Saturday, 22 October 2011

20th century's jobs



 good artists copy, great artists steal.

steve jobs quoted from a renaissance artist, pablo picasso, although in other version it said "bad artists copy, good artists steal". Nevertheless, it's still in the same meaning, which justify stealing as a way to the goodness--or in other quotes version--greatness.

It's about two weeks since steve jobs, ex-CEO of apple inc (or i'd rather to call him an inventor) died, surrendered to his pancreatic cancer and people around the world (especially in a big city, unless farmer in third-world country use ipad to decide the harvest time of their crops, let's call the app 'iHarvest') offer their condolences of their losing such a 'living-inspirator'.

Curious with this 'jobs-ism', let me googled around him, watch former keynotes from him, and found interesting jobs-ography from a film called 'pirates of silicon valley' at comments by an apple-freak below a youtube job's keynote videos. Well as i knew a porn film titled 'pirates', 'silicon' thing, and 'valley' or 'twin hills' thing. But i sweared it's not a porn--wait for it--ography.

Spoiler alert.
Seriously. It's rock. skip to the unitalic words below. 
I told you.

Like other based-on-true-story film, which i always interested in, it doesn't need much time to get to know this about a competition between steve jobs and his staff yet his life-time competitor, bill gates. So funny looked the way they live at dorm : Bill 'king of poker' gates and steve 'peace-mind-chaser' jobs. An unexposed life story, tell how (luckily) normal their college life, though gates win many 'nerd points' over jobs. at least, that's shown at the movie.
it's started when steve jobs and his bro, Steve Wozniak started working to translate kind of 'code' (? well correct me since i'm not informatics geek) to translate the former kind-of-simple-program code into user-friendly code, at jobs's garage. they sold their first product, apple (I). and so on with apple II then lisa (named after his ex-girlfriend's claimed biological daughter with him). they're invented a personal computer. 
on the other scene, there's bill gates (shown as typical nerd) with his pals has a same passion with jobs, make the user-friendly computer. that's barely shown how gates envy with jobs's apple crowded stand at a computer exhibition where he open a stand too. 
apple become undoubtedly a real inventor when used 'mouse' for PC at the first time. they steal the technology from Xerox, and at this scene jobs quoted Picasso's , "good artists copy, great artists steal". 
Gates and his company joined apple while then they re-steal the apple graphic technology for his microsoft. everything's completely ruined for jobs when he fired by CEO he has chosen for his company founded.
the ending has shown that jobs stand on a keynote while a hall-size of gates face welcoming jobs's thanks for lent him US$ 150,000,000 Microsoft's investments at apple. 
the movie released at 1999, so there's no such a reborn of apple led by steve jobs while he started a pack of ciggarette shaped mp3 player called iPod. so the ending is for gates. 




***



so the movie get us to know about half life of jobs. a half of great life. 

right after his comeback to apple, jobs made revolution on entire music industry by developed iPod and iTunes. apple also crafted (i would like to say 'crafted' to creating of apple product due to their artsy design) macbook and macbook pro (a pioneer of multi-gesture trackpad), iPhone (a pioneer (too) of new era of smartphone), and the latest, iPad (the 'thing' that compared with a stone at first release, but now, others followed)


for every joy of a song from iPod. for an hour deadline-work saved by better battery life of macbook pro. for a love of childhood memories saved after watch toys story. for a sweet moment between a dad an his son by their FaceTime. for a simple voice-generated agenda now available for a blind. for delivering soul to the products.

thank you steve. i've never see a great men live in my generation. muhammad, sukarno, tan malaka, churchill, lenin, or even kennedy passed away before i open my eyes. you've shown it little to my generation. thanks


*well i wrote it all in english heh? good job rizqy. and pardon for mis-grammar 

Wednesday, 5 October 2011

Aktor Persimpangan Jalan

Saya seorang aktor dan saat ini saya dihadapkan oleh tiga film pilihan.

Film pertama. adalah film yang telah cukup matang (dengan pengalaman seadanya) adalah skenario terbaik yang paling membuat saya antusias, jalan ceritanya benar-benar terpusat pada diri saya sebagai aktor utamanya. budget produksi ada, namun belum terjamin untuk memenuhi segala kebutuhan hingga film selesai. sebenarnya prospek film ini cukup baik. peralatan dan lokasi yang tersedia sangat mendukung. kesuksesannya (setelah menelan beberapa kegagalan tentunya)--membuka peluangku untuk berjaya di kala muda--hal yang paling menggiurkan di fim ini. hanya saja produser memiliki keinginan agar saya mengambil film kedua atau ketiga.

Film kedua. hal yang cukup tertunda dari beberapa bulan lalu karena saya bekerja di tempat lain. saya telah memiliki sertifikasi mengenai suatu keahlian di film ini yang menjadi salah satu syarat untuk menggarap film ini. film ini memiliki alur cerita yang tidak jelas. memilih jalur ini seperti minta diterjunkan oleh produser ke suatu lokasi yang saya tidak tahu skenario saya disitu apa, namun lokasi ini menjanjikan peningkatan kualitas akting yang mungkin tak bisa saya dapatkan di tempat biasa. sampai saat ini skenario yang saya siapkan adalah mempelajari apapun untuk mengeksekusi film ideal saya, film pertama.

Film ketiga. film yang sangat mainstream. film yang membuat saya harus menjual diri saya habis-habisan karena akan banyak yang akan ikutan audisi film ini. film yang bagus akan dibintangi oleh orang-orang yang berkilau dengan prestasi di sekolah film saya dulu. film yang bagus akan selektif sehingga saya yakin takkan masuk berniat masuk ke flm yang bagus ini. mungkin film lain yang cukup baik saja, tak perlu yang terbaik.

Sebenarnya ketiganya bisa dicoba semua. cuma permainan di waktu yang tepat saya rasa akan menentukan akan menjadi aktor seperti apa saya nanti. dan saya menginginkan cepat-cepat sukses di genre tiga film diatas. karena suatu saat saya berniat untuk hijrah ke film keempat.

Film keempat. film yang tak dibayar oleh siapapun, film yang memiliki banyak peran antagonis yang akan mengganggu. namun ketika anda mampu mengatasinya, anda akan merasa sangat bahagia, bahagia yang kekal.


Sunday, 19 June 2011

Bagaimana Masa Lalu Mengingatkan


Saya cinta masa kecil saya. Walau ada 1 hal yang kulewatkan hingga menginjak remaja dan tak pantas lagi untuk melakukannya: mandi bola.

Rizqy kecil bertubuh kurus, bergigi rusak, beberapa hitam--kebanyakan obat--katanya. Masa kecilnya sering sakit-sakitan (penyakit orang susah), susah makan, benar-benar menyusahkan orang tuanya (yang sedang susah pula). Ketika bayi dia tinggal di rumah nenek, lalu beranjak balita kedua orang tuanya memiliki KPR di Bukit Pamulang Indah V, di rumah kecil seharga tiga juta rupiah (saat permen sugus seharga cepe dapet 3), kalau tidak salah.

Dia cukup cadel di hingga SD awal-awal (dan diledek karena hal itu, selain karena dia ‘cina’). Dia bahan bully-bully anak kelas 3 di jemputan sekolahnya. Dan masih dendam dengan anak-anak itu dimana mereka sekarang.

Anak Komplek

kiri ke kanan: Kevin M. Haikal (nama komplek: Apin), M. Rizqy Anandhika (nama komplek: Kiki), sedang memeragakan gaya berubah kotaro minami menjadi ksatria baja hitam

Di rumah dia memiliki teman yang sangat dekat khas anak komplek. Bangun pagi-pagi, sudah diteriaki di depan rumah “Kiki..Kiki..”. nama kompleknya memang Kiki, begitupula dengan nama komplek ibunya, “Mama Kiki”. Ileran, dengan semangat keluar rumah. Duduk bersama temannya, entah membicarakan apa di bangku coran di depan rumah temannya. Kebiasaan yang bertahan hingga kepindahannya ke rumah yang lebih besar namun di perkampungan, kelas 2 SD.

Normalnya anak 90an, dia menyukai chiki, main petak jongkok, main petak umpet (kalau dapet katakan “hong!”, time-out: “topan”), makan ager-ager-cair-penuh-zat-warna-tapi-enak, beli paddle pop sore-sore saat jam 5 sore menonton ksatria baja hitam.

Dia juga mengoleksi tazos (generasi pertama: #100: tulisan looney tunes—serasa dewa memilikinya), main ‘gambaran’—permainan paling primitif dengan modal kertas bergambar (bergambar belakang polisi lalu lintas) yang di-tos, semangat menukar botol sirup bekas dengan cupang, memetik ‘ceri’ di pohon (belakangan baru sadar itu bukan ceri), menonton doraemon (juga mengoleksi stikernya dari mie sakura), dan bermain jelangkung (dengan perantara mainan batman).

Jangan lupakan pula SEGA. Bukan anak komplek 90-an kalau belum pernah menyentuhnya. Bar Knuckle, Mortal Kombat (nonton teman main ‘fatality’ aja seneng), Power Rangers yang tamatnya gampang, dan the best SEGA game: Sunset Riders.

Sebagai anak baik, pulang ketika adzan magrib. Lalu main lagi malam-malam, terhenti jika jam 9 atau ada “Si Doel”. Suatu malam dia mencakar teman perempuan (dan masih merasa argumennya adalah melindungi diri), lalu dimarahi ibunya. Sejak itu dia gabung dalam TPA (Taman Pendidikan Al-Quran)—dan selalu rangking 1.

Rumahnya kecil. Temboknya penuh dengan coretan gambar, biasa, penyakit anak yang suka gambar. Dia juga selalu mengikuti ekskul gambar di sekolah—dan selalu mengikuti lomba gambar setiap hari listrik nasional yang diadakan oleh kantor ayahnya. Biasanya mendapat juara harapan.

Kehidupan Sekolah

Akademik sangat baik. Selain kelas 1,4,dan 5, dia selalu peringkat 2 atau 3. Kelas 1 selalu ranking 5 di semua ‘cawu’, kelas 4 (The Golden Age) selalu ranking 1. Kelas 5 jatuh ke 6 karena adaptasi ke Malang, Jawa Timur. Lalu selalu rangking 2 sampai lulus karena kalah rajin sama anak perempuan—dan jago bahasa Jawa.

Di Golden Age tersebut, dia begitu di sayang ibu gurunya, Ibu Erni. Dan karena kejumawaan akademiknya, dia disukai dua wanita sekaligus saat itu. Ines dan Dina. Gosipnya beredar dan tahu apa yang dilakukannya dalam menanggapinya: Mencak-mencak. Emoh-emohan. Malu. Sangat tipikal anak Indonesia.

Usia yang Sama Hari Ini

Sekarang tentu berbeda. Rhenald Kasali menyebutnya generasi-C. C bisa berarti cyber, connected, atau chameleon. Generasi yang update dan labil. Anak-anak pada generasi ini akan berperilaku serba-terhubung. Mungkin di sekitar kita sendiri, bagaimana sepupuku yang masih balita dan batita bisa pukul-pukulan untuk rebutan Ipod Touch (kisah nyata). Bagaimana seorang remaja akan mengisi waktu luangnya (atau seluruh waktunya) dengan social-networking, padahal di depannya ada temannya (juga dengan kesibukan yang sama). Dan bagaimana trend begitu berpengaruh dalam gaya rambut, busana, bahkan tingkah laku saat ini.

Dan hal-hal klasik yang sedikit melelahkan, seperti bermain di luar, mungkin bisa digantikan dengan permainan interaktif dalam ruangan. Membeli chiki demi koleksi tazos, mungkin sudah lenyap karena segalanya sudah bisa didapatkan dengan selancar jari di dunia maya. atau 'Tazos on Ipad' .Namun, suasana, tak tergantikan. Apalagi ketawa bocah ketika purnama menerangi malam, tak tergantikan.

Mungkin inilah yang dinamakan dengan kerinduan masa lalu. Pantas aja orang suka berjuang mati-matian dalam mewujudkan suatu acara yang mengangkat romantisme masa lalu mereka. Baik itu pakaian, dekorasi, bahkan makanan. Begitu pula restoran yang menyuasanakan dengan suasana nostalgia yang ingin mereka angkat. dan semalam begadang pun takkan cukup untuk membuka lembaran-lembaran lusuh yang masih menyangkut di kepala itu. Ada hal unik yang pasti sudah tak bisa didapatkan saat ini. Dan Rizqy saat ini, tetap mencintai masa kecilnya.

Sial, kok bisa mandi bola belum pernah.

Sunday, 29 May 2011

Jejak Pertama


setelah sekian lama tak punya waktu untuk menumpah di blog, akhirnya kesampaian juga di minggu malam ini. waktu kosong yang sangat berharga untuk menjembatani dunia kerja dan angan-angan di kepalaku.

kira-kira ini sudah 2 1/2 minggu saya di ibu kota Kalimantan Timur, Samarinda. bagaimana asal mulanya saya 'terjebak' disini? adalah tantangan yang diperkenalkan oleh teman saya yang mantan kahim SBM, Brian Yohanes Wiseso. Tautan ini dan ini lah yang membuat saya tergoda tertantang.

Samarinda

ini pertama kalinya saya menginjak tanah borneo. sebelumnya saya baru menginjak pulau jawa, sumatera, bali, batam, dan singapura. jadi ini pulau ke-6. bersyukurlah kau kalimantan.

Samarinda adalah kota yang adem ayem, secara fisik, panas. konon kota ini sangat stabil namun dari segi pemerintahan masih sangat 'indonesia' (baca: buruk). di sebelah kantor gubernur Kaltim, di tepian Sungai Mahakam, terdapat rumah dinas gubernur yang sangat sangat sangat megah sehingga kukira kantor pemerintahan. dan benar saja, rumah dinas itu dibuat dengan dana 75 M dan sekarang gubernur yang membangunnya mendekam di penjara.

Rumah 'Istana' Dinas Gubernur Kaltim

jalanan lebar, angkot tidak se-seenaknya ibukota, namun motor disini menganggap semua jalan adalah sirkuit--siang malam, minta ditimpuk--kalau bukan tanah mereka sendiri sini. drainase tak terlalu baik. jalan protokol kurang mencerminkan ibu kota propinsi yang kaya. makan relatif lebih mahal. dan yang cukup berbeda, mobil double-cabin pick-up macam strada sangat laku disini, entah yang kotor karena dipakai ke tambang benar-benar, atau yang kinclong karena cuma dipakai buat mejeng di mall setempat.

secara komposisi penduduk, disini hidup berbagai macam suku bangsa, diantaranya Banjar, Jawa pendatang (kebanyakan Jawa Timur), Bugis, dan Dayak. sesuai sejarahnya, nama Samarinda berasal dari kata Sama-Rendah, yaitu nama pemberian Sultan Kutai untuk daerah yang takkan dibeda-bedakan penduduknya dari etnis manapun, maka berkembanglah Samarinda ini menjadi kota yang multi-etnis.

Makanan disini tidak terlalu banyak variasi. paling mudah dijumpai adalah tukang nasi goreng, pecel ayam, dan soto ayam lamongan, mengingat banyaknya orang Jawa yang mencari peruntungan di kota ini. beberapa yang khas adalah soto banjar yang berisikan daging ayam dan telur hancur, dengan perkedel dan bihun, dan kuah yang sedap. di beberapa tempat ada ikan bakar air tawar. karena air tawar maka rasanya mendekati mujaer semua, sementara mengapa ikan air tawar tak lain tak bukan karena disini ada Sungai Mahakam, sungai terlebar di Indonesia dan ikan disini tentu bukan ikan air laut.


Kerja

tempat kerja saya adalah sebuah kantor sebuah divisi teknik suatu perusahaan properti mewah milik sebuah keluarga di Samarinda, namun juga diimbangi kesibukan untuk melihat proyek secara langsung. seperti yang telah dipelajari dalam kuliah praktek, keadaan lapangan akan sangat jauh dari idealitas suatu desain. suatu desain akan sangat kuat dalam aspek presisi, namun keadaan lapangan tak akan semudah itu untuk mendukung presisi tersebut. disinilah pengalaman berbicara dalam menentukan toleransi-toleransi yang akan diberikan.

contoh paling simpelnya, jika kita membutuhkan 1 sak semen dalam suatu desain kolom, maka kita harus membeli lebih dari 1 sak tersebut karena kita belum menghitung semen yang menempel dan tak terambil di molen, semen yang terjatuh di perjalanan, dan semen yang terbuang keluar dari bekisting. bukan melulu mengenai 'kenakalan' kontraktor. tentu saja toleransi bisa diperkecil dengan kontrol yang lebih baik. dan perlu diingat, sebuah kontraktor menjalani bisnis, tentu saja neraca harus menunjukkan keuntungan.

