Monday, 22 November 2010

album kuning

saya memiliki sebuah album kuning, kubeli di ganesha stationary, isinya 60 lembar plastik untuk dimasukkan sesuatu. saya menjadikannya 'album kenangan S-1'.

sekarang sudah keisi dengan foto2 kepanitiaan (warsoma class, rakaprakasa, cakru lfm 06, hms 06, bramakarta, petrapijar, bp hms 09, mana ni aparatoriz sama jagaragawi).

isi lainnya adalah segala hal, kucuali yang berhubungan dgn 1 hal: akademik. tulisan-tulisan hms masa lalu yg kupinjam dari weni waktu 'memperdalam sense kemahasiswaan' seperti l'arc n ciel, les heritiers, caraka mangun karsa, kumasukkan.

skrip film TA cakru '28 oktober', juga dengan storyboard ngasalnya, kumasukkan.

tulisanku selama di hms (untungnya masih ada: merdeka?, bos-bis 2006: wisuda on fire bos!!, dan kaderisasi terpusat, pentingkah?) kumasukkan.

trus nemu juga beberapa sertifikat seminar yg kumasukkan. bukan, ini bukan akademik.

bahkan buletin r32 pas jaman kuya pun kumasukkan. waktu yogi jadi bos of the month dgn jawaban2nya yg masih labil. haha.

beberapa jam lalu saya membereskan rak buku, akhir november ini harus cabut dari kamar ini, makanya bisa nemu 'perkakas-perkakas' kemahasiswaan ini. dan entah kenapa, saya akan jauh lebih sedih jika kehilangan album kuning ini dibandingkan dengan ijazah. banyak memori disini, banyak napas yang menghidupkan semangatku untuk ngampus disini. 4/5 hidupku di kampus cukup terekam disini.

jadi, para ST, sudahkah memiliki album kuning klean?

Tuesday, 9 November 2010

Kuangkat ketikan singkatku ke dunia maya: sebuah tulisan di hari merdeka dengan latar merah putih

Berikut adalah tulisan yang kubuat dalam rangka 'mencoba' memaknai kemerdekaan negara kita, Indonesia yang ke 65, Agustus 2010 lalu. kutempel tulisan ini di beton depan student lounge tempat mading HMS, dengan harapan bisa dibaca oleh siapapun yang lewat, mau itu HMS, 2009 yang belum dilantik, atau bahkan dosen-dosen sekalipun. tentu saja satu lagi di papan pengumuman HMS. kuprint dengan background merah putih agar terlihat mencolok, namun kesalnya begitu cepat tulisan ini dicopot terhitung hari ditempelkannya. rendah juga ya budaya apresiasi tulisan kita. padahal pas saya kuya dulu, dipuji-puji sama pengkader waktu bikin tulisan, padahal kayanya dangkal kali tulisannya. oya, saya tak membubuhkan nama pada tulisan ini, cuma tulisan "Seorang HMS", cuma mau menunjukkan eksistensi anak HMS untuk menulis masih ada, bukan berarti massa BP saya lewat, keinginan saya untuk menyuarakan sesuatu sudah hilang. kiranya itu pengantar untuk tulisan ini. silakan dibaca.


Merdeka?

Merdeka. Sejak orok, hingga beranjak sekolah, hingga kuliah sekali pun, ini yang disumpalkan ke kepalaku untuk sekedar mengingat tanggal 17 Agustus sekian puluh tahun yang lalu. Doktrin mentah mentah untuk memercayai bahwa kita 350 tahun dijajah Belanda dan 1/100 lamanya penjajahan Belanda itu kita dijajah Jepang setelahnya. Tanggal 17 Agustus 1945 kita mencuri-curi, membelot, memproklamasikan diri, dan kita merdeka. Kita terbang dengan bebas bagai elang lepas dari sangkarnya.

Kita menggelar perlombaan untuk merayakan kemerdekaan ini. Lompat karung, memasukkan pensil ke botol, dan tentu saja , makan kerupuk. Entah siapa biang kerok atas selebrasi yang merakyat ini, dan apapun filosofi dari permainan ini, yang pasti kita patut berterima kasih karena suasana kehangatan yang dibentuknya adalah cerminan semangat proklamasi.

Upacara bendera adalah rutinitas dengan koar-koar yang tak berubah tiap tahunnya, “perjuangan pahlawan kita saat perang kemerdekaan hendaknya kita lanjutkan dengan mengisi kemerdekaan”.

Lalu alisku mengernyit, otak bertanya-tanya. Mengisi kemerdekaan? Musuh kita siapa sekarang? Tidak, tidak. Jangan kau awab dengan kebodohan, kemiskinan, dan sesuatu yang buruk dengan imbuhan ke-an lainnya. Itu jawaban normatif yang tidak relevan dengan kondisi sekarang.

Memangnya mereka tak tahu apa yang kita dapatkan sekarang? Kami sudah cukup pintar dengan kemampuan akademis kami hingga mampu masuk ke universitas yang katanya menyiapkan pemimpin bangsa ini. Kami cukup beradab dengan sebatang telepon seluler tidak bisa lepas dari tangan kita untuk mengecek dunia maya. Kami cukup makmur bahkan untuk bergerak mencari warung makan pun sulit sementara uang jajan berlimpah dan memesan makan tinggal menelpon. Kami cukup nyaman, betapa nyamannya kosan kami dengan internet dan TV kabel sehingga susah bagi kita untuk beranjak bergerak. Merdeka, tentu saja kalau kau tahu bahwa orang tuaku berkuasa di pemerintah sana sehingga apapun yang kulakukan takkan pernah salah.

