Friday, 11 February 2011

Epilog

kejadian semalam mengingatkanku dengan kejadian yang juga kualami setahun sebelumnya. muka-muka bosan, ngantuk, antusias, namun juga sedih. kalian tunjukkan itu. kalian ingatkan itu padaku.

sedikit berkelakar dengan sobat yang duduk disampingku saat itu juga didepanku setahun sebelumnya, kukatakan "liat muka mereka."

ada yang sorot matanya berkaca-kaca. ada yang nada suaranya gemetar.

ya, kalian rasakan apa yang kurasakan juga sebelum kalian (dengan nada nyukurin). kalian rasakan yang "si bangsat"--rendi perut menyebutnya--telah lakukan terhadap kalian. sebuah ikatan yang dalam yang tak pernah kalian alami seumur hidup kalian--kalau sama dengan yang kurasakan. ikatan yang membuat kalian merana oleh mengesalkannya tekanan senior, pusingnya memikirkan junior, himpitan akademik-organisasi, dan 'cuma' terbayarkan dengan hangatnya ngobrol sampai pagi, tidur macam sarden, dan pagi dengan pemandangan TPB cantik bohay lewat ditemani segelas kopi hitam pekat.

enak? logikanya, tidak. tapi setidaknya satu tahun 'penggojlokan' memberi kesempatan untuk mencari tahu seseorang "yang mau berjuang bersama saat susah", kata seorang diantara kalian. tentunya kalian yang bisa menentukan stempel itu di dahi siapa saja. stempel yang menjadi jaminan seumur hidup, lifetime warranty. ini yang mahal.

disinilah kututup buku ini. kuikuti saran seorang sobat : "tutup bukunya, diwaktu yang tepat. tegaskan. usaikan ceritamu sampai disini. jangan kau tambah-tambah halamannya. niscaya kan manis saat kau baca lagi suatu saat."

nyatanya status sarjana bukanlah waktu yang tepat bagiku. rasa mengganjal yang tak bisa dipaksakan mendesir dalam aliran darah. hingga malam kemarin, kutemukan puzzle terakhir yang akan kupasang untuk melengkapi cerita ini. juga tempat perhentian terakhir hingga beban ini kuletakkan di atas tanah. masih ada kalian yang akan berpetualang. lalu kuberanjak untuk melanjutkan perjalanan tanpa kalian.

Terima kasih atas semuanya.




No comments: