Wednesday, 19 December 2012

Motorcycle Diaries

bukan, ini bukan post tentang film motorcycle diaries yang menceritakan tentang perjalanan ernesto 'che' guevara, seorang revolusioner kuba. ini tentang sepeda motor dan keseharian kita.

Kilas Balik

sebagai orang yang lahir dan hidup hingga besar di indonesia, saya tahu persis apa itu motor. 'motor' sejujurnya adalah sebutan pendek dari 'sepeda motor', kendaraan sejuta umm--maksud saya ratusan juta umat. 

saya pengguna (baca: bisa mengendarai) motor sejak sma. semacam 'tuntutan profesi' bagi jejaka muda untuk bisa mengendarai sepeda motor saat itu. motor pertama adalah honda karisma. lalu diangkutlah honda karisma itu ke bandung saat saya kuliah di itb. sementara di rumah adik saya dibelikan yamaha vixion, yang saat itu gelombang pertama penjualannya. saya sendiri cukup casual dalam urusan kendaraan, tak peduli model apa selama masih bisa jalan, tak menyusahkan, dan masih dimodalkan orang tua, saya takkan minta macam-macam.

sejak kecil (balita--setidaknya saat saya bisa mengingat apa yang terjadi), ayah saya memiliki mobil, suzuki katana (yang atapnya bocor kalau hujan) saat itu. menaiki motor seseorang selalu jadi kesempatan langka yang tak ingin kulewatkan untuk duduk di depan pengendaranya. ada sensasi berbeda--terutama terpaan angin--saat menaikinya.

sampai saat itu saya merasa tak ada yang salah dengan motor ini.


Saat Ini

sewajarnya barang hasil kapitalisme, motor adalah produk yang akan terus diproduksi selama pendapatan dari penjualannya mampu menutup biaya produksinya. di indonesia, penggunaannya semakin bertambah seiring tingkat kesejahteraan rakyat indonesia yang terus meningkat. pertambahan kelas menengah, kata mereka. sementara itu, proses manufaktur yang semakin ekonomis dan efisien (dengan teknologi dan pembinaan tenaga kerja yang terus berkembang), menciptakan produk dengan cost yang semakin terjangkau. belum lagi kompetisi yang semakin sengit antara komeng dan agnes monica, mengakibatkan perang harga yang terus menguntungkan konsumen. dan jangan lupa kalau kredit motor yang sangat murah memungkinkan hanya dengan setengah juta saja (bisa disisihkan dalam sebulan gaji sebesar umr) kita dapat membawa pulang motor dan menyicil, kalau tidak dikembalikan dlama kondisi kredit macet.

tak ada yang salah dengan mekanisme pasar. mereka yang menghidupi rakyat kita, mereka juga yang menyediakan alat produksi untuk meningkatkan produktivitas rakyat kita. bahkan ketika perkara bagaimana produsen lokal tidak diberi 'napas' untuk berkembang dalam bisnis kita kesampingkan.

kembali ke definisi motor sebagai 'benda', maka kita lah yang mendefinisikannya seperti halnya 'pistol untuk memenangkan perang' atau 'pistol untuk membunuh anak sd tak berdosa', tentu, seperti perumpamaan yang saya ungkapkan, ada peran negara--sebagai otoritas atas segala tindakan kita di bawah kolong langit NKRI--disana. 

sebagai kendaraan pilihan, tak mungkin motor bisa memenangi hati orang indonesia begitu saja. tentu ada hal, baik sistemik maupun insidental yang memberatkan rakyat untuk memilih motor. 

kita tak bisa pungkiri kalau motor sangat fleksibel dalam manuver, memiliki ruang di jalan yang relatif 'negotiable', irit bensin, irit biaya perawatan, tak terlalu bermasalah kalau diserempet sedikit, dan banyak kelebihan lainnya yang tak bisa saya tuliskan satu persatu (life is too short to praise bike). tak ada yang salah sampai--jumlahnya menggila dan tindakannya di jalan semakin semena-mena. 

dari segunung kelebihan motor, tentu motor memiliki kekurangan seperti: jan-ming (hujan minggir--singkatan maksa), menghabiskan waktu dan tenaga untuk produktivitas kerja dan keluarga, serta risiko kecelakaan (dan tak terselamatkan) yang tinggi. saya rasa kekurangan terakhir adalah hal yang harusnya paling disadari, dan sedihnya, paling tidak disadari. 

saya pernah bertanya kepada om saya yang tinggal di singapura, mengenai bermotor di singapura. katanya orang singapura tak banyak yang naik motor bukan karena bensin mahal, harga motol mahal, tapi karena keselamatan yang risikonya tinggi. tentu, kalau kita terapkan peraturan dengan konsekuen (asumsi penegak hukum adil dan tak ada demo vandalis dari teman-teman sekampung si pengendara motor), beberapa kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan motor 'sok jagoan' di jalanan akan mengakibatkan patah tulang untuk pengendara motor, juga kewajiban membayar denda karena mengemudi begajulan, dan kalau tak mampu bayar--penjara. sama halnya dengan korban tabrakan terhadap penyeberang sembarangan, si tertabrak lah yang akan dinyatakan bersalah. maka mengendarai motor dapat dikategorikan 'cari mati'.

sementara itu, yang diberi mandat rakyat untuk mengurusi mereka tak mau serius untuk memanusiakan rakyatnya. dari penulis lahir sampai postingan ini keluar, saya baru melihat jokowi sebagai orang yang mau serius membenahi transportasi massal dalam kapasitasnya sebagai pemimpin daerah. puluhan tahun semenjak kita merdeka kita dididik untuk 'tabah' dalam menjalani kehidupan (juga transportasi massalnya)--alih-alih pemerintah harusnya menyiapkan transportasi massal yang manusiawi dan tepat waktu, minimal terlihat usaha ke arah situ.

dampak ketidakberpihakan (terhadap transportasi massal) ini bercabang menjadi dua, ketika perekonomian maju pesat. yang kaya, membeli mobil, bahkan melebihi jumlah anggota keluarganya plus anjing-anjing peliharaannya. mobil selain menjadi alat transportasi yang nyaman (karena dirawat sendiri), juga menjadi parameter prestise, bagi kelas pucuk piramida maslow ini. sementara itu, yang miskin (dalam standar perekonomian maju), membeli motor, karena secara perhitungan harian bensin Rp. 4500 cukup untuk bolak balik ngantor dibanding naik bus-mikrolet sambung-menyambung. dimodif sedikit knalpot, velg, dan lampunya rasanya juga sudah meningkatkan prestise bagi pemiliknya. itu versi mereka ya, bukan saya. 

walau bercabang dua, keduanya berujung sama, malapetaka. prediksi yang didengungkan sejak beberapa tahun lalu kalau jakarta (asumsi tidak ada penambahan jalan) akan lumpuh total 2014 (cmiiw) memang seakan semakin dekat. saya yakin kota besar lainnya yang walikotanya 'tidur' akan mengalami hal serupa. saya dan papa saya suka mengistilahkannya 'pemerintah tak mampu mengejar kesejahteraan rakyat'. 

sekarang kita kembali fokuskan ke motor. saya pribadi berpikiran kalau ketidaksiapan menghadapi 'bom motor' ini sudah mengorbankan karakter ketimuran kita. dulu pas saya masih kecil saya baca bobo masih sering disinggung kalau orang indonesia ramah-ramah. sekarang? mari kita lihat perilaku bermotor yang saya amati sehari-hari. 

  • berhenti di depan garis lampu merah, yang notabenenya adalah zebra cross untuk menyeberang pejalan kaki, bahkan ada yang jauh ke depan sampai 7 meter di depan zebra cross
  • tidak memakai helm di jalan raya. peci kadang lebih ampuh.
  • memakai bahu jalan untuk melawan arah jalan. sangat. tidak. beradab.
  • memasuki jalur busway
  • knalpot super berisik, bertanggung jawab terhadap gangguan tidur mereka yang bertempat tinggal di pinggir jalan besar.
  • memaksa mengambil jalur arah berlawanan sampai mengakibatkan kendaraan dari jalur berlawanan tak bisa lewat
  • maju sebelum lampu hijau menyala (bahkan masih merah!)
  • menaiki trotoar, sampai mengusir si pengguna sebenarnya, pejalan kaki.
  • tidak menyalakan lampu saat malam.
  • memutar arah sembarangan
rasanya sedikit poin-poin di atas cukup menggambarkan bagaimana tergerusnya karakter kita yang (katanya) ramah itu. rasanya akumulasi himpitan ekonomi, teriknya matahari, dan menjadi mayoritas adalah penyebab 'ganasnya' pengendara motor ini. 

sedikit demi sedikit pun para pengendara motor kian termanjakan dengan 'fleksibilitas mutlak' yang pada akhirnya mematikan akal dan perasaan penggunanya untuk menyerobot hak orang lain dan menganggapnya hal biasa. semakin biasa ketika mereka menjadi mayoritas. polisi pun tak berani menilang. 

dari semua poin di atas, berdasarkan pengamatan seumur hidup, rasanya cuma 'tidak memakai helm' dan 'memutar sembarangan' yang merupakan kebiasaan lama, sisanya adalah 'mutasi genetik' yang terjadi pada gen pengendara motor kita. menjadikannya karakter baru. 

pelanggaran-pelanggaran di atas tentu bukan tidak mendapat tindakan sama sekali dari polisi, sebagai penegak hukum di masyarakat. namun rasanya penegakan yang dilakukan cukup 'setengah hati' (saya sering melihat polisi yang bekerja tidak efisien: tiga orang berdiri saja, melihat, di tengah kemacetan). maksud saya, itu hal kasat mata yang cukup menjustifikasi kalau polisi kita belum total dalam menangani maslaah lalu lintas. dan ketika pelanggaran mendapat excuse waktu ke waktu, maka pelanggaran itu akan menjadi 'hal normal' yang biasa. bahkan non-pelaku bisa saja ikut terbiasa, jika tak terus melawan dalam hatinya, minimal. 