Lalu, simpan semua kata-kata bijak itu. Kami sudah dapatkan semua. Tentu saja terima kasih untuk generasi terdahulu karena tanpanya kami tak mungkin seperti ini sekarang.

Ya, itu kami. Sekian persen warga negara ini. Tak dipungkiri, kami beruntung. Sisanya mungkin sial saja. Terasa tak adil tampaknya.

Silakan adukan hal ini ke Tuhan. Mengapa Dia memilih tanah Indonesia sebagai tempat ditiupkannya ruh diri kita. Mengapa kita tidak bebas memilih di negara maju dengan segala keteraturan, kemajuan teknologi, dan pendidikan yang sudah maju. Mengapa bangsa kita harus bersusah-susah bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan negara berkembang—sebuah litotes alih-alih negara miskin—untuk bisa sejajar dengan negara maju tersebut, itupun dengan catatan negara maju lainnya berjalan ditempat.

Mengapa kita tidak bisa memilih untuk nasib kita—akan ibu dan ayah yang kita inginkan. Mengapa harus dilahirkan oleh ibu yang dibesarkan oleh kultur timur yang mengatur-atur ini itu, mengapa harus dibesarkan oleh bapak yang suka memarahi, mengapa tidak semua rengekan kita dikabulkan kedua orang tua kita.

Lalu, ketika aku beranjak dewasa, aku mampu melihat sesuatu yang salah di luar sana, kupertanyakan banyak hal ke Tuhan lagi. Mengapa pemerintahku ini penakut sekali? Mengapa untuk menyuarakan yang benar saja harus berhati-hati karena takut ‘paman dari negeri seberang’ tak suka? Mengapa yang beruang yang berkuasa? Mengapa seorang nenek istri veteran perang kemerdekaan yang miskin lebih terlihat salah dibanding anggota dewan penerima suap sana-sini untuk menutup mata akan pembalakan liar? Ini yang Kau berikan kepada negaraku, Tuhan?

Dan aku sudah menghirup udara negara ini belasan, puluhan tahun lamanya. Dan aku sudah memakan beras dari tanah ini bertahun-tahun lamanya. Air dari mata air dan hujan di bumi tempatku berpijak ini. Ikan-ikan dari luasnya kekayaan laut negara ini. Buah-buahan yang manis beraneka warna dari pohon-pohon yang tumbuh subur. Semua kunikmati dengan panorama indah mulai dari pegunungan, hingga pantai.

Polusi di pagi hari dari knalpot kendaraan bermotor sarapanku. Sampah berserakan di jalan pijakanku. Banjir semata kaki di kala hujan deras bukan hal mencengangkan. Pengemis di tiap perempatan adalah warga negara dengan pencaharian tetap. Berita kriminal di harian murahan adalah fakta yang jarang terangkat.

Dan senyum-senyum mereka. Kehangatan dalam satu keluarga dalam motor berdesakan berpenumpang sepasang suami istri dan tiga anaknya. Keramahan orang di pinggir jalan kalau aku menanyakan alamat. Wajah-wajah lucu anak SD berseragam diantar sekolah. Kesetiakawanan antara aku dan teman-teman. Berbagi ketika salah satu diantara kami sedang senang, dan membagi ketika salah satu diantara kami kena musibah. Rokok dan kopi, dan perbincangan hangat tentang apapun di pagi yang indah.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, ini negaraku, ini bangsaku. Ini tanah ibu menumpahkan darahnya untuk kelahiranku. ini tanah yang telah menyuburkan padi-padi yang telah masuk ke perutku, membuatku tumbuh. Ini sistem yang telah mengajariku ilmu pasti, ilmu sosial hingga mengantarku ke perguruan tinggi. Ini tanah kami berpijak, bermain, tertawa, menangis, memaknai persahabatan. Ini tanah tempat kami beramal dan mendosa. Ini tanah kami memaknai kehidupan. Ini tanah yang membentukku. Ini tanah yang kucintai.

Dan seharusnya, ini tanah yang terus merdeka, sesuai yang kami klaim 65 tahun lalu. karena yang menantukan nasib atas bangsa ini, adalah kami. Bukan bangsa luar sana yang ingin mengeruk kekayaan kami. Bukan bangsa luar sana yang merasa lebih tinggi dari kami. Bukan setidak merdeka ini yang dimaksudkan nenek moyang kami.

Yang beruntung, yang sial, ketika nasib jadi perbandingan. Sesungguhnya kami semua sama saja. Suratan Tuhan tentang ke siapa ruh kami ditiupkan bukan tolok ukur seberharga apa diri kami. Kami satu, satu yang akan melanjutkan. Dan biarkan kami saja yang mengurusnya, biarkan kami yang memperbaikinya, biarkan sejarah menjadi pembelajaran untuk perbaikan yang akan kami lakukan. Beri kesmpatan agar pahlawan-pahlawan yang mendahului kami bangga akan kami.

Hormat untuk bendera merah putih yang berkibar di atas kepala kami. Hormat untuk para pahlawan yang berani ‘menembus’ zona nyaman, zona tertindas. Menggugurkan satu untuk tumbuhkan seribu. Tak ada yang salah dengan bangsa ini, kesamaan nasib dan kesamaan cita-cita dahulu adalah sesuatu yang mulia, dan akan tetap mulia hingga anak cucumu ini.

Dan kami yakin, gen pejuang itu masih di darah kami.

Merdeka!

Seorang HMS