Wednesday, 22 December 2010

Kau mencela. Kita tua, tapi kita bahagia

ini kudapat dari notes nando di facebook. suatu pagi dia mengetag kami semua dan terbacalah oleh kami semua tulisan ini. ternyata, malam-malamnya langsung diketik apa yang ada di buku angkatan reunian angkatan 1990 ITB. tulisan yang 'tidak biasa' diantara tulisan yang 'biasa' dalam buku angkatan itu.


Hari panas ketika kau berkata, "Aku dari desa. Bajuku hanya dua."

Aku bilang, "Peduli apa. Terus kenapa?"


Karena tak penting lagi apakah kau anak desa, bajumu dua atau tiga, sepatumu bau dan terbuka.

Tak penting lagi apakah kau tidur di mesjid atau numpang di tetangga, sarapan udara dan makan malam seadanya.

Kala kau melangkah ke bumi ganesha dan masuk ke dalam ruangan kelas dinding batu berjendela terbuka, maka kita bersaudara.

Ketika kau duduk bersama-sama di dalam ruang kelas bekas proklamator ternama, seragam putih-putih dasi hitam dengan dada penuh rasa bangga, maka kita satu keluarga.


Hari tetap panas ketika kau berkata, "Aku kehabisan dana. Tak bisa makan apa-apa."

Aku bilang, "Siapa rela? Kujual milikku paling berharga, supaya kau bisa makan dengan lahapnya."


Sebab tak usah lagi kaupikirkan siapa kau, siapa aku, dan siapa teman-teman kita.

Tak usah lagi kau bingung harus berkata apa atau bagaimana harus meminta.

Sebab akan datang suatu masa saat kita tak punya lagi kesempatan bersua.

Sebab akan datang suatu masa saat kita bertambah usia dan akan saling lupa.

Waktu akan lari begitu cepatnya dan menghentikan semua indera kita.

Dan saat itu aku tau kita bersaudara.

Satu keluarga.


Hari masih panas ketika kau berkata, "Aku jatuh cinta. Tapi aku tak punya apa-apa."

Aku bilang, "Sedikitlah menjadi gila. Bawakan coklat dan bunga, dan ini uangnya."


Sebab tak ingin aku duduk melihatmu berduka.

Sebab cinta tak butuh kata-kata.

Kau tahu, sedikit rasa bangga ada di dada saat melihatmu berjalan bersamanya.

Wajahmu bercahaya dan senyummu penuh rasa sukacita.

Coklat dan bunga di dada, membuat kita bersaudara.

Kau menihkahlah dengannya, punya anak beberapa dan berjuang menghadapi dunia.

Kita tetap bersaudara, satu keluarga.


Hari berkeras panas ketika kau berkata, "Aku hanya penjaja. Kau dan mereka VP perusahaan ternama."

Aku bilang, "Kini kau benar-benar sudah gila. Apa sih bedanya kita?"


Sebab jalan kita tak selalu sama dan senada.

Sebab hasil setelah usaha hanyalah milik Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi manajer, VP, mandor atau punya usaha.

Bahkan jika tiba-tiba kau hanya merasa menjadi seorang penjaja.

O, tak bisa kau berkata bahwa kita berbeda.

Tak bisa kau tolak bahwa kita satu keluarga.

Langkahmu macam-macam satu, dua, dan tiga, tapi jangan pernah berkata kita bukan saudara.


Dan hari mulai gerimis ketika kau berkata, "Aku sudah tua. Aku mulai lupa."

Aku bilang, "Kau mencela. Kita tua, tapi kita bahagia."


Sebab keluarga tak hidup sebatang kara. Sebab keluarga sejiwa seraga.

Aku, kau dan teman-teman kita yang pernah duduk di kursi tua bekas proklamator ternama.

Tak ingin aku lupa. Tak ingin aku tua.

Sebab hidup akan penuh warna jika kita bersaudara.

Jika kita satu keluarga.


Hari hujan ketika kau menutup halaman kehidupan.

Aku bilang, "Kau boleh pulang, tapi kenangan tak boleh hilang."


Sampai jumpa kawan lama.

Yang bisa kuberi nanti hanya doa, doa keluarga.


(diambil dari "Mata Rantai Ganesha Buku Angkatan 90itb, FTSP : Teknik Sipil")

3 comments:

htriwibowo said...

paling sukalah dengan kalimat "percakapan" nya bang.

Ghazi Binarandi said...

Nggak nyangka. Tulisan seindah ini ada di sebuah buku angkatan. Bukan pada buku sastra, atau coret-coret seniman jalanan.

muhammad rizqy anandhika said...

semudah curhat, untuk mengeluarkan hal-hal indah, kalau memang itu yang dirasakan. makanya tulisan tak lain dan tak bukan mencerminkan hati dan otak si empunya