Beralih (Ke) Umum

dengan asumsi manusia sebagai rational agent, sebagai subyek yang secara logika menginginkan hal yang menyenangkan dirinya saja, maka pilihan si manusia untuk memilih berkendara motor adalah utilitas maksimum dari segala kemungkinan moda dan kondisi pembatasnya (waktu tempuh, bensin, penghasilan). sementara dari sisi publik, berkendara motor bukanlah utilitas maksimum bagi efisiensi dan efektivitas perjalanan secara publik, mungkin dalam hal ini diukur dalam jumlah orang yang dipindahkan per satuan waktu. 

maka ketika kita ingin berpihak pada publik (berarti kesampingkan ego pribadi untuk keuntungan yang merata di semua orang), akan didapatkan utilitas individu yang relatif lebih rendah. tetapi secara publik (utilitas total individu-individu) akan lebih menguntungkan. dalam kasus ini, jika para pengendara motor 'tangguh' yang tadinya berebut space kosong antara mobil satu dan mobil lainnya mau beralih ke transportasi umum yang mungkin secara individu akan memperlambat waktu perjalanan dia, maka ke-legowo-annya untuk bertransportasi umum akan mempercepat waktu rata-rata orang lain yang selama ini berkendara umum dan tertutupi oleh kerumunan motor tersebut. sebuah penjelasan secara ekonomi bisa diselidiki via google 'problem of commons'. 

lebih lanjut, jika memang keuntungan publik akan lebih banyak didapatkan jika para pengendara pribadi (mobil dan motor) beralih ke umum, sementara pengendara pribadi, sebagai rational agent memiliki preferensi tersendiri mengenai moda yang paling disukainya, maka tak ada jalan lain selain 'menggembosi' utilitas pribadi tersebut, dan di saat bersamaan menaikkan utilitas kendaraan umum. disinilah 'tangan' pemerintah harusnya bermain, bisa melalui menaikkan harga BBM (menurunkan subsidi), menaikkan pajak kendaraan bermotor, mempertegas hukuman bagi pelanggar, bahkan untuk ekstrimnya, seperti yang teman saya gandrie ceritakan dalam blognya: melarang sama sekali motor masuk kota; sebuah kebijakan di guangzhou, cina. 

sementara itu, menaikkan utilitas kendaraan umum dapat dilakukan dengan memperbarui armada moda jenis lama, menambah fasilitas, menambah armada, menurunkan harga--walaupun dengan tingkat kesejahteraan yang cukup; keinginan untuk membayar warga bisa lebih tinggi sehingga tidak perlu menurunkan harga. dan saya rasa nilai plus dari semua transportasi umum yang baik adalah dua hal: mempersingkat perjalanan dan secara bersamaan memberi kesempatan kita untuk memanfaatkan waktu perjalanan anda untuk hal yang kita sukai. bayangkan kalau kita bisa istirahat lebih lama di rumah dan bisa membaca buku saat di perjalanan. tak ada waktu yang terbuang. 

jika keduanya ('menggembosi' kendaraan pribadi dan 'memoles' kendaraan umum) dilakukan dengan tepat, maka utilitas pengendara pribadi mau tak mau akan bergeser ke utilitas menggunakan kendaraan umum, dimana keputusan untuk menggunakan transportasi umum adalah keputusan yang paling rasional untuk dipilih saat itu. bahasa komersilnya: kita untung, negara untung. 

pun demikian, transformasi yang kita lakukan untuk mempengaruhi orang beralih ke kendaraan umum adalah sesuatu yang 'tangible' atau terlihat, merupakan hal yang cukup mudah untuk dikontrol progresnya. sementara itu transformasi karakter dari karakter 'silakan nilai sendiri dari poin-poin berkendara motor di atas' ke karakter kita semula akan lebih sulit dikontrol karena tidak dapat dilihat kasat mata (intangible) melalui peningkatan penggunaan transportasi umum saja.

pertumbuhan ekonomi memang penting, tapi bukankah keadaban yang mendefinisikan kita sebagai manusia?









(berbagai sumber)





disklaimer:
pengendara motor yang didefinisikan negatif adalah sebagian dari keseluruhan. sedangkan dalam beberapa konteks kalimat merujuk pada keseluruhan pengendara motor.
dan ini adalah blog post, bukan paper ilmiah. 















No comments: