Sunday, 29 May 2011

Jejak Pertama


setelah sekian lama tak punya waktu untuk menumpah di blog, akhirnya kesampaian juga di minggu malam ini. waktu kosong yang sangat berharga untuk menjembatani dunia kerja dan angan-angan di kepalaku.

kira-kira ini sudah 2 1/2 minggu saya di ibu kota Kalimantan Timur, Samarinda. bagaimana asal mulanya saya 'terjebak' disini? adalah tantangan yang diperkenalkan oleh teman saya yang mantan kahim SBM, Brian Yohanes Wiseso. Tautan ini dan ini lah yang membuat saya tergoda tertantang.

Samarinda

ini pertama kalinya saya menginjak tanah borneo. sebelumnya saya baru menginjak pulau jawa, sumatera, bali, batam, dan singapura. jadi ini pulau ke-6. bersyukurlah kau kalimantan.

Samarinda adalah kota yang adem ayem, secara fisik, panas. konon kota ini sangat stabil namun dari segi pemerintahan masih sangat 'indonesia' (baca: buruk). di sebelah kantor gubernur Kaltim, di tepian Sungai Mahakam, terdapat rumah dinas gubernur yang sangat sangat sangat megah sehingga kukira kantor pemerintahan. dan benar saja, rumah dinas itu dibuat dengan dana 75 M dan sekarang gubernur yang membangunnya mendekam di penjara.

Rumah 'Istana' Dinas Gubernur Kaltim

jalanan lebar, angkot tidak se-seenaknya ibukota, namun motor disini menganggap semua jalan adalah sirkuit--siang malam, minta ditimpuk--kalau bukan tanah mereka sendiri sini. drainase tak terlalu baik. jalan protokol kurang mencerminkan ibu kota propinsi yang kaya. makan relatif lebih mahal. dan yang cukup berbeda, mobil double-cabin pick-up macam strada sangat laku disini, entah yang kotor karena dipakai ke tambang benar-benar, atau yang kinclong karena cuma dipakai buat mejeng di mall setempat.

secara komposisi penduduk, disini hidup berbagai macam suku bangsa, diantaranya Banjar, Jawa pendatang (kebanyakan Jawa Timur), Bugis, dan Dayak. sesuai sejarahnya, nama Samarinda berasal dari kata Sama-Rendah, yaitu nama pemberian Sultan Kutai untuk daerah yang takkan dibeda-bedakan penduduknya dari etnis manapun, maka berkembanglah Samarinda ini menjadi kota yang multi-etnis.

Makanan disini tidak terlalu banyak variasi. paling mudah dijumpai adalah tukang nasi goreng, pecel ayam, dan soto ayam lamongan, mengingat banyaknya orang Jawa yang mencari peruntungan di kota ini. beberapa yang khas adalah soto banjar yang berisikan daging ayam dan telur hancur, dengan perkedel dan bihun, dan kuah yang sedap. di beberapa tempat ada ikan bakar air tawar. karena air tawar maka rasanya mendekati mujaer semua, sementara mengapa ikan air tawar tak lain tak bukan karena disini ada Sungai Mahakam, sungai terlebar di Indonesia dan ikan disini tentu bukan ikan air laut.


Kerja

tempat kerja saya adalah sebuah kantor sebuah divisi teknik suatu perusahaan properti mewah milik sebuah keluarga di Samarinda, namun juga diimbangi kesibukan untuk melihat proyek secara langsung. seperti yang telah dipelajari dalam kuliah praktek, keadaan lapangan akan sangat jauh dari idealitas suatu desain. suatu desain akan sangat kuat dalam aspek presisi, namun keadaan lapangan tak akan semudah itu untuk mendukung presisi tersebut. disinilah pengalaman berbicara dalam menentukan toleransi-toleransi yang akan diberikan.

contoh paling simpelnya, jika kita membutuhkan 1 sak semen dalam suatu desain kolom, maka kita harus membeli lebih dari 1 sak tersebut karena kita belum menghitung semen yang menempel dan tak terambil di molen, semen yang terjatuh di perjalanan, dan semen yang terbuang keluar dari bekisting. bukan melulu mengenai 'kenakalan' kontraktor. tentu saja toleransi bisa diperkecil dengan kontrol yang lebih baik. dan perlu diingat, sebuah kontraktor menjalani bisnis, tentu saja neraca harus menunjukkan keuntungan.

disinilah saya merasa beruntung karena bos saya adalah seorang kontraktor berpengalaman puluhan tahun. dia menjadi GM Teknik di perusahaan ini--per 1 Juli perusahaan ini menjadi perusahaan mandiri sehingga mungkin dia menjadi Dirutnya. dia pernah menduduki posisi penting di suatu perusahaan kontraktor namun karena gaya hidupnya "rock n roll 'n fuck 'em up" dia terjatuh, sebelum akhirnya bertobat walaupun sisa-sisa kehidupan lamanya masih berasa.

bisa dibilang, kami di perusahaan konstruksi dengan 1 orang GM, 3 orang asisten teknik, dan 1 divisi keuangan, dalam sebuah ruangan menurut hematku, ini ladang pembelajaran yang sangat ranum. perusahaan yang sedang berkembang, jumlah orangnya sedikit, dan memiliki visi yang cerah. tempat yang cocok untuk belajar mengenal 'apa yang terjadi di atas sana' dan 'bagaimana transisi perusahaan dari kecil ke besar', alih-alih 'mencari uang sebanyak-banyaknya'. ini tantangan yang temanku tawarkan sejak awal. bertukar pikiran dengan seorang decision-maker inti perusahaan akan tetap menghidupkan api semangat bagi mereka yang ingin menentukan nasib dari tangan mereka sendiri.

keseharian dipenuhi dengan sales material keluar masuk kantor, bos memarahi tukang, bos besar memanggil dan meminta perubahan yang kebanyakan tak masuk akal, memodifikasi desain awal, menginspeksi kondisi lapangan, partner kerja yang berpengalaman, semua bisa dicari pembelajarannya. bahkan ketika porsiku hanya sebagai pengamat. saya akan menjadi pengamat yang jeli untuk selalu memasang mata dan telinga, mempelajari. intinya, tak boleh ada hari yang tak memberi nilai tambah atas isi kepalaku. kecuali hari minggu.

bahwasanya rezeki Tuhan yang mengatur. bahwasanya setiap pekerja keras akan mendapatkan hasil yang setimpal. bahwasanya Tuhan selalu membuka pintu lainnya ketika Beliau menutup 1 untuk kita. dan hidup adalah memasuki setiap pintu tanpa henti dan mengeluhkan ditutupnya sebuah pintu. jika tidak, kita telah mati.









2 comments:

R said...

hai, aku selalu membaca blogmu, mungkin karna kita sama di sipil. kalo ada waktu, berkelilinglah di balikpapan, kota aku dibesarkan. terus menulis ya, dan aku terus membaca :D

muhammad rizqy anandhika said...

Haha ya.. Terimakasih telah membaca. Balikpapan cm lewat pas mendarat,itupun malam. Tampaknya kota yg jauh lbh beradab dr samarinda ya. Suatu saat, kalau ada weekend kosong deh.