Wednesday, 19 December 2012

Motorcycle Diaries

bukan, ini bukan post tentang film motorcycle diaries yang menceritakan tentang perjalanan ernesto 'che' guevara, seorang revolusioner kuba. ini tentang sepeda motor dan keseharian kita.

Kilas Balik

sebagai orang yang lahir dan hidup hingga besar di indonesia, saya tahu persis apa itu motor. 'motor' sejujurnya adalah sebutan pendek dari 'sepeda motor', kendaraan sejuta umm--maksud saya ratusan juta umat. 

saya pengguna (baca: bisa mengendarai) motor sejak sma. semacam 'tuntutan profesi' bagi jejaka muda untuk bisa mengendarai sepeda motor saat itu. motor pertama adalah honda karisma. lalu diangkutlah honda karisma itu ke bandung saat saya kuliah di itb. sementara di rumah adik saya dibelikan yamaha vixion, yang saat itu gelombang pertama penjualannya. saya sendiri cukup casual dalam urusan kendaraan, tak peduli model apa selama masih bisa jalan, tak menyusahkan, dan masih dimodalkan orang tua, saya takkan minta macam-macam.

sejak kecil (balita--setidaknya saat saya bisa mengingat apa yang terjadi), ayah saya memiliki mobil, suzuki katana (yang atapnya bocor kalau hujan) saat itu. menaiki motor seseorang selalu jadi kesempatan langka yang tak ingin kulewatkan untuk duduk di depan pengendaranya. ada sensasi berbeda--terutama terpaan angin--saat menaikinya.

sampai saat itu saya merasa tak ada yang salah dengan motor ini.


Saat Ini

sewajarnya barang hasil kapitalisme, motor adalah produk yang akan terus diproduksi selama pendapatan dari penjualannya mampu menutup biaya produksinya. di indonesia, penggunaannya semakin bertambah seiring tingkat kesejahteraan rakyat indonesia yang terus meningkat. pertambahan kelas menengah, kata mereka. sementara itu, proses manufaktur yang semakin ekonomis dan efisien (dengan teknologi dan pembinaan tenaga kerja yang terus berkembang), menciptakan produk dengan cost yang semakin terjangkau. belum lagi kompetisi yang semakin sengit antara komeng dan agnes monica, mengakibatkan perang harga yang terus menguntungkan konsumen. dan jangan lupa kalau kredit motor yang sangat murah memungkinkan hanya dengan setengah juta saja (bisa disisihkan dalam sebulan gaji sebesar umr) kita dapat membawa pulang motor dan menyicil, kalau tidak dikembalikan dlama kondisi kredit macet.

tak ada yang salah dengan mekanisme pasar. mereka yang menghidupi rakyat kita, mereka juga yang menyediakan alat produksi untuk meningkatkan produktivitas rakyat kita. bahkan ketika perkara bagaimana produsen lokal tidak diberi 'napas' untuk berkembang dalam bisnis kita kesampingkan.

kembali ke definisi motor sebagai 'benda', maka kita lah yang mendefinisikannya seperti halnya 'pistol untuk memenangkan perang' atau 'pistol untuk membunuh anak sd tak berdosa', tentu, seperti perumpamaan yang saya ungkapkan, ada peran negara--sebagai otoritas atas segala tindakan kita di bawah kolong langit NKRI--disana. 

sebagai kendaraan pilihan, tak mungkin motor bisa memenangi hati orang indonesia begitu saja. tentu ada hal, baik sistemik maupun insidental yang memberatkan rakyat untuk memilih motor. 

kita tak bisa pungkiri kalau motor sangat fleksibel dalam manuver, memiliki ruang di jalan yang relatif 'negotiable', irit bensin, irit biaya perawatan, tak terlalu bermasalah kalau diserempet sedikit, dan banyak kelebihan lainnya yang tak bisa saya tuliskan satu persatu (life is too short to praise bike). tak ada yang salah sampai--jumlahnya menggila dan tindakannya di jalan semakin semena-mena. 

dari segunung kelebihan motor, tentu motor memiliki kekurangan seperti: jan-ming (hujan minggir--singkatan maksa), menghabiskan waktu dan tenaga untuk produktivitas kerja dan keluarga, serta risiko kecelakaan (dan tak terselamatkan) yang tinggi. saya rasa kekurangan terakhir adalah hal yang harusnya paling disadari, dan sedihnya, paling tidak disadari. 

saya pernah bertanya kepada om saya yang tinggal di singapura, mengenai bermotor di singapura. katanya orang singapura tak banyak yang naik motor bukan karena bensin mahal, harga motol mahal, tapi karena keselamatan yang risikonya tinggi. tentu, kalau kita terapkan peraturan dengan konsekuen (asumsi penegak hukum adil dan tak ada demo vandalis dari teman-teman sekampung si pengendara motor), beberapa kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan motor 'sok jagoan' di jalanan akan mengakibatkan patah tulang untuk pengendara motor, juga kewajiban membayar denda karena mengemudi begajulan, dan kalau tak mampu bayar--penjara. sama halnya dengan korban tabrakan terhadap penyeberang sembarangan, si tertabrak lah yang akan dinyatakan bersalah. maka mengendarai motor dapat dikategorikan 'cari mati'.

sementara itu, yang diberi mandat rakyat untuk mengurusi mereka tak mau serius untuk memanusiakan rakyatnya. dari penulis lahir sampai postingan ini keluar, saya baru melihat jokowi sebagai orang yang mau serius membenahi transportasi massal dalam kapasitasnya sebagai pemimpin daerah. puluhan tahun semenjak kita merdeka kita dididik untuk 'tabah' dalam menjalani kehidupan (juga transportasi massalnya)--alih-alih pemerintah harusnya menyiapkan transportasi massal yang manusiawi dan tepat waktu, minimal terlihat usaha ke arah situ.

dampak ketidakberpihakan (terhadap transportasi massal) ini bercabang menjadi dua, ketika perekonomian maju pesat. yang kaya, membeli mobil, bahkan melebihi jumlah anggota keluarganya plus anjing-anjing peliharaannya. mobil selain menjadi alat transportasi yang nyaman (karena dirawat sendiri), juga menjadi parameter prestise, bagi kelas pucuk piramida maslow ini. sementara itu, yang miskin (dalam standar perekonomian maju), membeli motor, karena secara perhitungan harian bensin Rp. 4500 cukup untuk bolak balik ngantor dibanding naik bus-mikrolet sambung-menyambung. dimodif sedikit knalpot, velg, dan lampunya rasanya juga sudah meningkatkan prestise bagi pemiliknya. itu versi mereka ya, bukan saya. 

walau bercabang dua, keduanya berujung sama, malapetaka. prediksi yang didengungkan sejak beberapa tahun lalu kalau jakarta (asumsi tidak ada penambahan jalan) akan lumpuh total 2014 (cmiiw) memang seakan semakin dekat. saya yakin kota besar lainnya yang walikotanya 'tidur' akan mengalami hal serupa. saya dan papa saya suka mengistilahkannya 'pemerintah tak mampu mengejar kesejahteraan rakyat'. 

sekarang kita kembali fokuskan ke motor. saya pribadi berpikiran kalau ketidaksiapan menghadapi 'bom motor' ini sudah mengorbankan karakter ketimuran kita. dulu pas saya masih kecil saya baca bobo masih sering disinggung kalau orang indonesia ramah-ramah. sekarang? mari kita lihat perilaku bermotor yang saya amati sehari-hari. 

  • berhenti di depan garis lampu merah, yang notabenenya adalah zebra cross untuk menyeberang pejalan kaki, bahkan ada yang jauh ke depan sampai 7 meter di depan zebra cross
  • tidak memakai helm di jalan raya. peci kadang lebih ampuh.
  • memakai bahu jalan untuk melawan arah jalan. sangat. tidak. beradab.
  • memasuki jalur busway
  • knalpot super berisik, bertanggung jawab terhadap gangguan tidur mereka yang bertempat tinggal di pinggir jalan besar.
  • memaksa mengambil jalur arah berlawanan sampai mengakibatkan kendaraan dari jalur berlawanan tak bisa lewat
  • maju sebelum lampu hijau menyala (bahkan masih merah!)
  • menaiki trotoar, sampai mengusir si pengguna sebenarnya, pejalan kaki.
  • tidak menyalakan lampu saat malam.
  • memutar arah sembarangan
rasanya sedikit poin-poin di atas cukup menggambarkan bagaimana tergerusnya karakter kita yang (katanya) ramah itu. rasanya akumulasi himpitan ekonomi, teriknya matahari, dan menjadi mayoritas adalah penyebab 'ganasnya' pengendara motor ini. 

sedikit demi sedikit pun para pengendara motor kian termanjakan dengan 'fleksibilitas mutlak' yang pada akhirnya mematikan akal dan perasaan penggunanya untuk menyerobot hak orang lain dan menganggapnya hal biasa. semakin biasa ketika mereka menjadi mayoritas. polisi pun tak berani menilang. 

dari semua poin di atas, berdasarkan pengamatan seumur hidup, rasanya cuma 'tidak memakai helm' dan 'memutar sembarangan' yang merupakan kebiasaan lama, sisanya adalah 'mutasi genetik' yang terjadi pada gen pengendara motor kita. menjadikannya karakter baru. 

pelanggaran-pelanggaran di atas tentu bukan tidak mendapat tindakan sama sekali dari polisi, sebagai penegak hukum di masyarakat. namun rasanya penegakan yang dilakukan cukup 'setengah hati' (saya sering melihat polisi yang bekerja tidak efisien: tiga orang berdiri saja, melihat, di tengah kemacetan). maksud saya, itu hal kasat mata yang cukup menjustifikasi kalau polisi kita belum total dalam menangani maslaah lalu lintas. dan ketika pelanggaran mendapat excuse waktu ke waktu, maka pelanggaran itu akan menjadi 'hal normal' yang biasa. bahkan non-pelaku bisa saja ikut terbiasa, jika tak terus melawan dalam hatinya, minimal. 



Beralih (Ke) Umum

dengan asumsi manusia sebagai rational agent, sebagai subyek yang secara logika menginginkan hal yang menyenangkan dirinya saja, maka pilihan si manusia untuk memilih berkendara motor adalah utilitas maksimum dari segala kemungkinan moda dan kondisi pembatasnya (waktu tempuh, bensin, penghasilan). sementara dari sisi publik, berkendara motor bukanlah utilitas maksimum bagi efisiensi dan efektivitas perjalanan secara publik, mungkin dalam hal ini diukur dalam jumlah orang yang dipindahkan per satuan waktu. 

maka ketika kita ingin berpihak pada publik (berarti kesampingkan ego pribadi untuk keuntungan yang merata di semua orang), akan didapatkan utilitas individu yang relatif lebih rendah. tetapi secara publik (utilitas total individu-individu) akan lebih menguntungkan. dalam kasus ini, jika para pengendara motor 'tangguh' yang tadinya berebut space kosong antara mobil satu dan mobil lainnya mau beralih ke transportasi umum yang mungkin secara individu akan memperlambat waktu perjalanan dia, maka ke-legowo-annya untuk bertransportasi umum akan mempercepat waktu rata-rata orang lain yang selama ini berkendara umum dan tertutupi oleh kerumunan motor tersebut. sebuah penjelasan secara ekonomi bisa diselidiki via google 'problem of commons'. 

lebih lanjut, jika memang keuntungan publik akan lebih banyak didapatkan jika para pengendara pribadi (mobil dan motor) beralih ke umum, sementara pengendara pribadi, sebagai rational agent memiliki preferensi tersendiri mengenai moda yang paling disukainya, maka tak ada jalan lain selain 'menggembosi' utilitas pribadi tersebut, dan di saat bersamaan menaikkan utilitas kendaraan umum. disinilah 'tangan' pemerintah harusnya bermain, bisa melalui menaikkan harga BBM (menurunkan subsidi), menaikkan pajak kendaraan bermotor, mempertegas hukuman bagi pelanggar, bahkan untuk ekstrimnya, seperti yang teman saya gandrie ceritakan dalam blognya: melarang sama sekali motor masuk kota; sebuah kebijakan di guangzhou, cina. 

sementara itu, menaikkan utilitas kendaraan umum dapat dilakukan dengan memperbarui armada moda jenis lama, menambah fasilitas, menambah armada, menurunkan harga--walaupun dengan tingkat kesejahteraan yang cukup; keinginan untuk membayar warga bisa lebih tinggi sehingga tidak perlu menurunkan harga. dan saya rasa nilai plus dari semua transportasi umum yang baik adalah dua hal: mempersingkat perjalanan dan secara bersamaan memberi kesempatan kita untuk memanfaatkan waktu perjalanan anda untuk hal yang kita sukai. bayangkan kalau kita bisa istirahat lebih lama di rumah dan bisa membaca buku saat di perjalanan. tak ada waktu yang terbuang. 

jika keduanya ('menggembosi' kendaraan pribadi dan 'memoles' kendaraan umum) dilakukan dengan tepat, maka utilitas pengendara pribadi mau tak mau akan bergeser ke utilitas menggunakan kendaraan umum, dimana keputusan untuk menggunakan transportasi umum adalah keputusan yang paling rasional untuk dipilih saat itu. bahasa komersilnya: kita untung, negara untung. 

pun demikian, transformasi yang kita lakukan untuk mempengaruhi orang beralih ke kendaraan umum adalah sesuatu yang 'tangible' atau terlihat, merupakan hal yang cukup mudah untuk dikontrol progresnya. sementara itu transformasi karakter dari karakter 'silakan nilai sendiri dari poin-poin berkendara motor di atas' ke karakter kita semula akan lebih sulit dikontrol karena tidak dapat dilihat kasat mata (intangible) melalui peningkatan penggunaan transportasi umum saja.

pertumbuhan ekonomi memang penting, tapi bukankah keadaban yang mendefinisikan kita sebagai manusia?









(berbagai sumber)





disklaimer:
pengendara motor yang didefinisikan negatif adalah sebagian dari keseluruhan. sedangkan dalam beberapa konteks kalimat merujuk pada keseluruhan pengendara motor.
dan ini adalah blog post, bukan paper ilmiah. 















Sunday, 4 November 2012

Bicara Tentang Bicara

bicara tentang bicara, saya langsung melayang terpikir ibu saya yang dianugerahi tuhan kemampuan berteman yang sangat kuat, terlalu kuat malah. mama (begitu saya memanggilnya) bisa mengajak ngobrol seseorang saat mengantri, walau cuma 5 menit, lalu menjadi akrab seperti tetangga sebelah rumah. mungkin lingkungan masa kecil di cikini yang 'rapat' cukup membentuk mama menjadi orang yang mudah bosan kalau tak bicara barang 15 menit saja. hal yang tak menurun ke ketiga anaknya, sama halnya dengan kemampuan menawarnya yang sadis.

saya sendiri mulai berani 'bicara' saat awal-awal masuk kuliah. dalam suatu resolusi tidak tertulis saya menjadikan momen masuk ITB sebagai momen untuk melakukan beberapa perubahan, diantaranya menjadi lebih 'bicara' dari sebelumnya. hasilnya, saya suka memaksakan memberanikan diri untuk bertanya langsung ke dosen kalkulus, mencoba mengobrol dengan siapapun di sebelah saya saat di travel, bertanya ketika pendidikan unit, sampai bertanya saat presentasi acara di himpunan. suara bergetar dan suara tak keluar itu biasa (ya, seperti geek-geek looser di film-film remaja Amerika yang harus bicara dengan cewek yang mereka sukai).

tapi bukan soal keberanian berbicara yang ingin saya bicarakan. lebih ke kebiasaan berbicara spontan terhadap orang-orang yang tidak kita kenal. saya menyadari, semakin sering berbicara, semakin kita memanusiawikan diri kita, juga membawa orang sekitar kita ke zona manusiawi kita.

saya pribadi juga bukan orang yang memaksakan untuk bicara dengan orang asing. tapi ketika seseorang sudah membuka, saya cenderung akan melanjutkan. mengalir, alami saja. tak perlu dipaksa kalau sedang malas, atau bad mood

yang paling saya suka dari percakapan dengan orang asing adalah ketika saya mengukur pengetahuan saya tentang bidang yang dibidangi lawan bicara saya. mengukur pengetahuan sendiri adalah hal semacam insting yang saya lakukan. juga menjadi kelihatan pintar, adalah hal yang sukai. oh ya, juga mengetes kemampuan humor. saya suka menggali karakter orang lalu menyiapkan humor yang sesuai dengan karakternya. kelihatan rumit dan mempersulit diri sendiri tapi ini saya sukai. 

saya pernah bicara dengan seorang cina (maksudnya keturunan cina) ketika menunggu pesawat yang delay di bandara lampung. dia adalah seorang manajer menengah di suatu perusahaan perkebunan yang tak terlalu besar. dia cerita tentang pekerjaannya, pendidikannya, keluarganya, sampai kekasihnya. dan delay 3 jam saat itu tak berasa. umumnya, dalam percakapan yang hangat, saya akan terhanyut sangat dalam dan mengecek hp adalah hal paling tidak menarik saat itu. yang pasti, saya selalu mendapat hal-hal yang menginspirasi. 'cos there's no exactly same life path everyone has chosen, right? and our life can't be enriched by so many experiences by doing whole of that shit in whole of 24 x 7 daily life. that's what 'sharing' and 'book' are for.

beberapa hari terakhir saya ngobrol cukup lama dengan seorang bapak yang cukup tua. saat itu saya sedang menyalakan rokok di meja makan di kantin kampus dan beliau ijin ikutan duduk di tempat saya lalu langsung bertanya apakah boleh merokok disini. tentu boleh. lihat saja puntung-puntung di tanah, kubilang, itu preseden.

beliau adalah peneliti bebas yang saat itu sedang proyek di LPEM (Lembaga Penelitian Ekonomi Masyarakat) UI--salah satu list tempat yang kemungkinan ingin saya masuki, karena banyak orang-orang yang saya hebat yang keluar dari sana, diantaranya Sri Mulyani, Faisal Basri, dan Chatib Basri. tentu saya menggali banyak tentang lembaga itu darinya; karir, beasiswa, dan hal-hal santai ala bapak-bapak di warung kopi seperti seperti politik, konflik sosial. kebetulan si bapak ini punya latar akademis sosiologi. dan saat itulah saya menyadari kalau regresi-regresi ekonometrik, bahkan yang meliputi masalah sosial, harus mengalami proses analisa sosial, karena analisa sosial lah yang akan mencarikan variabel-variabel eksogen yang ingin dilihat pengaruhnya. analisa soisal lah yang akan menarik kausalitasnya. semacam ditampar untuk tersadar bahwa masih relevannya pengukuran kualitatif, alih-alih saya lebih merasa bahwa pengukuran kuantitatif adalah yang paling akademis.

saya sendiri menilai kalau saya adalah pendengar yang baik. mungkin karena modus ingin menggali karakter itu ya, selain memang saya menjunjung etika. atau mungkin saya sudah melewati 'ujian mendengar' dari masa lalu hahaha (*topik lokal dan terbatas). ketika bicara santai, saya hanya memandang mata lawan bicara saat mendengar. lalu saya mengawangkan mata ketika giliran saya yang bicara. lebih memberi keleluasaan untuk berpikir saja. kecuali dengan orang yang tak biasa, spesial? seperti beberapa minggu lalu.

juga dengan sahabat dekat. walau sebenarnya saya secara prinsip belum punya sahabat. kalau bro ada. sahabat itu seperti orang imajiner yang ada kalau bisa tetap disamping kita disaat kita dalam jatuh sejatuh-jatuhnya. sementara saya tak pernah merasa jatuh separah itu, maka saya masih menganggap itu sebagai orang imajiner yang (belum) ada di dunia ini. tapi untuk beberapa bro saya tentu obrolan-obrolan eksklusif dan mematikan akan menemani waktu yang tak pernah terasa oleh cepat habisnya rokok dan kopi kita.

hey. kapan kita bicara lagi.








Friday, 20 January 2012

Berdaya Bareng-Bareng

Gandaria Tengah, Jakarta. Sekitar jam 10-an siang waktu itu. Akhirnya sampai juga ke tempat perjuangan ini. Ku parkir motor di depan rumah tersebut. Ku masuki rumah itu. Tampak dua orang sedang ngopi dan ngerokok bareng. Tampaknya obrolan serius. Sebagai tamu, saya pasang muka ramah.

"Oiya ada apa mas?"
"Ini sekretariat Faisal Basri?"
"Iya bener mas. Ada yang bisa dibantu mas?"
"Saya mau jadi volunteer."

Sekilas mereka melihatku tampak agak aneh. Selanjutnya mereka menanyakan siapa yang mengajak ke tempat ini, maupun tahu dari mana tempat ini. Saya tak kepikiran ide apapun selain mengatakan apa adanya: saya datang sendiri atas kemauan sendiri. Tak ada ajakan. Tak ada bantuan. Saya cuma melihat adanya aroma kebenaran dalam perjuangan ini.

Figur

Sebelumnya saya tertarik ketika mengikuti perkembangan Faisal Basri, seorang bakal calon gubernur Jakarta melalui jalur independen, dalam twitter @faisalbiem maupun websitenya, http://faisal-biem.com yang membuka pintu lebar-lebar untuk relawan dan donasi suka rela. Saya tak pernah melihat bentuk gerakan politik lebih bersih daripada ini--di Indonesia. Mereka modal niat lalu meminta 'saweran' seikhlasnya dengan memberikan nomor rekening, dan mencari sukarelawan yang mau tidak dibayar untuk bekerja keras. Sebuah gerakan yang mengaku bernama 'gerakan politik' ketika kita semua sudah 'menyerah' terhadap cuci otak realitas dimana 'politik=uang'.

Semboyan tim ini 'Berdaya Bareng-Bareng'. Berdaya bareng-bareng melawan hagemoni partai politik yang dititipkan cukong-cukong serakah. Di sini siapapun bisa menyumbang, berapapun jumlahnya. Mau satu juta, mau seratus ribu, bahkan di sekretariat ada 'kotak amal' untuk yang menyumbang recehan. yang mau jadi sukarelawan tinggal bawa badan. Sekedar kopi/teh dan makan siang siap menyambung semangat. 

Beribu KTP masuk tiap harinya, hasil 'kolekan' dari tiap pos-pos yang tersebar di tiap kelurahan di Jakarta--tanpa 'ongkos pelicin' . Tokoh-tokoh masyarakat silih berganti mengunjungi rumah perjuangan sekedar mengobrol santai menyambung silaturahmi maupun menyatakan dukungan untuk membantu gerakan. Bagiku, sebuah sekolah politik gratis bagi siapapun yang bermimpi tentang berpolitik yang benar.

Tentu saya tak semudah itu merelakan waktu dan tenaga untuk orang yang tak jelas seperti apa dia. saya memang tak mengenal Bang Faisal--sebagaimana dipanggil, tapi era informasi saya rasa cukup untuk melihat bagaimana rekam jejak seseorang. Beliau adalah cucu dari Adam Malik, mantan menteri luar negeri Indonesia era Sukarno. Beliau dosen ekonomi di Universitas Indonesia sekaligus pernah menjadi Sekjen Partai Amanat Nasional saat pertama kali didirikan. Begitu anda membuka websitenya maka anda akan menemukan testimoni tentang bersihnya beliau, dan ketika anda ke rumah perjuangan, anda akan melihat 'orang biasa' yang mampir dan selalu sibuk kedatangan tamu.

Konten 

Tak perlu saya cerita tentang visi dan misinya. semuanya ada di website. secara keseluruhan, programnya adalah program yang berbau kerakyatan. Mulai dari masalah banjir, ruang terbuka hijau, transportasi. Semua berbau 'kebutuhan rakyat' alih-alih biasanya kita melihat 'pembangunan Jakarta yang megah: bangun mall sebanyak-banyaknya'. Sekali lagi, visi misi memang terkadang 'menipu' maka saya sarankan anda melihat jejak rekam seseorang sebelumnya.

Terus terang saya belum benar-benar bekerja di Tim Faisal-Biem ini (Biem adalah bakal calon wakil gubernur beliau, anak Benyamin Suaeb, legenda Betawi--merupakan pengusaha pemilik Ben's FM). Saat pertama kali datang saya ditawari sebagai penggerak mahasiswa--melihat usia saya yang masih muda sehingga saya 'punya tampang' untuk itu--dan masih 'segar' dalam kemahasiswaan. Pernah pula sebagai staf media. Karena saya memiliki keterbatasan ruang dan waktu, mengingat saya ada bisnis di Bandung dan jarak rumah perjuangan yang jauh dari rumah saya.

Saya tinggal di Sawangan, Depok dan bukan warga DKI Jakarta. Karena tak punya suara untuk memilihnya, saya cari cara lain untuk berkontribusi. Dan saya tak sendiri. Rupanya banyak juga yang bukan warga Jakarta, bahkan kerja full-day namun selalu menyempatkan sore hari membantu pekerjaan. hebat.

Keseharian di rumah perjuangan memang tak bisa diprediksi. Begitu dinamis hingga tak ada waktu yang jelas mengenai kapan suatu acara (biasanya kunjungan ke luar maupun orang luar yang bertamu). terkadang sekretariat kosong melompong, tapi yang pasti malam selalu ramai. Belakangan saya tahu sunyinya karena semalaman rapat hingga subuh.  

Wind of Change

Seperti judul lagu Scorpions, Wind of Change, gerakan ini adalah angin perubahan yang mampu mengubah wajah perpolitikan Indonesia hingga 180 derajat. Dari uang segalanya menjadi niat baik yang utama. Dari berhutang pada pemodal menjadi berhutang pada rakyat. Dari disetir parpol menjadi disetir rakyat. Dari tersandera kepentingan menjadi tersandera konstituen.

Dan anda tahu dimana ini terjadi? Jakarta. Ibu kota negara. Kota yang selalu terekspos di headline surat kabar nasional. Kota yang 90 % wajahnya muncul sepanjang hari di TV rumah anda.

Virus ini akan menjalar cepat. Dalam suatu wabah.

Wabah yang akan mengancam kepercayaan terhadap partai politik. Sesuatu yang akan menjadi alternatif pilihan bagi rakyat Indonesia di seberang sana maupun sana, atau mungkin suatu saat jadi satu-satunya pilihan--bagi mereka yang eneg dengan kebusukan partai politik.

Tentu partai politik akan kebakaran jenggot. mereka akan mempersulit jalan ini sebisa mungkin. Mereka akan  menebar paku, membuat portal penghalang, bahkan menyodorkan meriam untuk perjalanan perubahan ini. Namun  tak ada yang perlu ditakuti, ketika rakyat yang mengawal, bukan pengusaha. Dikawal oleh keringat-keringat perjuangan pengumpulan KTP mereka, berhutang pada duit-duit saweran mereka, dan dengan koordinasi yang matang, setengah juta warga Jakarta bukan hal mustahil untuk digerakkan.

Saya tak tahu akan seperti apa nanti jadinya. Tapi skenario yang saya harapkan adalah suatu saat yang terpilih adalah yang menjalankan amanah rakyat, baik independen maupun parpol. Kemenangan independen di ibu kota akan menjadi oto-kritik bagi parpol untuk bertanya pada diri mereka sendiri untuk siapa seharusnya mereka berpihak. Siapapun sudah bosan dengan superioritas parpol yang kerjanya tak lebih dari mengumpulkan kesejahteraan golongan. cih.

Tentu jalan masih panjang. rintangan menghadang. Namun untuk berbuat benar, apa yang ditakutkan?



 Rumah Perjuangan, Tebet Barat 23

Bang Faisal dan Iwan Fals (sumber: faisal-biem.com)




***
jam 7-an semalam begitu sayamembaca twit Bang Faisal tentang keberhasilan tim Faisal-Biem mencapai batas minimum fotocopy KTP dan lembar dukungan sesuai yang disyaratkan untuk menjadi calon gubernur dari jalur independen. saya sms Nurul, teman di rumah perjuangan sekaligus reporter yang selalu mengikuti gerilya Bang Faisal dan Bang Biem, saya ucapkan rasa syukur dan doa untuk melanjutkan perjuangan. Alhamdulillah dia menelpon balik dan mengucapkan terima kasih dan kami saling menyemangati untuk 'revolusi' ini. terasa sangat menghangatkan, mengingat saya sudah lama sekali tak kesana dan masih 'dianggap'. terus berjuang, kawan.