Sunday, 4 November 2012

Bicara Tentang Bicara

bicara tentang bicara, saya langsung melayang terpikir ibu saya yang dianugerahi tuhan kemampuan berteman yang sangat kuat, terlalu kuat malah. mama (begitu saya memanggilnya) bisa mengajak ngobrol seseorang saat mengantri, walau cuma 5 menit, lalu menjadi akrab seperti tetangga sebelah rumah. mungkin lingkungan masa kecil di cikini yang 'rapat' cukup membentuk mama menjadi orang yang mudah bosan kalau tak bicara barang 15 menit saja. hal yang tak menurun ke ketiga anaknya, sama halnya dengan kemampuan menawarnya yang sadis.

saya sendiri mulai berani 'bicara' saat awal-awal masuk kuliah. dalam suatu resolusi tidak tertulis saya menjadikan momen masuk ITB sebagai momen untuk melakukan beberapa perubahan, diantaranya menjadi lebih 'bicara' dari sebelumnya. hasilnya, saya suka memaksakan memberanikan diri untuk bertanya langsung ke dosen kalkulus, mencoba mengobrol dengan siapapun di sebelah saya saat di travel, bertanya ketika pendidikan unit, sampai bertanya saat presentasi acara di himpunan. suara bergetar dan suara tak keluar itu biasa (ya, seperti geek-geek looser di film-film remaja Amerika yang harus bicara dengan cewek yang mereka sukai).

tapi bukan soal keberanian berbicara yang ingin saya bicarakan. lebih ke kebiasaan berbicara spontan terhadap orang-orang yang tidak kita kenal. saya menyadari, semakin sering berbicara, semakin kita memanusiawikan diri kita, juga membawa orang sekitar kita ke zona manusiawi kita.

saya pribadi juga bukan orang yang memaksakan untuk bicara dengan orang asing. tapi ketika seseorang sudah membuka, saya cenderung akan melanjutkan. mengalir, alami saja. tak perlu dipaksa kalau sedang malas, atau bad mood

yang paling saya suka dari percakapan dengan orang asing adalah ketika saya mengukur pengetahuan saya tentang bidang yang dibidangi lawan bicara saya. mengukur pengetahuan sendiri adalah hal semacam insting yang saya lakukan. juga menjadi kelihatan pintar, adalah hal yang sukai. oh ya, juga mengetes kemampuan humor. saya suka menggali karakter orang lalu menyiapkan humor yang sesuai dengan karakternya. kelihatan rumit dan mempersulit diri sendiri tapi ini saya sukai. 

saya pernah bicara dengan seorang cina (maksudnya keturunan cina) ketika menunggu pesawat yang delay di bandara lampung. dia adalah seorang manajer menengah di suatu perusahaan perkebunan yang tak terlalu besar. dia cerita tentang pekerjaannya, pendidikannya, keluarganya, sampai kekasihnya. dan delay 3 jam saat itu tak berasa. umumnya, dalam percakapan yang hangat, saya akan terhanyut sangat dalam dan mengecek hp adalah hal paling tidak menarik saat itu. yang pasti, saya selalu mendapat hal-hal yang menginspirasi. 'cos there's no exactly same life path everyone has chosen, right? and our life can't be enriched by so many experiences by doing whole of that shit in whole of 24 x 7 daily life. that's what 'sharing' and 'book' are for.

beberapa hari terakhir saya ngobrol cukup lama dengan seorang bapak yang cukup tua. saat itu saya sedang menyalakan rokok di meja makan di kantin kampus dan beliau ijin ikutan duduk di tempat saya lalu langsung bertanya apakah boleh merokok disini. tentu boleh. lihat saja puntung-puntung di tanah, kubilang, itu preseden.

beliau adalah peneliti bebas yang saat itu sedang proyek di LPEM (Lembaga Penelitian Ekonomi Masyarakat) UI--salah satu list tempat yang kemungkinan ingin saya masuki, karena banyak orang-orang yang saya hebat yang keluar dari sana, diantaranya Sri Mulyani, Faisal Basri, dan Chatib Basri. tentu saya menggali banyak tentang lembaga itu darinya; karir, beasiswa, dan hal-hal santai ala bapak-bapak di warung kopi seperti seperti politik, konflik sosial. kebetulan si bapak ini punya latar akademis sosiologi. dan saat itulah saya menyadari kalau regresi-regresi ekonometrik, bahkan yang meliputi masalah sosial, harus mengalami proses analisa sosial, karena analisa sosial lah yang akan mencarikan variabel-variabel eksogen yang ingin dilihat pengaruhnya. analisa soisal lah yang akan menarik kausalitasnya. semacam ditampar untuk tersadar bahwa masih relevannya pengukuran kualitatif, alih-alih saya lebih merasa bahwa pengukuran kuantitatif adalah yang paling akademis.

saya sendiri menilai kalau saya adalah pendengar yang baik. mungkin karena modus ingin menggali karakter itu ya, selain memang saya menjunjung etika. atau mungkin saya sudah melewati 'ujian mendengar' dari masa lalu hahaha (*topik lokal dan terbatas). ketika bicara santai, saya hanya memandang mata lawan bicara saat mendengar. lalu saya mengawangkan mata ketika giliran saya yang bicara. lebih memberi keleluasaan untuk berpikir saja. kecuali dengan orang yang tak biasa, spesial? seperti beberapa minggu lalu.

juga dengan sahabat dekat. walau sebenarnya saya secara prinsip belum punya sahabat. kalau bro ada. sahabat itu seperti orang imajiner yang ada kalau bisa tetap disamping kita disaat kita dalam jatuh sejatuh-jatuhnya. sementara saya tak pernah merasa jatuh separah itu, maka saya masih menganggap itu sebagai orang imajiner yang (belum) ada di dunia ini. tapi untuk beberapa bro saya tentu obrolan-obrolan eksklusif dan mematikan akan menemani waktu yang tak pernah terasa oleh cepat habisnya rokok dan kopi kita.

hey. kapan kita bicara lagi.