Sunday, 19 June 2011

Bagaimana Masa Lalu Mengingatkan


Saya cinta masa kecil saya. Walau ada 1 hal yang kulewatkan hingga menginjak remaja dan tak pantas lagi untuk melakukannya: mandi bola.

Rizqy kecil bertubuh kurus, bergigi rusak, beberapa hitam--kebanyakan obat--katanya. Masa kecilnya sering sakit-sakitan (penyakit orang susah), susah makan, benar-benar menyusahkan orang tuanya (yang sedang susah pula). Ketika bayi dia tinggal di rumah nenek, lalu beranjak balita kedua orang tuanya memiliki KPR di Bukit Pamulang Indah V, di rumah kecil seharga tiga juta rupiah (saat permen sugus seharga cepe dapet 3), kalau tidak salah.

Dia cukup cadel di hingga SD awal-awal (dan diledek karena hal itu, selain karena dia ‘cina’). Dia bahan bully-bully anak kelas 3 di jemputan sekolahnya. Dan masih dendam dengan anak-anak itu dimana mereka sekarang.

Anak Komplek

kiri ke kanan: Kevin M. Haikal (nama komplek: Apin), M. Rizqy Anandhika (nama komplek: Kiki), sedang memeragakan gaya berubah kotaro minami menjadi ksatria baja hitam

Di rumah dia memiliki teman yang sangat dekat khas anak komplek. Bangun pagi-pagi, sudah diteriaki di depan rumah “Kiki..Kiki..”. nama kompleknya memang Kiki, begitupula dengan nama komplek ibunya, “Mama Kiki”. Ileran, dengan semangat keluar rumah. Duduk bersama temannya, entah membicarakan apa di bangku coran di depan rumah temannya. Kebiasaan yang bertahan hingga kepindahannya ke rumah yang lebih besar namun di perkampungan, kelas 2 SD.

Normalnya anak 90an, dia menyukai chiki, main petak jongkok, main petak umpet (kalau dapet katakan “hong!”, time-out: “topan”), makan ager-ager-cair-penuh-zat-warna-tapi-enak, beli paddle pop sore-sore saat jam 5 sore menonton ksatria baja hitam.

Dia juga mengoleksi tazos (generasi pertama: #100: tulisan looney tunes—serasa dewa memilikinya), main ‘gambaran’—permainan paling primitif dengan modal kertas bergambar (bergambar belakang polisi lalu lintas) yang di-tos, semangat menukar botol sirup bekas dengan cupang, memetik ‘ceri’ di pohon (belakangan baru sadar itu bukan ceri), menonton doraemon (juga mengoleksi stikernya dari mie sakura), dan bermain jelangkung (dengan perantara mainan batman).

Jangan lupakan pula SEGA. Bukan anak komplek 90-an kalau belum pernah menyentuhnya. Bar Knuckle, Mortal Kombat (nonton teman main ‘fatality’ aja seneng), Power Rangers yang tamatnya gampang, dan the best SEGA game: Sunset Riders.

Sebagai anak baik, pulang ketika adzan magrib. Lalu main lagi malam-malam, terhenti jika jam 9 atau ada “Si Doel”. Suatu malam dia mencakar teman perempuan (dan masih merasa argumennya adalah melindungi diri), lalu dimarahi ibunya. Sejak itu dia gabung dalam TPA (Taman Pendidikan Al-Quran)—dan selalu rangking 1.

Rumahnya kecil. Temboknya penuh dengan coretan gambar, biasa, penyakit anak yang suka gambar. Dia juga selalu mengikuti ekskul gambar di sekolah—dan selalu mengikuti lomba gambar setiap hari listrik nasional yang diadakan oleh kantor ayahnya. Biasanya mendapat juara harapan.

Kehidupan Sekolah

Akademik sangat baik. Selain kelas 1,4,dan 5, dia selalu peringkat 2 atau 3. Kelas 1 selalu ranking 5 di semua ‘cawu’, kelas 4 (The Golden Age) selalu ranking 1. Kelas 5 jatuh ke 6 karena adaptasi ke Malang, Jawa Timur. Lalu selalu rangking 2 sampai lulus karena kalah rajin sama anak perempuan—dan jago bahasa Jawa.

Di Golden Age tersebut, dia begitu di sayang ibu gurunya, Ibu Erni. Dan karena kejumawaan akademiknya, dia disukai dua wanita sekaligus saat itu. Ines dan Dina. Gosipnya beredar dan tahu apa yang dilakukannya dalam menanggapinya: Mencak-mencak. Emoh-emohan. Malu. Sangat tipikal anak Indonesia.

Usia yang Sama Hari Ini

Sekarang tentu berbeda. Rhenald Kasali menyebutnya generasi-C. C bisa berarti cyber, connected, atau chameleon. Generasi yang update dan labil. Anak-anak pada generasi ini akan berperilaku serba-terhubung. Mungkin di sekitar kita sendiri, bagaimana sepupuku yang masih balita dan batita bisa pukul-pukulan untuk rebutan Ipod Touch (kisah nyata). Bagaimana seorang remaja akan mengisi waktu luangnya (atau seluruh waktunya) dengan social-networking, padahal di depannya ada temannya (juga dengan kesibukan yang sama). Dan bagaimana trend begitu berpengaruh dalam gaya rambut, busana, bahkan tingkah laku saat ini.

Dan hal-hal klasik yang sedikit melelahkan, seperti bermain di luar, mungkin bisa digantikan dengan permainan interaktif dalam ruangan. Membeli chiki demi koleksi tazos, mungkin sudah lenyap karena segalanya sudah bisa didapatkan dengan selancar jari di dunia maya. atau 'Tazos on Ipad' .Namun, suasana, tak tergantikan. Apalagi ketawa bocah ketika purnama menerangi malam, tak tergantikan.

Mungkin inilah yang dinamakan dengan kerinduan masa lalu. Pantas aja orang suka berjuang mati-matian dalam mewujudkan suatu acara yang mengangkat romantisme masa lalu mereka. Baik itu pakaian, dekorasi, bahkan makanan. Begitu pula restoran yang menyuasanakan dengan suasana nostalgia yang ingin mereka angkat. dan semalam begadang pun takkan cukup untuk membuka lembaran-lembaran lusuh yang masih menyangkut di kepala itu. Ada hal unik yang pasti sudah tak bisa didapatkan saat ini. Dan Rizqy saat ini, tetap mencintai masa kecilnya.

Sial, kok bisa mandi bola belum pernah.

No comments: