Sunday, 31 March 2013

perang korea II?

dalam beberapa jam yang lalu saya melihat berita terbaru di asia timur: korea utara menyatakan diri dalam status perang dengan korea selatan.

sumber korea utara mengatakan mereka akan melawan provokasi amerika serikat yang telah menerbangkan pesawat silumannya melewati langit korea selatan, dalam suatu latihan bersama. mereka juga menerima kode yang berisi rencana penyerangan dan pemusnahan patung kim il sung.

cukup jauh dari perkiraan saya mengenai nasib korea utara suatu saat nanti. kalau trend yang selama ini terjadi di negara komunis, dimana mereka akan 'menyambung hidup' dalam dua jalan: transformasi menuju keterbukaan (seperti kasus rrc dan vietnam, dimana komunisme tinggal menjadi simbol dan nama partai berkuasa), atau runtuh sama sekali (seperti uni soviet). adapun beberapa rezim seperti kuba dan laos tetap bertahan dengan komunismenya dan hidup damai berdampingan dengan negara yang berseberangan ideologi. dalam hal ini korea utara tidak masuk golongan manapun. karena deklarasi mereka itu.

secara singkat, dari artikel wikipedia yang katanya tidak ilmiah (walau saya melihat banyak kutipan dari buku-buku 'serius'), cerita mengenai pemisahan korea utara dan selatan bermula ketika perang dunia 2 berakhir. ketika perang dunia 2, korea adalah jajahan jepang. praktis, ketika jepang menyerah tanpa syarat setelah bom atom, korea harus diserahterimakan ke sekutu, sebagai pemenang perang. masalah terjadi ketika pada akhir perang korea utara dikuasai uni soviet (komunis) dan korea selatan dikuasai amerika serikat (kapitalis), seperti halnya jerman yang terpisah menjadi barat dan timur. pemilihan umum untuk korea (bersatu) gagal, juga dikarenakan ego masing-masing kekuatan politik di masing-masing kubu. korea utara yang merasa harus menaklukan 'saudaranya' dengan melakukan serangan. amerika serikat, yang punya kepentingan untuk melindungi jepang (sebagai basis militer-ekonomi-politiknya di asia pasifik) merasa harus mengintervensi jangan sampai korea selatan jatuh ke komunis. melalui 'mandat' dari pbb (yang sialnya saat itu soviet sedang memboikot pbb, sehingga resolusi untuk meng-sah-kan invasi tidak terveto) amerika serikat dkk mengirim pasukannya ke semenanjung korea.

perang terjadi antara korea utara yang dibantu tentara pembebasan rrc (dan amunisi dari soviet) melawan korea selatan (yang secara persiapan militer kalah, namun menerima 'subsidi' dari as). tidak seperti vietnam (dimana komunis dapat melahap si kapitalis), perang berakhir dengan 'remis' dimana pada akhirnya keduanya melakukan gencatan senjata dan membangun dmz (de-military zone) sebagai daerah bebas militer selebar 4 km sepanjang perbatasan.

apa yang tersisa?


membandingkan ekonomi kedua negara seperti membandingkan berkendara dengan becak dan ferrari. ekonomi terpusat ala komunisme korea utara tidak membawa peningkatan ekonomi yang signifikan, malah terjadi bencana kelaparan di korut. selain itu ketertutupan dalam perdagangan juga menyengsarakan rakyatnya, dan memaksa mereka untuk berjuang sendiri (seperti iran). sementara itu korea selatan saat ini telah menjadi negara kapitalis maju dengan berjejer perusahaan internasional.

tentu perlambatan perkembangan ekonomi korut juga disebabkan oleh bubarnya uni soviet, penyumbang dana terbesar mereka. hal yang mungkin dirasakan semua negara komunis di 90-an awal. 

karena mereka semula berasal dari negara yang sama, gen yang sama, derita penjajahan yang sama, maka cukup mengagetkan perubahan ekonomi diantara keduanya sangat signifikan. memang, ekonomi kolektif ala mao mengakibatkan stagnansi akut dalam ekonomi, sehingga dulu negara sekomunis cina harus membuka tirainya untuk masuknya modal-modal kapitalis, dan akan melampaui ekonomi amerika serikat dalam beberapa tahun ke depan. sementara itu, mental pekerja keras putra-putri korsel membuahkan hasil manis berupa meningkat pesatnya ekonomi negara itu.

dari sisi korea utara


menonton film-film propaganda korea utara sangatlah menarik. beberapa lucu, namun ada pula yang menyadarkan secara manusiawi mengapa mereka bisa seperti itu.

1. kembali ke sejarah. rakyat korea utara 'memenangi perang' yang setidaknya menunjukkan bahwa 'imperialis' amerika tak mampu bercokol di negaranya. kemenangan mengusir 'penjajah' amerika tentu meyakinkan mereka kalau mereka mampu melawan. mereka begitu sadar bahwa 'imperialis' adalah setan yang harus mereka perangi di dunia. ini berlaku secara universal di setiap negara komunis pada saat usaha kemerdekaannya. belum lagi solidaritas komunis internasional (comintern) yang selalu menunjukkan dukungan untuk setiap bangsa melepaskan diri dari belenggu penjajahan.

2. saya yakin kalau bapak bangsa, kim il sung (tidak untuk anak dan cucunya) adalah seorang yang besar bagi rakyatnya, atau mungkin bagi dunia. sukarno adalah salah satu teman dekat kim il sung. ada bunga anggrek bogor pemberian sukarno dan diberi nama kimilsungia sebagai tanda persahabatan. tentu, arah politik sukarno yang kekirian juga merupakan faktor pemersatu mereka, walau sebenarnya mudah saja menjadi kawan dekat sukarno: anti kolonialisme. bukti yang masih terlihat dari persahabatan itu di indonesia mungkin tetap berdirinya kedubes korea utara di indonesia, walau tekanan dunia internasional sedang sedemikian hebatnya ke korut. hal yang tidak dimiliki taiwan dan israel sekalipun.

dan memang kim il sung pantas mendapatkannya. mempertahankan kedaulatan negara, melawan penjajah, dan memenanginya adalah pencapaian yang tidak megherankan untuk diganjar dengan kehormatan abadi, terlebih di negara komunis. adalah hal biasa kultus individu dalam komunisme (seperti soviet ke lenin dan stalin), maka tak heran pula jika kita dari bandara pyongyang dan  menjejakan kaki yang pertama kali dilakukan adalah membeli bunga persembahan untuk 'pemimpin besar' lalu berfoto di depan monumen 'pemimpin besar' (tak boleh ada bagian tubuh pemimpin besar yang terpotong).

3. seperti halnya negara komunis yang 'mutlak', pintu informasi tertutup rapat-rapat dari korea utara. hubungan paling dekat adalah dengan rrc, rusia, dan beberapa negara komunis lainnya. ketertutupan ini yang juga memperkuat doktrinasi dan propaganda pemimpin korea utara terhadap rakyatnya. kultus individu begitu kuat, sehingga tiap pagi mereka mendengarkan melalui pengeras suara seantero kota propaganda untuk pengabdian kepada pemimpin besar, menonton acara tv yang menyiarkan upacara militer korea utara tiap hari, memasang foto kim il sung dan kim jong il di rumah. anak-anak di sekolah ditanamkan kebencian terhadap 'US Imperialist'. dalam beberapa wawancara ke warga korea juga terlihat bagaimana kata 'pemimpi besar' tak pernah terlewatkan oleh mereka. ada suatu dokumentasi ketika donor internasional melakukan operasi katarak massal. dalam satu tayangan ketika mereka semua secara bersama-sama dibuka perban hasil operasinya dan mampu melihat kembali, hal yang pertama kali mereka lakukan adalah sujud-sujud dan menangis histeris ke depan foto 'pemimpin besar', mensyukuri 'karunianya'.

memang sudah pasti ada fear factor yang mendominasi mereka dalam bicara (apalagi ke tv luar), berbuat, dan berinteraksi. sebagai anak yang pernah merasakan jaman suharto saya merasakan itu juga (tentu dalam taraf yang lebih rendah). namun tetap saya terkesima bagaimana mereka begitu lihainya membuat rezim yang 'tidak memberi sedikit pun celah untuk revolusi'. sepengetahuan saya dimana kekuasaan akan berakhir (setidaknya terusik) jika rakyat sudah kelaparan, tidak berlaku disini. yang terjadi (dalam pengakuannya) mereka menerima itu dengan ikhlas dan malah mencari-cari sesuatu untuk dimakan seperti rumput dan daun-daunan. kamp kerja paksa, kemiskinan, diskriminasi keturunan, tentu hal yang menghinggapi mayoritas warga korea utara. banyak diantaranya ingin keluar dan mencari penghidupan yang lebih layak.

4. kombinasi rezim militer yang kuat, dimana pemimpin memberikan 'privilege' kepada petinggi-petinggi militer membuat rezimnya kebal kudeta. ditambah informasi tentang keadaan di luar yang terkunci rapat-rapat, maka rakyat tak punya motivatisi tambahan akan adanya kehidupan yang lebih baik di luar sana, atau bahkan tentang informasi mengenai adanya revolusi melawan diktator di arab sana.

hal ini lah yang menjadikan korea utara tak punya 'bom waktu'. mereka lancar-lancar saja menjalankan dinasti kim. apalagi dengan anggaran militer (termasuk nuklir) yang luar biasa besarnya, yang sangat strategis untuk mempertahankan kekuasaan. mereka labih memilih membeli tank-tank baru daripada memberi makan jutaan rakyatnya yang kelaparan. cukup tidak manusiawi.

dalam beberapa kasus, rezim diktator akan menerima intervensi dari 'demokrasi' (baca: amerika serikat).  memang sudah lewat era 'perang ideologi' seperti di vietnam, atau jika benar g30s/pki ada campur tangan cia disana. beberapa penumbangan rezim pasca-perang dingin, harus memiliki 'nilai tambah' bagi agresor. seperti saddam hussein yang diruntuhkan dengan dalih 'senjata pemusnah masal', dimana kita sama-sama tahu kalau minyak adalah tujuan strategisnya. mungkin amerika tidak melihat manfaat tambahan untuk menginvasi korea utara (sampai saat ini).

5. yang masih jadi pertanyaan besar di kepala saya adalah: ketika kebanyakan diktator di dunia memiliki kecintaan pada zona nyamannya, dalam hal ini bagaimana diktator-diktator tersebut akan tunduk pada superioritas as, atau minimal tidak mengusiknya. hal yang bertentangan terjadi di korea utara. kebencian mereka tidak berkurang sedikitpun setelah perang. secara frontal mereka berani mengucap akan membom atom amerika serikat.

.

memang sulit untuk menebak apa di balik deklarasi perang kim jong un. sebagai 'raja muda'--berusia 28 tahun--mungkin emosinya belum terlalu stabil. mungkin itu emosi sesaat karena tiba-tiba ayah dan kakeknya merasuki mimpinya untuk membujuknya menghancurkan as. atau memang dia sudah menyiapkan sedemikian rupa segala kebutuhan perang, dimana rezim yang didirikan kakeknya tak lain dan tak bukan untuk 'merebut kembali korea selatan ke pangkuan ibu pertiwi'? atau memberi pelajaran untuk amerika?

secara pribadi, saya melihat hal ini seperti bunuh diri. melawan korsel berarti melawan as. melawan superpower militer satu-satunya di planet ini, teknologi militer nomor satu, yang mungkin mampu mengawasi dari satelitnya tentang apa yang dilakukan kim jong un tiap pagi setelah sarapan di halaman istananya. melawan as, berarti melawan partner dagang terbesar rrc, negara yang menghidupi negaranya. posisi rrc akan sulit, walau secara ekonomi mereka bersahabat dengan as, namun secara ideologis mereka adalah abang dari korea utara. yang pasti tidak akan ada lagi people voluntary army yang akan membantu korea utara, seperti pada perang korea beberapa dekade silam. mungkin kebaikan terbesar yang akan cina lakukan adalah memasok senjata dan kendaraan perang, menganggapnya sebagai uji teknologi perang untuk mempersiapkan diri mereka menjadi superpower kedua di abad ini.

perang memang menyakitkan. namun tampaknya memang itu satu-satunya jalan agar kedua korea ini bersatu. baik jika utara menang, atau jika selatan menang. saya pribadi sangat suka kalau mereka bersatu. seperti menyatukan kedua saudara yang hilang selama puluhan tahun. seperti emosionalnya ketika tembok berlin dihancurkan. tapi sebaik-baiknya penyatuan adalah jalan damai. sau hal perlu diingat, kalau korea utara menang, akan lebih menjadi penderitaan bagi korea selatan. sebaliknya, jika korea selatan menang, akan lebih menjadi keselamatan bagi keduanya. parameternya simpel. banyak orang korea utara yang ingin keluar dari negaranya menuju korea selatan, namun sebaliknya tidak ada. cukup jelas untuk menunjukkan negara mana yang lebih dicintai rakyatnya, secara jujur.

dari sudut pandang indonesia, perang korea akan melemahkan ekonomi asia timur pada khususnya, juga dunia pada umumnya. korea selatan adalah salah satu mitra dagang utama indonesia. kondisi perang akan memberikan shock yang secara proporsi sangat signifikan dalam permintaan industri maupun konsumsi korea terhadap produk indonesia, begitupula terhadap impor barang-barang produksi dari korea ke indonesia. 

dan yang paling menakutkan adalah nuklir. saya takut kalau ada bom atom lagi. pembunuhan terhadap jutaan warga tak berdosa dalam satu ledakan adalah definisi nyata tentang setan di dunia. tak termaafkan. cukup amerika serikat saja yang pernah melakukannya.




kim il sung & sukarno

 apa ini? terowongan kereta bawah tanah. dibuat sangat dalam (110 m di bawah tanah) juga sebagai bunker jika ada serangan nuklir


ryugyong hotel, menjulang menembus langit pyongyang. walau tidak rampung 100%




 ya. mereka memakai petugas pengatur lalu lintas, mempunyai spot sendiri di tengah jalan, dan dipayungi. 

 ini contoh foto di depan 'great leader' yang benar


stadion di pyongyang. salah satu budaya komunis yang saya suka adalah acara yang seperti ini. minim teknologi, smua oleh manusia.