Friday, 20 January 2012

Berdaya Bareng-Bareng

Gandaria Tengah, Jakarta. Sekitar jam 10-an siang waktu itu. Akhirnya sampai juga ke tempat perjuangan ini. Ku parkir motor di depan rumah tersebut. Ku masuki rumah itu. Tampak dua orang sedang ngopi dan ngerokok bareng. Tampaknya obrolan serius. Sebagai tamu, saya pasang muka ramah.

"Oiya ada apa mas?"
"Ini sekretariat Faisal Basri?"
"Iya bener mas. Ada yang bisa dibantu mas?"
"Saya mau jadi volunteer."

Sekilas mereka melihatku tampak agak aneh. Selanjutnya mereka menanyakan siapa yang mengajak ke tempat ini, maupun tahu dari mana tempat ini. Saya tak kepikiran ide apapun selain mengatakan apa adanya: saya datang sendiri atas kemauan sendiri. Tak ada ajakan. Tak ada bantuan. Saya cuma melihat adanya aroma kebenaran dalam perjuangan ini.

Figur

Sebelumnya saya tertarik ketika mengikuti perkembangan Faisal Basri, seorang bakal calon gubernur Jakarta melalui jalur independen, dalam twitter @faisalbiem maupun websitenya, http://faisal-biem.com yang membuka pintu lebar-lebar untuk relawan dan donasi suka rela. Saya tak pernah melihat bentuk gerakan politik lebih bersih daripada ini--di Indonesia. Mereka modal niat lalu meminta 'saweran' seikhlasnya dengan memberikan nomor rekening, dan mencari sukarelawan yang mau tidak dibayar untuk bekerja keras. Sebuah gerakan yang mengaku bernama 'gerakan politik' ketika kita semua sudah 'menyerah' terhadap cuci otak realitas dimana 'politik=uang'.

Semboyan tim ini 'Berdaya Bareng-Bareng'. Berdaya bareng-bareng melawan hagemoni partai politik yang dititipkan cukong-cukong serakah. Di sini siapapun bisa menyumbang, berapapun jumlahnya. Mau satu juta, mau seratus ribu, bahkan di sekretariat ada 'kotak amal' untuk yang menyumbang recehan. yang mau jadi sukarelawan tinggal bawa badan. Sekedar kopi/teh dan makan siang siap menyambung semangat. 

Beribu KTP masuk tiap harinya, hasil 'kolekan' dari tiap pos-pos yang tersebar di tiap kelurahan di Jakarta--tanpa 'ongkos pelicin' . Tokoh-tokoh masyarakat silih berganti mengunjungi rumah perjuangan sekedar mengobrol santai menyambung silaturahmi maupun menyatakan dukungan untuk membantu gerakan. Bagiku, sebuah sekolah politik gratis bagi siapapun yang bermimpi tentang berpolitik yang benar.

Tentu saya tak semudah itu merelakan waktu dan tenaga untuk orang yang tak jelas seperti apa dia. saya memang tak mengenal Bang Faisal--sebagaimana dipanggil, tapi era informasi saya rasa cukup untuk melihat bagaimana rekam jejak seseorang. Beliau adalah cucu dari Adam Malik, mantan menteri luar negeri Indonesia era Sukarno. Beliau dosen ekonomi di Universitas Indonesia sekaligus pernah menjadi Sekjen Partai Amanat Nasional saat pertama kali didirikan. Begitu anda membuka websitenya maka anda akan menemukan testimoni tentang bersihnya beliau, dan ketika anda ke rumah perjuangan, anda akan melihat 'orang biasa' yang mampir dan selalu sibuk kedatangan tamu.

Konten 

Tak perlu saya cerita tentang visi dan misinya. semuanya ada di website. secara keseluruhan, programnya adalah program yang berbau kerakyatan. Mulai dari masalah banjir, ruang terbuka hijau, transportasi. Semua berbau 'kebutuhan rakyat' alih-alih biasanya kita melihat 'pembangunan Jakarta yang megah: bangun mall sebanyak-banyaknya'. Sekali lagi, visi misi memang terkadang 'menipu' maka saya sarankan anda melihat jejak rekam seseorang sebelumnya.

Terus terang saya belum benar-benar bekerja di Tim Faisal-Biem ini (Biem adalah bakal calon wakil gubernur beliau, anak Benyamin Suaeb, legenda Betawi--merupakan pengusaha pemilik Ben's FM). Saat pertama kali datang saya ditawari sebagai penggerak mahasiswa--melihat usia saya yang masih muda sehingga saya 'punya tampang' untuk itu--dan masih 'segar' dalam kemahasiswaan. Pernah pula sebagai staf media. Karena saya memiliki keterbatasan ruang dan waktu, mengingat saya ada bisnis di Bandung dan jarak rumah perjuangan yang jauh dari rumah saya.

Saya tinggal di Sawangan, Depok dan bukan warga DKI Jakarta. Karena tak punya suara untuk memilihnya, saya cari cara lain untuk berkontribusi. Dan saya tak sendiri. Rupanya banyak juga yang bukan warga Jakarta, bahkan kerja full-day namun selalu menyempatkan sore hari membantu pekerjaan. hebat.

Keseharian di rumah perjuangan memang tak bisa diprediksi. Begitu dinamis hingga tak ada waktu yang jelas mengenai kapan suatu acara (biasanya kunjungan ke luar maupun orang luar yang bertamu). terkadang sekretariat kosong melompong, tapi yang pasti malam selalu ramai. Belakangan saya tahu sunyinya karena semalaman rapat hingga subuh.  

Wind of Change

Seperti judul lagu Scorpions, Wind of Change, gerakan ini adalah angin perubahan yang mampu mengubah wajah perpolitikan Indonesia hingga 180 derajat. Dari uang segalanya menjadi niat baik yang utama. Dari berhutang pada pemodal menjadi berhutang pada rakyat. Dari disetir parpol menjadi disetir rakyat. Dari tersandera kepentingan menjadi tersandera konstituen.

Dan anda tahu dimana ini terjadi? Jakarta. Ibu kota negara. Kota yang selalu terekspos di headline surat kabar nasional. Kota yang 90 % wajahnya muncul sepanjang hari di TV rumah anda.

Virus ini akan menjalar cepat. Dalam suatu wabah.

Wabah yang akan mengancam kepercayaan terhadap partai politik. Sesuatu yang akan menjadi alternatif pilihan bagi rakyat Indonesia di seberang sana maupun sana, atau mungkin suatu saat jadi satu-satunya pilihan--bagi mereka yang eneg dengan kebusukan partai politik.

Tentu partai politik akan kebakaran jenggot. mereka akan mempersulit jalan ini sebisa mungkin. Mereka akan  menebar paku, membuat portal penghalang, bahkan menyodorkan meriam untuk perjalanan perubahan ini. Namun  tak ada yang perlu ditakuti, ketika rakyat yang mengawal, bukan pengusaha. Dikawal oleh keringat-keringat perjuangan pengumpulan KTP mereka, berhutang pada duit-duit saweran mereka, dan dengan koordinasi yang matang, setengah juta warga Jakarta bukan hal mustahil untuk digerakkan.

Saya tak tahu akan seperti apa nanti jadinya. Tapi skenario yang saya harapkan adalah suatu saat yang terpilih adalah yang menjalankan amanah rakyat, baik independen maupun parpol. Kemenangan independen di ibu kota akan menjadi oto-kritik bagi parpol untuk bertanya pada diri mereka sendiri untuk siapa seharusnya mereka berpihak. Siapapun sudah bosan dengan superioritas parpol yang kerjanya tak lebih dari mengumpulkan kesejahteraan golongan. cih.

Tentu jalan masih panjang. rintangan menghadang. Namun untuk berbuat benar, apa yang ditakutkan?



 Rumah Perjuangan, Tebet Barat 23

Bang Faisal dan Iwan Fals (sumber: faisal-biem.com)




***
jam 7-an semalam begitu sayamembaca twit Bang Faisal tentang keberhasilan tim Faisal-Biem mencapai batas minimum fotocopy KTP dan lembar dukungan sesuai yang disyaratkan untuk menjadi calon gubernur dari jalur independen. saya sms Nurul, teman di rumah perjuangan sekaligus reporter yang selalu mengikuti gerilya Bang Faisal dan Bang Biem, saya ucapkan rasa syukur dan doa untuk melanjutkan perjuangan. Alhamdulillah dia menelpon balik dan mengucapkan terima kasih dan kami saling menyemangati untuk 'revolusi' ini. terasa sangat menghangatkan, mengingat saya sudah lama sekali tak kesana dan masih 'dianggap'. terus berjuang, kawan.