dunia II seperti saya, ada baiknya mencoba untuk menyimak film buatan anak negeri (dengan bantuan bukan anak negeri) yang baru keluar beberapa hari ini, "Darah Garuda".

Dan tentu saja akan ada beberapa tulisan yang berbau spoiler di post ini. kenapa? karena saya sangat malas untuk tidak menumpahkan sekalian apa yang ingin kutumpahkan.

film ini adalah lanjutan dari film "Merah Putih" --yang menurut saya agak mengecewakan, karena atmosfer perang yang biasa-biasa saja, padahal dengar-dengar biaya pembuatan 3 seri film ini menembus milyaran rupiah. namun untuk film "Merah Putih" tak ada hal yang bisa saya acungi jempol.

sesuai dengan film pertamanya, Dayan (orang Bali), Tomas (Sulawesi), Marius (Seorang blasteran belanda-indonesia), dan dipimpin oleh Amir (Jawa). keempatnya adalah lulusan sekolah tentara indonesia yang pada seri pertamanya berhasil memutuskan jalur logistik Belanda dengan meledakkan mobil pembawa tangki bahan bakar Belanda.

Peristiwa ini mengambil waktu di masa pasca kemerdekaan NKRI. dimana saat itu perjuangan 'pengakuan kedaulatan' selain dilakukan dengan jalan diplomasi juga dilakukan dengan jalur militer. saat itu Belanda yang baru saja 'diselamatkan' oleh sekutu dari keganasan NAZI Jerman kembali ke nusantara dengan boncengan sekutu dengan nama KNIL (berdasarkan buku sejarah).

Pendudukan Belanda ini lah yang kemudian menimbulkan perlawanan dari "Tentara Republik" dengan komando tertinggi panglima besar Jenderal Sudirman, dimana pada akhirnya keempat tokoh di atas bergabung dengan pasukan republikan ini. Amir dijadikan Kapten, dan 3 orang lainnya jadi letnan. walau kalau dipikir-pikir pangkat itu tidak terlalu berpengaruh karena sedikitnya prajurit yang mereka pimpin. begitu pula dengan perlengkapannya. namun, pencitraan bagaimana tentara-tentara sukarelawan kita ditampilkan menurutku sudah cukup baik. tentara-tentara berblangkon, tak berbaju dan beralas kaki, maupun cara hormat mereka.

kapten Amir dan bawahannya dimasukkan ke divisi intelijen. nah disinilah kebingungan saya akan maksud dari 'intelijen' dalam film ini. pasalnya, yang mereka lakukan adalah pertempuran open fire, bukan silent operation yang dilakukan dengan hati-hati. bahkan mungkin mereka tidak perlu maju ke medan perang, mereka hanya perlu bermain di balik layar, memasok informasi. dan akhirnya saya tak mau ambil pusing dengan kata 'intelijen' ini.

misi mereka adalah menggagalkan konstruksi lapangan terbang di--suatu tempat di pulau Jawa. lapangan terbang itu sangat strategis bagi Belanda karena inilah yang akan melancarkan misi mereka untuk menguasai udara pulau Jawa. sepintas mirip misi di Paleliu dalam miniseri The Pacific, bedanya disini mereka tidak menguasai, tapi memusnahkan si lapangan terbang.

bagitu banyak skenario-skenario kecil sebelum alur besar cerita ini--menetralkan lapangan terbang. bagaimana si Dayan tertangkap dan disiksa dengan 'siksaan jaman itu'--tang pencungkil--walau di film nasional lain saya pernah melihat tang itu untuk mencabut kuku kaki, di film ini untuk mencabut gigi. cerita lainnya ketika mereka bertemu pasukan Islam yang memaksa mereka mengikutsertakan dinamit peninggalan Belanda untuk 'dikembalikan' ke Belanda. Ada pula cerita tentang pengkhianatan teman mereka yang tertangkap Belanda. yang tentu saja membocorkan informasi rencana pejuang republik ini.

kebocoran ini tentu memicu Belanda untuk menambah armadanya di bandara--dan mengosongkan HQ Belanda. membuka ruang bagi mereka untuk meledakkan HQ Belanda ini. dan efek dominonya setelah peledakan ini tentara-tentara kompeni yang menjaga lapangan terbang berhamburan keluar menuju HQ yang diledakkan. maka sepi lah si lapangan terbang. lalu mereka bisa masuk dengan lebih mudah. entah ini memang misi yang dimaksudkan atau tidak, yang jelas strategi ini cukup simpel dan taktis.

selanjutnya penguasaan lapangan terbang Belanda dilakukan dengan beberapa kebodohan dan mukjizat. kebodohan, contohnya bagaimana mungkin saat keadaan sepi--saat alarm belum dibunyikan mereka cepat-cepat mengambilalih machine gun yang kosong melompong, lalu bagaimana mungkin tentara belanda yang under cover--dibalik sak pasir bisa terbunuh oleh tembakan kapten amir yang berdiri di open field dan dalam jarak yang sangat dekat dengan musuh? dan mukjizat--tentunya saat Tomas mampu melakukan aksi-aksi bagaikan aktor pemeran utama die hard lokal, bagaimana ketiga orang yang bersembunyi dibalik bangunan kayu dan diberondong habis-habisan tidak ada yang mati? Lalu Dayan yang datang saat Kapten Amir sujud untuk siap-siap ditembak? dan Dayan yang baru saja tersadar dari sakit sudah segar bugar bahkan kakinya tertembak dan terseret-serat tanah saat pesawat akan terbang? sebenarnya jika film ini berdasarkan kisah nyata jadi agak konyol jika unsur one-man-show-hero ditonjolkan.

tapi secara keseluruhan, film ini mampus membawakan atmosfer perang yang cukup nikmat dilihat. angle-angle yang ditampilkan sangat 'film-perang', apalagi shot-shot cepat penuh kepanikan ala opening-scene saving private ryan, membawa atmosfer perang senyata-nyatanya.

kualitas gambar baik, editing beberapa bagian kacau, sound sempurna--bahkan dengan detil-detil suara tentara bernyanyi lari-lari pagi. kostum, make up, latar tempat, properti--tidak ada cacat. benar-benar membawa kita ke indonesia di jaman itu. hanya saja tembak-menembak yang terjadi tidak sealami saving private ryan, maupun band of brothers--dimana kematian bisa sespontan bahkan ketika tidak dalam posisi siap menembak pun. dan sayangnya tak ada granat yang digunakan, sehingga tak ada lengan terlempar atau muka hancur penyok karena ledakan.

secara keseluruhan, film ini adalah film militer Indonesia dengan efek dan visual yang paling sempurna yang pernah kutonton. sentuhan 'saving private ryan'-nya tersampaikan. kalau melihat film yang kedua ini maka keraguanku akan diapakan uang milyaran itu terjawab sudah.

hanya saja ada 1 yang masih menggantung. saat kapten amir hendak pamit ke istrinya,istrinya bilang "anak kita laki-laki mas". rupanya dukun melahirkan jaman dulu tidak kalah jago sama USG.

No comments: