Sunday, 4 May 2014

politik dan ekonomi: tulisan singkat (I)

baru beberapa hari lalu saya relakan 300 ribu dari gaji saya untuk membeli buku tentang dasar politik, mungkin sejarah perkembangn politik tepatnya. judulnya 'the politics book'. mahal memang, tapi entah mengapa saya bangga kalau berhasil memenangkan 'willingness to pay' saya terhadap aset intelektual.

sebagai seorang lulusan s-1 teknik, s-2 ekonomi, dan bekerja di tempat yang mengakomodasi interest pengusaha, saya suka tidak suka mendengarkan dalam banyak diskusi betapa pemerintah memegang peranan yang sangat krusial dalam kesejahteraan rakyat, bahkan dengan sebesar-besarnya ekonomi mengandalkan sektor sawasta.

sebagai pengisi trias politica, pemerintah adalah otoritas yang dipercaya rakyat untuk mampu menerjemahkan kebutuhan rakyat dalam undang-undang, menjalankan yang digariskan undang-undang, dan mengadili jika terdapat pelanggaran dalam pelaksanaan. semua dilakukan untuk dapat mensejahterakan rakyat, sebuah janji yang diikrarkan tahun 1945.

saya baru membaca buku itu belum separuhnya, tapi secara mendasar bisa saya ceritakan bagaimana rakyat bisa disejahterakan.

mari kita mulai dari kebutuhan rakyat akan politik. pada dasarnya, manusia memiliki kebutuhan yang mendasar, yaitu menghidupi dirinya sendiri, dan orang yang dicintainya, terutama keluarga. bagaimana manusia ingin memenuhi kebutuhannya terus mengalami evolusi mengenai kompleksitas kebutuhan itu sendiri. semula manusia cukup puas dengan berburu, lalu dirasa lebih aman jika bertani. lalu manusia mampu menciptakan barang dari tembaga, perak, mulai mencintai sesuatu yang berkilau. tak terhindari, sejarah mencatat manusia mengenal diversifikasi keahlian dan perdagangan. manusia tidak lagi mengandalkan sepenuhnya ladang maupun ternak mereka untuk hidup. menurut pandangan saya, dalam bentuk terprimitif kapitalisme adalah ini:
manusia terlahir untuk merdeka dalam mengenali apa yang mereka miliki, untuk mendediksikan hidup di bidang yang mereka sukai, dan mendapatkan pemenuhan kebutuhan yang mereka inginkan.    
lalu, bagaimana manusia kita posisikan semerdeka itu, dan harus kita posisikan semerdeka itu? tanpa perlu kita atur, manusia secara naluri pasti menginginkan hal itu. manusia akan berkelompok untuk memperjuangkan kesamaan-kesamaan yang mereka miliki. dalam bentuk yang sangat sederhana, garis keturunan, dari nenek moyang yang sama, menentukan kesamaan kepentingan mereka, sebagai suatu 'keluarga besar'. mungkin itu lah bentuk nasionalisme paling primitif.

tak perlu terlalu jauh, 'nasionalisme' kesukuan ini lah yang membentuk suatu sistem kemasyarakatan yang terlegitimasi oleh rakyatnya. perbedaan 'nasionalisme' ini tentu akan saling membenturkan kepentingan masing-masing nation untuk memperjuangkan kepentingan mereka. seringkali, urusan ini berakhir dengan usaha pemberangusan satu atau beberapa nation yang mengganggu kepentingan mereka. itulah yang namanya perang.

dalam tinjauan yang lebih mikro, di dalam sebuah bangsa (nation) sendiri, perbedaan kepentingan tentu sudah ada. petani ingin sejahtera, pandai besi, peternak, dan seniman juga. tapi mereka tidak ingin menumpahkan darah mereka karena mereka yakin mereka adalah saudara. lalu berkembanglah ilmu pengelolaan kepentingan, politik. sistem politik diciptakan untuk mengakomodasi kepentingan-kepentingan manusia secara adil dan bisa dipercaya. lalu lahir lah tata kelola yang harus dihormati untuk kesejahteraan bersama, pemerintah.

dalam bentuk awalnya, pemerintah adalah mandat yang diberikan Tuhan atau pun leluhur pada satu orang yang terpilih, the philosopher. mereka adalah raja, kaisar, atau apa pun namanya yang merupakan lambang keadilan dan perjuangan kepentingan rakyatnya. pada keberjalanannya, mengandalakan satu orang dengan kekuasaan mutlak--karena mandat dari Tuhan--menyebabkan banyak kekecewaan karena kekuasaan yang absolut, akan cenderung bias sehingga malah terlihat mendahulukan para elite, mereka yang dekat dengan kekuasaan. lalu bermunculan lah revolusi-revolusi yang ingin merombak sistem monarki ini menjadi republik, sebuah sistem yang memungkinkan siapa pun, terlepas dari garis keturunannya, untuk bisa dipercaya untuk jalankan amanat rakyat. monarki pun mulai mengurangi kekuasaannya menjadi monarki konstitusional, yang lebih kurang menjadikan raja atau ratu sebagai simbol pemersatu bangsa.

sistem pemerintahan mengalami evousi dan cenderung mengalami konvergensi menjadi trias politica  seperti saat ini. ketiga peran tersebut masih dipercaya sebagai yang terbaik untuk mengakomodasi seluruh interest rakyat banyak. lalu bagaimana dengan kemakmuran rakyat? bagaimana dengan usaha meniadakan kelaparan, menyediakan air bersih untuk semua, dan meningkatkan kesehatan umat manusia? apakah benar-benar pemerintah saja yang mampu memenuhi itu?

bersambung















4 comments:

mallorina said...

Buku tebel yang sampulnya biru bukan, Ntel? Di Gramed kayaknya 300 ribu lebih. Lw beli dimana? Lebih murah gak ? :D

muhammad rizqy anandhika said...

hey vid thx for the visit.. ijo sih.. tp kan byk tema2nya ada business, psychology, economics tp dgn desain yg sama.. mungkin lo inget warna yg lain.. 300an lebih jg beli di periplus sih..

kipashardisk said...

Hehehe. Hello, old friend.

Vidia Hawaria said...

Ah iyaaa! Yang warna biru itu yang temanya ekonomi. Boleh lah to-buy-list gaji bulan depan :D