Tuesday, 21 December 2010

Kerja:

kamu sekolah yang bener, terus kuliah di PTN favorit, terus kerja di perusahaan bonafid

Perkembangan ekonomi beberapa abad terakhir telah memberikan definisi kerja adalah sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan uang. Sejak TK kita belajar membuat kalimat “Bapak Budi pergi ke kantor” atau saat SD “Ayah bekerja mencari …” yang tentunya jawabannya adalah “uang”. Benarkah kerja, yang sebenarnya sangat berarti luas ini, telah menyempit maknanya menjadi mencari uang.

Dalam suatu malam ketika merayakan dirgahayu kemerdekaan indonesia di kampus, kami anak-anak yang (apapun) kerjanya malam-malam gentayangan di kampus mengadakan perayaan tujuh belasan pukul 00.00 saat 17 agustus. Perayaan dilakukan dengan marching menyanyikan lagu wajib keliling kampus, berorasi di plaza widya, dan menghormati sang saka merah putih di gerbang ganesha. Setelah itu kita kembali ke ‘markas’ dan melingkar, melakukan sebuah diskusi, telaah mendalam terhadap perspektif individu, mengenai apa itu arti kata ‘merdeka’. Dan disinilah seorang kawan berkata. Ketika dahulu seorang temannya berbicara padanya “ cepet lulus, cari kerja, jangan jadi beban negara”, temanku ini tak setuju.

“Memang untuk apa keberadaan negara? untuk membuat rakyatnya bekerja? Untuk memaksa rakyatnya mencari harta sebanyak-banyaknya, meringankan anggaran negara untuk membiayai rakyatnya?”

lantas, apa bedanya negara dengan lahan yang kita kontrakkan untuk menumpang hidup? Untuk bisa bertahan harus membayarnya. Dan itu saja. Tak lebih dari lahan tumpangan, tak ada sesuatu yang ‘lebih’ untuk diperjuangkan daripada sekedar ‘bertahan hidup’.

Lantas, salahkan si bapak-bapak seniman kecapi yang seumur hidupnya digunakan untuk bermain kecapi tanpa pendapatan yang besar, salahkah ulama sebuah pondok pesantren yang kerjanya seumur hidup mendidik santri-santrinya tanpa menghasilkan keuntungan atas pondokannya, atau salahkah seorang penjual nasi goreng yang laku keras enggan membuka cabang dan ingin yang dijualnya tidak bertambah banyak layaknya fastfood luar negeri.

Bukankah manusia diciptakan berbeda-beda sesuai dengan minat dan bakatnya, memiliki akal dan nurani, untuk mampu berbuat lebih dari sekedar binatang? Bukankah uang, semulanya ‘hanyalah’ alat tukar barang satu dengan barang lainnya? Bukankah sebeguna-bergunanya manusia adalah yang mampu berguna bagi orang lain?

Bukankah diatas semua kekayaan dan kekuasaan yang hendak dikuasai manusia, terdapat apa yang disebut sebagai kepuasan batin? Seorang petani di desa terpencil terbebas dari polusi dan akal licik ‘orang kota’ mungkin lebih bahagia dan lega untuk menutup matanya daripada seorang pejabat kaya berkuasa yang punya hutang sana-sini, suap sana-sini, gegap gempita kehidupan?

Saat itulah saya menganggap pekerjaan adalah jalan hidup, bukan cara mencari uang. Pekerjaan adalah sesuatu yang dicintai, membuat dirimu bernafsu, layaknya wanita berdada alami besar berbusana mini namun membuat penasaran. Sesuatu yang takkan bosan-bosannya untuk kau ulik, tak peduli seberapa besar uang yang kau dapatkan, tak peduli seberapa lama kau dibuatnya penasaran.

Seharusnya, pekerjaan adalah alasan untuk apa Tuhan meniupkan ruh kita, menambah satu manusia untuk melengkapi peran yang belum terpenuhi oleh manusia lainnya, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ditanamkan kepadanya.

Seharusnya, gaji adalah motivasi bagi kita untuk melakukan pekerjaan semaksimal mungkin, bukan syarat untuk bekerja/tidak. Bukan sok idealis, tapi coba lihat ke founding fathers negara kita, pejuang-pejuang kemerdekaan kita, pejuang-pejuang diplomasi negara kita dulu, jangankan korupsi, gaji saja mungkin cukup dengan jatah beras sehari.

Seharusnya, seharusnya, ya, hal ideal. Bukan untuk ditelan dan menganggapnya doktrinasi, bagiku, tapi untuk diketahui dan dibenarkan, mau itu langsung, atau perlahan-lahan.

No comments: