Monday, 31 January 2011

Esok Suatu Saat, Saya di Depan Kelas

ini (lagi-lagi) mengenai obsesi pribadi. suatu saat--entah bagaimana caranya--saya akan mengajar siswa-siswi pelajaran yang dulu tak kusukai, sejarah.

rasa penasaran untuk mengetahui siapa orang ini, apa penyebab peristiwa ini, apa dibalik semua ini, benar-benar membuncah di kepala seiring bertambahnya informasi harian. maka tanpa ragu, kubuka ponsel dan kucari namanya di wikipedia. kutunggu "metro files"--sebuah acara tentang sejarah-yang-kerap-terlupakan--hingga muncul penayangannya. kuhentikan saluran televisi ketika menyibak sejarah dunia.

dari banyak sejarah yang ada, sejarah umat manusia selalu menjadi yang paling menarik. menarik ketika si makhluk tulang belakang tersempurna ini ternyata melakukan suatu hal yang berulang dan (cenderung) tak belajar dari kesalahan yang ada. mungkin kalah dengan nafsunya, seperti yang dilakukan qabil dari generasi ke dua umat manusia.

bahkan tanpa dibimbing, manusia memiliki sejarahnya masing-masing. aksi dan reaksi yang didapatkan atas tindakannya, mewaspadai agar kesalahan tak terulang. dan mengingat-ingat bagaimana hal-hal manis dapat diperoleh.

manusia melakukan beberapa kesalahan yang mereka evaluasi untuk tak diulangi, melakukan perbaikan, terlena dengan kenikmatan, mengulangi kesalahan yang sama lagi. benar-benar kesalahan yang sama dengan bungkus yang sesuai jamannya. penjajahan kolonial berubah menjadi kapitalisme, rempah-rempah berubah menjadi minyak bumi, priyayi penurut kompeni berubah menjadi bupati penghamba uang.

semua ketidak adilan pada akhirnya berujung pada revolusi. lihat bagaimana napoleon menumbangkan borjuis, komunisme dengan bolshevik menurunkan tsar, soekarno menggugat penjajahan. mereka berada di jaman berbeda, namun dengan pola sejarah yang sama. naik dengan dielu-elukan dan diturunkan oleh rakyatnya sendiri.

akhir-akhir ini bahkan rezim di tunisia, mesir, dan yaman perlahan-lahan 'menunggu hari tumbang'. sejarah berulang, dan manusia kalah akan nafsu berkuasa, bahkan dari nafsu untuk turun secara terhormat, diingat tanpa cacat hingga liang lahat. dan tentu saja, perkara perut sebagai pemacu utama.

ketika kebutuhan perut sebagai naluri hewani mamalia ini tak bisa kompromi, sama seperti hewan lainnya--manusia akan melakukan perlawanan. mengesampingkan peraturan, hukum, dan tatanan berkehidupan yang digariskan.

kembali ke kelas sejarah saat SD, SMP, dan SMA. dimana sejarah menjadi narasi mengantukkan dengan dongeng yang penuh tanggal, tempat, peristiwa yang disesuaikan dengan kepentingan penguasa, dimana sejarah adalah beban yang harus dihapalkan tanpa kegunaan jangka panjang.

ketika sejarah tidak menyuntikkan apa-apa terhadap diri kita, padahal sejarah pahit tak perlu diulang, dan sejarah emas mengajari kita bahwa hidup dengan keadilan, kejujuran, dan itikad baik bukan angan-angan dari kahyangan.

inilah yang akan kusimpan hingga waktunya. kubuka keran untuk penuhi hati mereka. bukan dengan tahun, tempat, peristiwa, buti-butir perjanjian, dan siapa baik siapa jahat. tapi dengan mengapa, mengapa, mengapa, dan bagaimana kita sekarang mengambil hikmahnya.