disinilah saya merasa beruntung karena bos saya adalah seorang kontraktor berpengalaman puluhan tahun. dia menjadi GM Teknik di perusahaan ini--per 1 Juli perusahaan ini menjadi perusahaan mandiri sehingga mungkin dia menjadi Dirutnya. dia pernah menduduki posisi penting di suatu perusahaan kontraktor namun karena gaya hidupnya "rock n roll 'n fuck 'em up" dia terjatuh, sebelum akhirnya bertobat walaupun sisa-sisa kehidupan lamanya masih berasa.

bisa dibilang, kami di perusahaan konstruksi dengan 1 orang GM, 3 orang asisten teknik, dan 1 divisi keuangan, dalam sebuah ruangan menurut hematku, ini ladang pembelajaran yang sangat ranum. perusahaan yang sedang berkembang, jumlah orangnya sedikit, dan memiliki visi yang cerah. tempat yang cocok untuk belajar mengenal 'apa yang terjadi di atas sana' dan 'bagaimana transisi perusahaan dari kecil ke besar', alih-alih 'mencari uang sebanyak-banyaknya'. ini tantangan yang temanku tawarkan sejak awal. bertukar pikiran dengan seorang decision-maker inti perusahaan akan tetap menghidupkan api semangat bagi mereka yang ingin menentukan nasib dari tangan mereka sendiri.

keseharian dipenuhi dengan sales material keluar masuk kantor, bos memarahi tukang, bos besar memanggil dan meminta perubahan yang kebanyakan tak masuk akal, memodifikasi desain awal, menginspeksi kondisi lapangan, partner kerja yang berpengalaman, semua bisa dicari pembelajarannya. bahkan ketika porsiku hanya sebagai pengamat. saya akan menjadi pengamat yang jeli untuk selalu memasang mata dan telinga, mempelajari. intinya, tak boleh ada hari yang tak memberi nilai tambah atas isi kepalaku. kecuali hari minggu.

bahwasanya rezeki Tuhan yang mengatur. bahwasanya setiap pekerja keras akan mendapatkan hasil yang setimpal. bahwasanya Tuhan selalu membuka pintu lainnya ketika Beliau menutup 1 untuk kita. dan hidup adalah memasuki setiap pintu tanpa henti dan mengeluhkan ditutupnya sebuah pintu. jika tidak, kita telah mati.









Monday, 2 May 2011

Kuningan-Sawangan, 50 jam.

"Jeez you're so crazy for studying to read other language reads!"

ucapan diatas diucapkan oleh seorang guru bahasa Inggris IELTS preparation di IALF, Jakarta, bernama Barbara W. diucapkan ketika kami sedang berlatih soal-soal reading tes IELTS--International Examination Language Testing System. Sadar atau tidak sadar, memang 'gila' untuk mempelajari tulisan dalam bahasa diluar bahasa ibu kita--dalam dua minggu, apalagi jika tulisan yang dibaca adalah tulisan 'dewasa' yang isinya 'akademis' sekali.

dan beruntunglah si Barbara dilahirkan sebagai warga negara Australia, berbahasa ibu bahasa Inggris--bahasa pusat peradaban saat ini. dia tak perlu belajar bahasa Inggris, IELTS preparation, membaca subtitle di bioskop. dan dia tak perlu belajar bahasa Indonesia--negara yang saat ini didiaminya. orang Indonesia lah yang akan berusaha memahaminya, hal yang berbeda jika kita yang ke Australia.


IELTS Preparation.

saya mengambil kursus ini untuk mengupgrade diri saya dengan cepat untuk mampu mendapatkan skor IELTS yang mumpuni. durasinya 50 jam, 5 hari tiap minggu, 5 jam tiap harinya. ditambah 1 jam istirahat, maka kami belajar 6 jam dari jam 9 sampai dengan jam 3.

bertempat di Sentra Mulia Kuningan, seberang Pasar Festival, saya melakukan perjalanan jarak jauh dari Sawangan, Depok ke Kuningan, Jakarta. dua moda saya gunakan, dari rumah ke terminal Ragunan sepeda motor/mobil pribadi, lalu menunggangi Bus Trans-Jakarta hingga Kuningan, Halte GOR Sumantri. total perjalanan 1,5 - 2,5 jam, tergantung kondisi lalu lintas dan cuaca.

di kelas, saya mendapati cukup banyak variasi latar belakang dan tujuan mengikuti kursus ini. 1 orang sangat jumawa sehingga kami sekelas heran buat apa dia ikut kursus ini lagi; 2 saudara belum lulus SMA hingga terlalu dini untuk bergaul dengan kami-kami yang telah dewasa,matang, dan 'nakal'; 2 orang bapak yang sudah beranak namun sikapnya jadi bocah lagi ketika di kelas; dan 2 teman se-almamater. sisanya ada anak gaul radio, perempuan yang suka latah dan betawinya 'kentel banget'. dan beberapa lainnya.

namun rata-rata memiliki tujuan yang sama: berkuliah di luar negeri. kebanyakan Australia, ada yang ingin lanjut di Belanda, 1 orang ke Korea, Malaysia, UK, dan sekedar iseng dan menguji kemampuan. saya sendiri mengambilnya untuk mencoba aplikasi visa 476 australia, silakan di-google kalau ingin tahu.

IELTS preparation ini benar-benar menekan dengan sangat intensif, dengan standar setiap harinya kami minimal melakukan satu putaran latihan semua jenis tes IELTS. jadi mabok IELTS dan pulang-pulang tak ada nafsu sedikitpun untuk membuka buku kembali. dilakukan 2 kali try out, tanpa pemberitahuan mengenai prediksi Band Score.

secara keseluruhan, sangat direkomendasikan untuk anda yang ingin tes IELTS, karena 2 minggu intensif ini sangat menjejali otak anda dengan IELTS, baik secara tip & trik, maupun konten dan kebiasaan yang menjamin ketidakcanggungan saat mengerjakan IELTS. dan langsunglah tes, keburu ilmu anda menguap.


Tes

saya mengambil tes IELTS bnar-benar sehari setelah hari terakhir kursus. dikarenakan minggu depannya pasti tidak bisa mengikutinya. sejauh yang saya rasakan cukup lancar, cuma memang selalu saja ada kekhawatiran akan nilai writing saya, yang selalu saja rendah. doakan saja baik-baik saja. (berani-beraninya minta didoakan dari blog)








Friday, 11 March 2011

sedang mencoba wordpress, kalo asik diterusin

Friday, 25 February 2011

Suku Bangsa

suku bangsa telah menjadi jati diri yang mau tak mau tercangkok dalam setiap manusia. kesamaan suku dalam suatu komunitas, entah bagaimana terbentuknya--mungkin karena perkawinan beberapa generasi sesama satu nenek moyang, menjadi unik karena akan memberikan genetika yang cenderung sama, sebagai konsekuensinya, kecocokan perilaku diantara anggotanya. dengan bantuan lingkungan, sebuah kebiasaan tercipta dan terpelihara.

bagaimana dengan seorang muhammad rizqy anandhika?

ayah saya adalah seorang dengan suku Lampung. ya, ada rupanya suku Lampung itu. ciri fisik hampir sama dengan orang Palembang dan Bengkulu. kulit putih mata sipit, benang merahnya adalah nenek moyang kami tentu saja pelaut cina pimpinan kubilai khan yang singgah ke bumi sriwijaya dan menikah dengn gadis setempat. suku Lampung beragama Islam. ada dua macam suku Lampung kalau dilihat dari bahasanya, yang sangat kontras. yang pertama, Lampung pesisir, lalu yang kedua Lampung pedalaman. nah saya adalah yang pesisir ini. ya, nenek moyangku seorang pelaut. keluarga di kampung juga masih nelayan.

dari garis ibu, saya adalah seorang Betawi. ada yang kaget? ras yang nyaris tersingkirkan (dan mugkin jarang dalam lingkungan pergaulan kalian) karena kondisi urban ibu kota. ibuku seorang betawi asli, tepatnya betawi kota. kalau gak tau, ada lagi yang namanya betawi pinggiran (betawi ora). entah kenapa ibuku selalu membanggakan ke-betawi-kota-an-nya. 'kampung' ibuku di daerah raden saleh, cikini. konon, nyai (buyutku) masih ada hubungan darah sama raden saleh, pelukis. entah hoax cuma untuk memanis-maniskan bakat menggambarku atau bukan lah. namanya juga bocah. gampang dibegoin. watak ibuku? kalian tau ibunya zaenab di si doel? hampir sama bener-bener.

oke. jadi saya adalah seorang anak dengan kesukuan yang biasa-biasa saja. mungkin karena saya tinggal di daerah yang heterogen, jakarta (dan sekitarnya). apalagi saya memiliki ayah dan ibu dari suku yang berbeda yang tentu saja berkomunikasi dengan bahasa persatuan, bahasa 'slang' Indonesia. sama dengan anak-anak metropolitan lainnya, saya tak bisa berbahasa daerah. sedikit-sedikit mengerti lah kalo sodara ngomong. bahkan saya kaget ternyata ada bahasa betawi yang benar-benar bukan sekedar mengganti bunyi akhiran-a dengan -e.

satu hal lagi. tak ada ajang pelestarian adat seterpelihara pernikahan. rasanya pernikahan selalu menjadi ajang bagi pelestarian budaya dari kedua mempelai. hidup boleh di jakarta, nama boleh kebarat-baratan, tapi ketika menikah? balik ke blangkon dan sanggul semua. dan dengan patrilineal yang jelas, tampaknya saya akan diwajibkan menggunakan adat lampung. walau sebenarnya di satu sisi saya ingin sekali adat betawi. ondel-ondel, pantun-pantunan, silat, roti buaya, tanjidor, seperti yang kulihat pada pernikahan adat betawi saudara lainnya, selalu menarik dan kental akulturasi kaum urban jaman kolonial ini dengan agama islam dan kaum cina.

terlalu jauh ngomongin pernikahan. jadi intinya suku bangsa adalah jati diri yang termanifestasikan dalam fisik, watak, dan adat istiadat. segalanya adalah perbedaan yang terjadi karena persebaran manusia. kreativitas manusia lah yang menghasilkan daerah sini punya adat seperti ini, daerah sana seperti ini. dan itu adalah hal yang indah. dalam setiap gerakan tarian, goresan topeng, dan satu kata dalam bahasa daerah, telah terjadi sejarah yang sangat panjang didalamnya. jadi, hargai diversitas itu. jangan dibunuh, karena suatu saat kita membutuhkan dokumentasi itu untuk kehidupan kita selanjutnya.

terima kasih untuk kampusku, yang menyadarkan anak kota ini akan pentingnya mengenal darimana kita berasal. terutama orang-orang batak di kampus yang militansi kedaerahannya masih kuat kali lah.
I dreamed of a unified Japan. Of a country strong and independent and modern...Now we have railroads and cannon and western clothing. but we cannot forget who we are. or where we come from.
Emperor Meiji--The Last Samurai




Friday, 11 February 2011

Epilog

kejadian semalam mengingatkanku dengan kejadian yang juga kualami setahun sebelumnya. muka-muka bosan, ngantuk, antusias, namun juga sedih. kalian tunjukkan itu. kalian ingatkan itu padaku.

sedikit berkelakar dengan sobat yang duduk disampingku saat itu juga didepanku setahun sebelumnya, kukatakan "liat muka mereka."

ada yang sorot matanya berkaca-kaca. ada yang nada suaranya gemetar.

ya, kalian rasakan apa yang kurasakan juga sebelum kalian (dengan nada nyukurin). kalian rasakan yang "si bangsat"--rendi perut menyebutnya--telah lakukan terhadap kalian. sebuah ikatan yang dalam yang tak pernah kalian alami seumur hidup kalian--kalau sama dengan yang kurasakan. ikatan yang membuat kalian merana oleh mengesalkannya tekanan senior, pusingnya memikirkan junior, himpitan akademik-organisasi, dan 'cuma' terbayarkan dengan hangatnya ngobrol sampai pagi, tidur macam sarden, dan pagi dengan pemandangan TPB cantik bohay lewat ditemani segelas kopi hitam pekat.

enak? logikanya, tidak. tapi setidaknya satu tahun 'penggojlokan' memberi kesempatan untuk mencari tahu seseorang "yang mau berjuang bersama saat susah", kata seorang diantara kalian. tentunya kalian yang bisa menentukan stempel itu di dahi siapa saja. stempel yang menjadi jaminan seumur hidup, lifetime warranty. ini yang mahal.

disinilah kututup buku ini. kuikuti saran seorang sobat : "tutup bukunya, diwaktu yang tepat. tegaskan. usaikan ceritamu sampai disini. jangan kau tambah-tambah halamannya. niscaya kan manis saat kau baca lagi suatu saat."

nyatanya status sarjana bukanlah waktu yang tepat bagiku. rasa mengganjal yang tak bisa dipaksakan mendesir dalam aliran darah. hingga malam kemarin, kutemukan puzzle terakhir yang akan kupasang untuk melengkapi cerita ini. juga tempat perhentian terakhir hingga beban ini kuletakkan di atas tanah. masih ada kalian yang akan berpetualang. lalu kuberanjak untuk melanjutkan perjalanan tanpa kalian.

Terima kasih atas semuanya.




Monday, 31 January 2011

Esok Suatu Saat, Saya di Depan Kelas

ini (lagi-lagi) mengenai obsesi pribadi. suatu saat--entah bagaimana caranya--saya akan mengajar siswa-siswi pelajaran yang dulu tak kusukai, sejarah.

rasa penasaran untuk mengetahui siapa orang ini, apa penyebab peristiwa ini, apa dibalik semua ini, benar-benar membuncah di kepala seiring bertambahnya informasi harian. maka tanpa ragu, kubuka ponsel dan kucari namanya di wikipedia. kutunggu "metro files"--sebuah acara tentang sejarah-yang-kerap-terlupakan--hingga muncul penayangannya. kuhentikan saluran televisi ketika menyibak sejarah dunia.

dari banyak sejarah yang ada, sejarah umat manusia selalu menjadi yang paling menarik. menarik ketika si makhluk tulang belakang tersempurna ini ternyata melakukan suatu hal yang berulang dan (cenderung) tak belajar dari kesalahan yang ada. mungkin kalah dengan nafsunya, seperti yang dilakukan qabil dari generasi ke dua umat manusia.

bahkan tanpa dibimbing, manusia memiliki sejarahnya masing-masing. aksi dan reaksi yang didapatkan atas tindakannya, mewaspadai agar kesalahan tak terulang. dan mengingat-ingat bagaimana hal-hal manis dapat diperoleh.

manusia melakukan beberapa kesalahan yang mereka evaluasi untuk tak diulangi, melakukan perbaikan, terlena dengan kenikmatan, mengulangi kesalahan yang sama lagi. benar-benar kesalahan yang sama dengan bungkus yang sesuai jamannya. penjajahan kolonial berubah menjadi kapitalisme, rempah-rempah berubah menjadi minyak bumi, priyayi penurut kompeni berubah menjadi bupati penghamba uang.

semua ketidak adilan pada akhirnya berujung pada revolusi. lihat bagaimana napoleon menumbangkan borjuis, komunisme dengan bolshevik menurunkan tsar, soekarno menggugat penjajahan. mereka berada di jaman berbeda, namun dengan pola sejarah yang sama. naik dengan dielu-elukan dan diturunkan oleh rakyatnya sendiri.

akhir-akhir ini bahkan rezim di tunisia, mesir, dan yaman perlahan-lahan 'menunggu hari tumbang'. sejarah berulang, dan manusia kalah akan nafsu berkuasa, bahkan dari nafsu untuk turun secara terhormat, diingat tanpa cacat hingga liang lahat. dan tentu saja, perkara perut sebagai pemacu utama.

ketika kebutuhan perut sebagai naluri hewani mamalia ini tak bisa kompromi, sama seperti hewan lainnya--manusia akan melakukan perlawanan. mengesampingkan peraturan, hukum, dan tatanan berkehidupan yang digariskan.

kembali ke kelas sejarah saat SD, SMP, dan SMA. dimana sejarah menjadi narasi mengantukkan dengan dongeng yang penuh tanggal, tempat, peristiwa yang disesuaikan dengan kepentingan penguasa, dimana sejarah adalah beban yang harus dihapalkan tanpa kegunaan jangka panjang.

ketika sejarah tidak menyuntikkan apa-apa terhadap diri kita, padahal sejarah pahit tak perlu diulang, dan sejarah emas mengajari kita bahwa hidup dengan keadilan, kejujuran, dan itikad baik bukan angan-angan dari kahyangan.

inilah yang akan kusimpan hingga waktunya. kubuka keran untuk penuhi hati mereka. bukan dengan tahun, tempat, peristiwa, buti-butir perjanjian, dan siapa baik siapa jahat. tapi dengan mengapa, mengapa, mengapa, dan bagaimana kita sekarang mengambil hikmahnya.